JOGJA - Perubahan sosial, ekonomi, hingga pesatnya perkembangan teknologi di era disrupsi menuntut generasi muda untuk tidak sekadar unggul secara akademik. Mahasiswa saat ini dihadapkan pada tantangan masa depan yang penuh ketidakpastian, sehingga membutuhkan kreativitas, daya juang, kemampuan adaptasi, serta ketahanan emosional agar mampu bersaing di dunia kerja.
Hal tersebut mengemuka dalam talkshow yang digelar Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia bertema “Menyongsong Peran dan Aksi Nyata Mahasiswa dalam Pemberdayaan Masyarakat”, belum lama ini, di Gedung Djarnawi Hadikusuma Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Baca juga: Peneliti BRIN Ini Raih Gelar Magister UGM pada Umur 68 Tahun dengan IPK 3,98
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan UMY, Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag., menyoroti bahwa periode 2021–2030 diprediksi menghadirkan persaingan individu yang semakin kompetitif. Kondisi tersebut diperberat dengan menyusutnya kelas menengah dan rendahnya kompetensi tenaga kerja yang menjadi tantangan besar bagi Indonesia ke depan.
Menurut Zuly, mahasiswa tidak cukup hanya beradaptasi dengan perubahan zaman, tetapi juga harus berani membangun kapasitas diri untuk menciptakan solusi nyata di tengah masyarakat.
"IPK itu penting, tetapi bukan satu-satunya hal yang bisa diandalkan. Sekarang banyak orang memiliki IPK tinggi, sehingga mahasiswa perlu memiliki kemampuan lain yang membuat dirinya berbeda. Public speaking, kemampuan meyakinkan orang, dan kemampuan menciptakan sesuatu, itulah yang akan dicari,” tegas Zuly.
Zuly juga mendorong mahasiswa untuk menjadi creative minority, yakni kelompok kecil yang berani berpikir kreatif, menghadirkan karya nyata, sekaligus memiliki kepedulian sosial untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Senada dengan hal tersebut, Dosen Ilmu Komunikasi UMY, Frizki Yulianti Nurnisya, S.IP., M.Si., Ph.D., menyebut tantangan mahasiswa saat ini semakin kompleks akibat hadirnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mulai menggantikan pekerjaan repetitif. Di sisi lain, persaingan kerja juga telah terbuka secara global.
"Dunia kerja saat ini mencari adaptability, communication, problem solving, inisiatif, konsistensi, dan emotional resilience atau ketahanan emosional. Di era chaos seperti sekarang, yang bisa bertahan bukan hanya yang paling pintar, melainkan mereka yang adaptif,” ungkap Frizki.
Baca juga: Kisah Amirul Ramli: Mantan Marbot dan Penjual Asongan Malioboro Kini Bergelar Doktor di UMY
Frizki juga menyoroti fenomena mahasiswa yang rentan mengalami overthinking, takut salah jurusan, hingga rapuh secara emosional akibat derasnya arus informasi dan kebutuhan validasi di media sosial. Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun ketahanan emosional dan mulai melakukan perubahan melalui langkah-langkah kecil yang konsisten.
"Cek ketakutan terbesar kalian apa. Kalau takut tidak bisa bahasa Inggris, cari kursus. Kalau terkendala biaya, cari beasiswa. Yang penting tetap progressing, walaupun langkahnya kecil, tetapi dilakukan secara konsisten,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Di Grup WA