JOGJA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melaporkan temuan 23 kasus positif Hantavirus yang tersebar di sembilan provinsi di Indonesia. Menanggapi kabar tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta bergerak cepat melakukan koordinasi untuk memastikan status penyebaran virus yang dibawa oleh tikus tersebut di wilayahnya.
Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Dinkes Kota Yogyakarta, Lana Unwanah, menyatakan bahwa pihaknya saat ini tengah melakukan konfirmasi mendalam terkait detail data kasus terbaru tersebut ke tingkat pusat.
"Belum tahu pasti, apakah itu yang tahun lalu, ataukah tahun ini ada lagi. Sementara belum ada laporan untuk yang tahun ini. Ini kami konsulkan ke Dinkes DIY juga belum ada jawaban pasti, masih dalam proses konfirmasi ke pusat atau Kemenkes," ujarnya saat dihubungi, Jumat (8/5/2026).
Namun, Lana mengakui bahwa Kota Yogyakarta memang memiliki catatan kasus Hantavirus pada tahun sebelumnya. Namun, ia menegaskan bahwa sepanjang tahun 2026 ini, belum ada laporan resmi mengenai pasien baru yang terinfeksi.
"Pernah ada kasus tahun lalu (2025) yaitu satu kasus positif, kalau yang tahun ini belum ada laporan," ungkapnya.
RSUP Dr. Sardjito Jadi Rujukan Utama
Ia pun menyampaikan, pengawasan terhadap penyakit ini yakni dilakukan melalui sistem fasilitas kesehatan (faskes) sentinel. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), RSUP Dr. Sardjito ditunjuk sebagai rujukan utama untuk pengujian laboratorium, baik untuk gejala Hantavirus maupun Leptospirosis.
"Jika ada pasien dengan gejala atau indikasi mengarah ke Lepto atau Hantavirus yang periksa ke Sardjito, itu yang dites laboratoriumnya," jelas Lana.
Tak Perlu Vaksin, Fokus Kebersihan
Menurut Lana, Hantavirus dapat ditangani secara medis dengan perawatan intensif, serupa dengan penanganan Leptospirosis karena keduanya berasal dari vektor yang sama, yakni tikus. Sehingga, masyarakat diminta untuk tidak panik secara berlebihan.
Ia juga menegaskan bahwa hingga saat ini tidak diperlukan langkah vaksinasi khusus seperti pada masa pandemi COVID-19. Langkah pencegahan yang paling krusial justru terletak pada perilaku hidup bersih di lingkungan tempat tingga. Menurutnya juga masih diobati secara intensif.
"Intinya tidak perlu panik ya. Masih bisa diobati. Intinya jaga kebersihan di rumah dan lingkungan agar tidak menjadi sarang tikus," pungkas Lana.
Baca juga: Dinkes Kota Jogja Temukan Kluster Flu Berat Berkepanjangan di Sekolah, Anak - Anak Paling Banyak
Sebelumnya, kekhawatiran terhadap Hantavirus mencuat setelah adanya laporan dugaan paparan pada kapal ekspedisi MV Hondius yang berlayar dari Argentina pada April 2026 lalu, dimana sejumlah penumpang kapal tersebut dilaporkan mengalami gejala serupa flu, nyeri otot, hingga gangguan pernapasan setelah mengunjungi area satwa liar terpencil di wilayah Atlantik Selatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Konfirmasi Langsung