Mahasiswa TIM KKN UGM 2036 ke Biak Papua. (Olivia Rianjani)
JOGJA - Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menerjunkan ribuan mahasiswanya untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2026. Sebanyak lebih dari 8 ribu mahasiswa disebar ke 32 provinsi di seluruh Indonesia untuk menjalankan pengabdian masyarakat, dengan fokus utama pada ketahanan pangan dan penguatan ekonomi lokal.
Direktur Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) UGM, Dr. dr. Rustamaji, M.Kes, menjelaskan bahwa meski terdapat beberapa lokasi baru, sebagian besar wilayah KKN merupakan keberlanjutan dari kerjasama yang telah terjalin dengan pemerintah daerah.
"Ada lokasi baru, contohnya beberapa di Papua ada lokasi baru karena kita mengurangi yang Raja Ampat, di Jayapura ada dua. Terus belakang saya ini ada satu, lalu Halmahera Tengah ada dua, kemudian di Jawa banyak,” ujar Rustamaji saat ditemui usai pelepasan mahasiswa, Jumat (19/6/2026).
Khusus untuk wilayah Papua, kata dia, UGM menerjunkan 7 tim dengan total mahasiswa mencapai minimal 175 orang. Lokasi terjauh dalam periode KKN kali ini adalah Biak, Papua.
"Biak itu yang paling jauh karena dia harus nyeberang kan. Ada satu tim di sana sekitar 25 orang," katanya.
Menyadari tantangan di lapangan, Rustamaji menekankan bahwa aspek keselamatan menjadi prioritas utama tahun ini. UGM menerapkan sistem Safety, Health, and Environment (SHE) yang lebih ketat dengan melibatkan Kagama dan satuan tugas khusus.
"Yang penting mendasar dari kami adalah penerapan SHE. Jadi kami menerapkan SHE bersama KAGAMA, bersama Satgas kami untuk memperkuat mitigasi. Kalau dulu kami tidak ada koordinator masing-masing tim itu tidak ada SHE, sekarang kami tambahkan SHE yang bertugas untuk memonitor dan memitigasi risiko apapun risikonya. Nah, ini yang sedang kami kerjakan," jelasnya.
Baca juga: Terjunkan 8.178 Mahasiswa ke Pelosok Nusantara, Rektor UGM: KKN Bukan Sekadar Seremoni
Bahkan, untuk lokasi yang berkegiatan di dekat perairan, pihak universitas telah menyiagakan alat keselamatan berupa pelampung.
"Jadi, kami menegaskan pentingnya transparansi keuangan dalam setiap kegiatan kelompok mahasiswa agar akuntabilitas tetap terjaga," tegasnya.
Terkait situasi ekonomi dan efisiensi anggaran, Rustamaji mengakui adanya penyesuaian strategi. UGM melakukan pengurangan drastis pada jumlah pimpinan universitas yang memonitor ke lokasi. Sebagai gantinya, UGM bersinergi dengan Kagama dan pemerintah daerah sebagai ujung tombak pengawasan.
"Pimpinannya ini kami kurangi drastis supaya sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang tidak bermewah-mewah. Tetapi kepentingan pendidikan kayak DPL (Dosen Pembimbing Lapangan) dan korwil tetap kami jamin untuk tetap ke lokasi, hanya untuk pimpinan yang hilang ini," tegasnya lagi.
Menurutnya, tantangan pendanaan juga diatasi melalui kolaborasi dengan banyak mitra. Jika sebelumnya satu lokasi bisa didanai oleh satu mitra, kini skema tersebut berubah.
"Satu lokasi bisa ditanggung oleh 10 mitra. Alhamdulillah banyak mitra baru yang kita bisa ambil, tetapi sekali lagi kami juga harus mengikuti aturan UGM dimana mitra yang terkait dengan minuman keras, tembakau tidak kami gunakan. Kemudian juga mitra-mitra yang memiliki risiko," imbuhnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung