Heboh Teror Api Misterius di Rumah Warga Seyegan Sleman: Muncul Puluhan Kali Membuat Satu Keluarga Terpaksa Mengungsi
JOGJA - Fenomena kemunculan api misterius secara berulang kali di salah satu rumah warga di Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), belakangan ini menggegerkan masyarakat. Api yang muncul hingga puluhan kali tersebut dipastikan bukan bersumber dari kebocoran instalasi gas elpiji maupun korsleting listrik, melainkan diduga kuat akibat aktivitas gas alam.
Pemilik rumah, Mutfia, menceritakan bahwa fenomena ini baru pertama kali terjadi seumur hidupnya sejak rumah tersebut dibangun 16 tahun yang lalu. Berdasarkan penjelasan awal dari para ahli, kemunculan api tersebut diduga berkaitan dengan penumpukan gas metana di bawah tanah.
"Sebenarnya api yang kita ketahui dari gas metana penjelasan para ahli. Ini masih dalam penelitian. Terkait adanya gas yang muncul tiba-tiba, sebenarnya bukan tiba-tiba. Tapi itu adanya penumpukan gas yang ada di bahan-bahan tertentu. Nah nanti itu nanti ada segitiga api itu dari oksigen, gas, lalu energinya itu bisa mengeluarkan segitiga api," ujarnya di lokasi kejadian, Sabtu (30/5/2026).
Mutfia mengungkapkan, peristiwa tersebut pertama kali memicu kepanikan di rumahnya ketika selembar kain basah di atas lantai tiba-tiba terbakar dengan sendirinya.
"Awalnya ada kain di atas lantai, sebenarnya itu basah ya, bekas ngelap es teh itu tiba-tiba kebakar sendiri. Saya keluar dari kamar itu sudah kebakar," ungkapnya.
Ia juga mengatakan bahwa tanah tempat rumahnya berdiri dulunya merupakan area persawahan. Berdasarkan pengecekan awal oleh tim ahli, ditemukan adanya indikasi lapisan tertentu di bawah rumah mereka.
"Kami dulu beli, enggak tahu asal-usul dari sini, dulunya apa begitu, sepengetahuan kami itu dulunya sawah. Enggak tahu berapa puluh tahun yang lalu apa itu kan kami juga enggak tahu. Ternyata ditemukan yang katanya itu ada lempengan atau dan lain sebagainya, saya kurang paham nanti dijelaskan ahli yang sudah dijelaskan tadi pagi, nanti saya keliru menjelaskannya," beber Mutfia.
Meski fenomena langka ini mengundang rasa penasaran banyak orang hingga dikaitkan dengan hal mistis, Mutfia memilih untuk tetap bersikap rasional dan mempercayai penjelasan ilmiah dari para ahli.
"Ya ada (katanya mistis), tapi ya sudah. Tapi kan jawabannya sudah pasti kalau ini memang ada hubungannya dengan gas metana. Kalau dari mistis-mistisnya kayaknya ya monggo kalau mau dilihat, tapi saya tidak, apa ya, ya saya hanya menghargai pendapat panjenengan (kalian semua)," ucapnya.
Akibat kemunculan api yang tidak menentu namun terjadi setiap hari, Mutfia beserta enam anggota keluarga lainnya terpaksa mengungsi ke rumah sebelah demi keselamatan.
"Kami bertujuh ngungsi meski kejadiannya tidak pasti tapi setiap hari pasti ada. Ini sampai saat ini harus waspada adanya api muncul," kata Mutfia.
Ia pun mengapresiasi dan berharap respons cepat dari pemerintah setempat yang terus mendampingi dan menjaga situasi di lokasi kejadian.
"Harapannya pemerintah bisa mendampingi, tapi sejauh ini pemerintah sudah mendampingi kami dengan baik. Apalagi pemerintah setempat, instasi yang terkait itu sudah mendampingi kami terutama dari beberapa hari juga sudah ditemani menjaga didukung," tuturnya.
Merespons fenomena tersebut, Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, meninjau langsung lokasi kejadian pada Sabtu (30/5/2026). Peninjauan ini juga dihadiri oleh tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, serta Anggota DPR RI, My Esti Wijayati.
Danang menegaskan, Pemkab Sleman berkomitmen penuh untuk mempercepat proses penelitian ilmiah demi menekan rasa khawatir yang berkembang di tengah masyarakat. Pemkab Sleman juga akan menyurati Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk meminta pendampingan khusus.
"Tentunya kalau ini kan sudah diselidiki polisi mungkin perlu penelitian lebih dalam dengan penampakan-penampakan ahli dari akademisi atau mana-mana. Mungkin setelah ini kami kalau memang tidak mampu akan membuat surat untuk meminta pendampingan dari universitas untuk juga bisa berkoordinasi dengan BRIN dan dengan akademisi akan mempercepat penelitian ini kan gitu," ujarnya.
Menurut Danang, percepatan ini penting agar penyebab pasti segera ditemukan sehingga langkah mitigasi bisa langsung dirumuskan.
"Karena kalau tidak ini juga menjadi apa namanya kekhawatiran masyarakat ya karena sudah ada kejadian lagi dan kalau dipercepat nanti mudah-mudahan bisa ketemu penyebabnya. Sehingga kita setelah itu akan melakukan antisipasi yang seperti itu seperti aja," sambungnya.
Danang menyadari bahwa pemerintah daerah memiliki keterbatasan kapasitas dalam menganalisis fenomena geologi atau gas alam secara mendalam. Oleh karena itu, sinergi dengan para pakar lintas sektor mutlak diperlukan.
"Selanjutnya kami komunikasi dengan ahlinya karena kami enggak punya kapasitas atau kemampuan untuk menganalisa ini. Yang penting nanti ada setelah ini kita akan koordinasi dengan pihak-pihak terkait yang bisa kita ajak komunikasi. Itu saja. Bulan ini ada orang pusat DPR RI yang langsung tadi akan mendampingi dan meminta untuk segera meminta bantuan dari BRIN," jelas Danang.
Terkait kondisi keluarga terdampak yang saat ini masih mengungsi, Danang memastikan bahwa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman telah menyalurkan logistik dan bantuan pemenuhan kebutuhan dasar.
"Ya, tadi dari BPBD sudah memberikan bantuan fasilitasi kebutuhan dasar, kebutuhan-kebutuhan pokoknya diberikan. Nanti biar kalau masih ada kekurangan ya ditambah lagi. Biar BPBD bisa nanti minta pendampingan dinas sosial untuk melayani kebutuhan-kebutuhan sehari-harinya," kata Danang.
Menurutnya, langkah penjaminan logistik ini diambil mengingat aktivitas ekonomi keluarga korban terganggu akibat harus terus waspada menjaga rumah mereka dari potensi kebakaran.
"Karena kami kan melihat kalau dengan adanya kejadian ini, ini mereka kan juga tidak bisa bekerja maksimal. Jadi sehari-harinya minimal bisa memiliki kebutuhan hidupnya sehari-hari. Jadi ini kami juga akan nanti biar rapat koordinasi dengan dinas terkait seperti itu," pungkas Danang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung