Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Arif Havas Oegroseno, S.H., LL.M. (Istimewa)
JOGJA - Dinamika geopolitik global saat ini dinilai semakin kompleks dengan maraknya konflik militer, teknologi, hingga persaingan ekonomi. Menghadapi situasi tersebut, Indonesia dipandang perlu terus memperkuat posisi diplomasi luar negerinya agar semakin diperhitungkan di kancah internasional.
Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Arif Havas Oegroseno, S.H., LL.M., mengungkapkan bahwa telah terjadi pergeseran pola geopolitik yang signifikan sejak era perang dingin hingga era kompetisi teknologi dan ekonomi modern saat ini.
"Jika dahulu persaingan didominasi ideologi, kini teknologi, energi, hingga rantai pasok global menjadi sorotan geopolitik baru. Sekarang semuanya bisa menjadi senjata. Teknologi jadi senjata, semikonduktor jadi senjata, energi jadi senjata," ujar Arif saat mengisi kuliah umum bertajuk “Diplomasi Indonesia dalam Peta Geopolitik Global” di Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), belum lama ini.
Baca juga: Idul Adha 1446 H, UGM Serahkan Dua Sapi Limosin 500 Kg ke Masjid Kampus Hingga Desa Se-DIY
Dalam kesempatan tersebut, Arif menyoroti posisi strategis Indonesia yang kini menjadi pusat perhatian dunia, khususnya terkait isu energi dan mineral kritis (critical minerals). Kekayaan alam seperti nikel hingga bauksit menjadi modal besar RI di tengah transisi energi global.
"Pemerintah kini tengah gencar melakukan kerja sama internasional dengan berbagai negara untuk memperkuat ketahanan di bidang critical risk," katanya.
Lebih lanjut, Arif menjelaskan bahwa ketangguhan diplomasi Indonesia tidak lepas dari konsistensi penerapan prinsip politik luar negeri yang bebas aktif sejak era kemerdekaan.
"Prinsip ini membuat Indonesia tidak terikat pada blok kekuatan atau aliansi militer tertentu, sehingga tetap fleksibel menjalin hubungan baik dengan negara mana pun," jelasnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik UGM, Prof. Ir. Selo, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D., IPU, ASEAN Eng., menekankan bahwa penguatan posisi diplomasi Indonesia bukan hanya tugas diplomatis formal, melainkan juga memerlukan andil dari generasi muda, termasuk kalangan mahasiswa.
Menurut Prof. Selo, pengalaman global seperti program pertukaran pelajar, double degree, hingga magang di luar negeri dapat menjadi jembatan diplomasi yang efektif di tingkat akar rumput.
"Kesempatan-kesempatan seperti double degree atau magang di luar negeri itu, meskipun kecil, juga bisa menjadi satu alat kontrol bagaimana orang Indonesia dipandang di luar negeri," ujar Prof. Selo.
Baca juga: Padi 'Amfibi' Gamagora 7 Diuji di Kaltim, Siap Jadi Solusi Lahan Tadah Hujan?
Ia juga mencontohkan berbagai gejolak dunia hari ini, mulai dari perang Rusia-Ukraina hingga ketegangan yang melibatkan Iran, sebagai refleksi bahwa posisi Indonesia masih harus terus dipompa agar suaranya memiliki dampak yang lebih besar di tingkat global.
"Pak Presiden sudah menyuarakan berbagai isu internasional, tetapi tentu kita bisa menilai sendiri seberapa kuat peran Indonesia didengar dunia. Karena itu kita perlu belajar bagaimana membangun kekuatan diplomasi agar lebih diperhitungkan bangsa lain," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail