JOGJA - Di tengah ancaman perubahan iklim dan urgensi penguatan ketahanan pangan nasional, inovasi varietas padi adaptif kini menjadi tumpuan sektor pertanian. Menjawab tantangan tersebut, Universitas Gadjah Mada (UGM) berkolaborasi dengan Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) Kalimantan Timur dan Pemkab Penajam Paser Utara (PPU) menggelar uji coba varietas padi unggul, Gamagora 7.
Varietas ini dikenal unik karena memiliki kemampuan "amfibi", yakni mampu tumbuh optimal di lahan sawah basah maupun lahan tadah hujan yang cenderung kering.
Inovator di balik pengembangan Gamagora 7, Prof. Taryono, mengungkapkan bahwa varietas ini dirancang khusus untuk mendongkrak produktivitas di lahan-lahan marginal yang mengandalkan air hujan. Selain produktif, padi ini juga memiliki ketahanan tinggi terhadap hama penyakit serta kandungan gizi yang unggul.
Awalnya, tim peneliti memproyeksikan varietas ini sebagai padi genjah dengan produktivitas tinggi. Namun, dalam perjalanannya, ditemukan berbagai keunggulan lain yang melampaui target awal.
"Gamagora 7 itu produktivitasnya tinggi, umur pendek, super genjah, dan kaya gizi," ujarnya, Minggu (31/5/2025).
Namun, kehadiran varietas ini tidak terjadi dalam semalam. Prof. Taryono membeberkan bahwa perakitan Gamagora 7 memakan waktu hampir dua dekade, dimulai sejak tahun 2008 dan baru resmi dilepas ke publik pada 2023. Sebelum resmi diedarkan, varietas ini harus melewati uji multilokasi di 8 wilayah di Indonesia, mencakup Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Halmahera, hingga NTB.
"Merakit varietas itu perlu dana yang besar, perlu kesabaran, dan waktunya lama," kata Guru Besar Fakultas Pertanian UGM tersebut.
Potensi Topang Kemandirian Pangan Nasional
Secara administratif, pemerintah merilis Gamagora 7 sebagai varietas padi sawah karena memenuhi standar produktivitas yang tinggi, yakni mencapai 9,7 ton gabah kering giling (GKG) per hektar. Kendati demikian, fungsionalitas utamanya di lapangan tetap menyasar karakteristik lahan kering. Sehingga, menurutnya varietas ini sebenarnya diperkenalkan sebagai "padi tadah hujan".
"Gamagora 7 memenuhi syarat untuk dilepas sebagai padi sawah karena produktivitas dan ketahanannya," jelas Taryono.
Mengingat luasnya lahan tadah hujan di Indonesia, Taryono sangat optimistis varietas ini bisa menjadi pilar baru pangan nasional.
"Saya optimistis bahwa sebenarnya Gamagora 7 dapat mendukung kemandirian pangan nasional," tuturnya.
Meski begitu, ia tidak menampik adanya tantangan besar saat ini, terutama terkait keterbatasan ketersediaan benih formal dan kelanjutan dana riset untuk generasi Gamagora berikutnya. Ia berharap pihak kampus memberikan atensi lebih pada riset-riset yang dampaknya langsung dirasakan masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail