Wamen ESDM Yuliot Tanjung, saat ditemui di Jargas Sleman. (Istimewa)
JOGJA - Pemerintah terus tancap gas dalam memperluas program infrastruktur Jaringan Gas (Jargas) rumah tangga berbasis Compressed Natural Gas (CNG). Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, menegaskan bahwa sistem cluster jargas akan diperluas secara masif ke berbagai wilayah di Indonesia untuk menekan ketergantungan pada LPG.
Dalam kunjungan kerjanya di Jaringan gas (Jargas) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (19/6/2026), Yuliot memaparkan target ambisius pemerintah. Untuk tahun ini saja, pemerintah menargetkan pemasangan 160.000 sambungan rumah tangga di Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.
"Ini akan dilakukan proses percepatan, untuk lelangnya baru akan dilakukan pada akhir Juli ini. Secara teknis, kami sedang menyelesaikan kajian untuk kesiapan masing-masing kota. Lokasinya tersebar, tergantung dari kedekatan sumber gas untuk daerah yang bersangkutan," ujarnya.
Yuliot juga mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyusun peta jalan yang lebih masif untuk tahun depan. Pihaknya membidik angka 1 juta sambungan rumah tangga melalui pendanaan APBN pada 2027 mendatang.
"Tahun depan kita tingkatkan totalnya menjadi 1 juta satuan sambungan rumah. Kami sedang persiapkan untuk anggaran tahun 2027. Targetnya, pada tahun 2028, 1 juta sambungan rumah tersebut sudah bisa terlaksana sepenuhnya," tambahnya.
Testimoni Warga
Kehadiran jargas disambut positif oleh masyarakat. Bambang Prakoso, salah satu warga Kalurahan Caturtunggal, Sleman, yang telah menjadi pelanggan sejak November 2024, mengaku sangat terbantu dengan kepraktisan layanan ini. Menurutnya, masalah klasik seperti kehabisan gas di waktu yang tidak tepat kini bukan lagi menjadi beban.
"Terus terang saya merasa sangat terbantu dan tidak direpotkan. Dulu sering sekali repot kalau gas habis tiba-tiba, baik itu malam-malam atau pagi-pagi. Sekarang sudah tidak perlu khawatir lagi," katanya.
Bambang juga menyoroti aspek keamanan yang ia nilai sangat baik berkat sosialisasi prosedural dari pemerintah, seperti cara mematikan aliran gas saat bepergian.
"Selama saya memakai, Alhamdulillah belum ada kendala sama sekali. Keamanan sangat terjamin," ucapnya.
Namun, Bambang memberikan catatan terkait harga. Ia membandingkan bahwa jargas memang sedikit lebih mahal dibandingkan LPG 3 kg bersubsidi, namun jauh lebih ekonomis jika disandingkan dengan harga LPG nonsubsidi.
Baca juga: Kata Sultan HB X Beri Lampu Hijau Bakamla Bangun Stasiun Keamanan Maritim di Selatan DIY
Oleh karena itu, Bambang berharap pemerintah tetap menjaga stabilitas harga agar tetap terjangkau oleh masyarakat luas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung