Septic Tank Sudah dikuras Tapi Api "Gaib" Sleman Tetap Muncul, DPR RI Minta BRIN Bantu Tim UGM - UPN Mitigasi Darurat
JOGJA - Fenomena kemunculan api misterius secara berulang di salah satu rumah warga di Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terus menyita perhatian publik. Api yang muncul hingga puluhan kali tersebut dipastikan bukan bersumber dari kebocoran instalasi gas elpiji maupun korsleting listrik, melainkan diduga kuat akibat aktivitas gas alam di bawah tanah.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, My Esty, langsung melakukan tinjauan ke lokasi bersama Wakil Bupati Sleman pada Sabtu (30/5/2026). Ia menegaskan bahwa fenomena ini tidak bisa disepelekan dan harus segera direspons dengan langkah konkret serta cepat.
"Kami mengkhususkan ini sama pak Wabup ke lokasi di ini karena sebenarnya kan awal-awal kita menganggap oh itu paling terus hilang. Tapi begitu mengikuti berita setiap hari kok ini terus muncul terus dan tidak terduga tempat-tempatnya," ujar My Esty di lokasi kejadian.
Menurutnya, upaya penanganan awal sebenarnya telah dilakukan oleh pihak terkait, termasuk melakukan sterilisasi pada fasilitas pembuangan domestik. Namun, sumber api dilaporkan masih terus muncul secara acak.
"Lalu saya membaca informasi juga bahwa sudah dilakukan pembersihan untuk septitank yang dimungkinkan keluarnya gas metana. Tapi setelah dibersihkan pun, ternyata masih juga keluar dan random dibanyak titik," katanya.
Politisi PDIP asal Yogyakarta ini menekankan bahwa prioritas utama saat ini adalah mengidentifikasi sumber utama dari fenomena tersebut. Hal ini penting demi meredam kegelisahan pemilik rumah yang kini hidup dalam bayang-bayang kecemasan.
"Yang tentu menjadi pemikiran kami adalah pertama pasti harus segera ditemukan apa penyebabnya. Disamping tentu berbicara kepada kegelisahan pemilik rumah yang pasti tidak tenang karena sudah 50 lebih kali titik-titik terbakar ini terjadi," ungkapnya.
Berdasarkan laporan awal, tim dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta telah diterjunkan ke lapangan. Hasilnya, ditemukan adanya indikasi potensi gas alam di sekitar aliran sungai terdekat.
"Ini bukan hal sederhana, mengingat beberapa hal yang tadi muncul, kalau itu kemudian ada kemungkinan tadi UPN sudah hadir lalu menemukan titik di sungai yang kemungkinan itu ada gas yang berasa berada di bawah tanah. Ini pasti harus ada percepatan untuk bisa diteliti dan berharap para ahli untuk bisa menemukan apa penyebabnya. Karena sepertinya kalau ditemukan gas di sana, secara ilmiah itu harapannya bisa kita ketahui apa penyebabnya," jelas My Esty.
Kekhawatiran legislator asal DIY ini kian memuncak mengingat posisi geografis kemunculan api tersebut berada di kawasan padat penduduk dan dekat dengan fasilitas umum yang rawan, seperti stasiun pengisian bahan bakar.
"Yang kemudian mengapa ini butuh cepat? Ini ada pom bensin di sana juga ada pemukim. Kalau itu adalah rentakan lempengan, pasti itu bukan keilmuan saya. Tapi sebagai masyarakat, apalagi saya berasal dari dekat sini, kita juga berharap masyarakat yang lain menjadi tenang. Pemerintah daerah ini juga perlu memberikan perhatian penuh, supaya ini segera bisa diteliti dengan seksama," ujarnya.
Meski demikian, My Esty mengapresiasi langkah cepat Pemerintah Daerah (Pemda) DIY dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman yang langsung menggandeng institusi pendidikan tinggi lokal seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) dan UPN Veteran Yogyakarta untuk melakukan kajian awal.
"Kebetulan mitra kerja kami adalah Badan Research Inovasi Nasional, ketika Pemda DIY sudah melakukan koordinasi dengan UPN, UGM, saya kira ini adalah langkah yang tepat. Terima kasih untuk itu," ucapnya.
Namun, mengingat proses penelitian ilmiah membutuhkan waktu yang tidak sebentar, ia meminta adanya kepastian mekanisme mitigasi dan penanganan darurat bagi keluarga yang terdampak langsung selama masa tunggu penelitian.
"Kalau kemudian ini ditemukan kemungkinan sebulan lagi ya berarti dalam sebulan itu memang harus berjaga. Jadi memang yang pemilik rumah ini masih agak deg-degan karena tiba-tiba muncul disini dan prosesnya sudah masuk darurat untuk satu keluarga ini apa yang kemudian mesti ditindaklanjuti," tuturnya.
Untuk mempercepat proses investigasi tersebut, My Esty menegaskan komitmennya untuk menggerakkan seluruh instrumen riset di tingkat pusat agar bisa berkolaborasi dengan para akademisi di daerah. Ia berjanji akan mendesak Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk segera turun tangan ke Sleman.
"Sekali lagi, sebagai mitra BRIN kami Komisi X, saya sebagai wakil ketua Komisi X tentu akan mendesak BRIN juga ikut terlibat dengan segala kemampuan yang dimiliki. Apalagi BRIN pusatnya para peneliti yang jago-jago yang tidak bisa diragukan lagi, mereka orang-orang intelektual, meskipun mungkin itu juga dari UGM, dari UPN, dan berbagai perguruan tinggi besar," pungkas My Esty.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung