Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 10 JULI 2025 • 17:45 WIB

Kota Yogyakarta Darurat Kasus Leptospirosis, 6 Warga Meninggal Dunia Pada Pertengahan Tahun 2025, Dinkes : Meningkat Tajam dari Sebelumnya

Kota Yogyakarta Darurat Kasus Leptospirosis, 6 Warga Meninggal Dunia Pada Pertengahan Tahun 2025, Dinkes : Meningkat Tajam dari SebelumnyaKepala Bidang P2P PD SIK Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dr Lana Unwanah (kiri), saat jumpa pers di Balaikota Yogyakarta, pada Kamis (10/7/2025). (Olivia Rianjani)

JOGJA - Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mencatat lonjakan signifikan kasus leptospirosis sepanjang semester pertama tahun 2025. Hingga awal Juli ini, total terdapat 19 kasus leptospirosis dengan enam kematian, atau setara dengan 31 persen tingkat kematian (CFR/Case Fatality Rate). Angka ini naik drastis dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024 lalu, yang mencatat 10 kasus dengan dua kematian.

Hal ini disampaikan Kepala Bidang P2P PD SIK Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dr Lana Unwanah, saat jumpa pers di Balaikota Yogyakarta, pada Kamis (10/7/2025).

"Kalau kita bandingkan di periode tahun lalu di 2024, itu kasusnya memang saat ini lebih tinggi. Tahun lalu ada 10 kasus dengan kematian dua orang. Tahun ini sampai semester satu sudah ada 19 kasus dan enam di antaranya meninggal dunia," ujar Lana.

Lana merinci, persebaran kasus leptospirosis tahun ini mencakup 11 dari 14 kemantren di Kota Yogyakarta. Kasus terbanyak ditemukan di Kecamatan Jetis dan Tegalrejo masing-masing tiga kasus, disusul Ngampilan, Gedongtengen, dan Pakualaman masing-masing dua kasus. Sementara tiga wilayah yang masih bebas dari kasus leptospirosis hingga saat ini adalah Keraton, Danurejan, dan Gondomanan.

Yang terbaru kemarin di Jetis. Totalnya kasus ada 19, rincinya di Kecamatan Mantrijeron 1, Mergangsan 1, Gondokusuman 1, Kotagede 2, Umbulharjo 1, Pakualaman 2, Gedongtengen 2, Ngampilan 2, Wirobrajan 1, Jetis 3, Tegalrejo 3,” ungkapnya.

Menurut Lana, leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Leptospira, yang paling sering ditularkan melalui urine tikus dan menyebar melalui air yang terkontaminasi.

Penularan terjadi saat bakteri masuk melalui luka terbuka di kulit atau selaput lendir, misalnya saat seseorang bersentuhan dengan genangan air di lingkungan kotor.

Biasanya itu lewat tikus, tetapi hewan lain juga memungkinkan. Yang paling sering adalah tikus. Penularan melalui kulit terbuka, dan sering kali terjadi tanpa disadari karena lukanya kecil,” jelas Lana.

Gejala leptospirosis pun disebut tidak spesifik, seperti demam, nyeri otot, dan sakit kepala, sehingga sering kali pasien terlambat mengakses layanan kesehatan.

"Karena gejala tidak spesifik, seringkali pasien merasa itu hanya masuk angin biasa. Dari 19 kasus itu, pekerjaannya juga tidak semua berisiko tinggi, ada yang punya hobi mancing, atau sempat camping," ujarnya.

Baca juga: Dirut PWNI RI Judha Nugraha Bantah Dugaan Kematian Arya Daru Pangayunan Meninggal Karena Jadi Saksi TPPO, Begini Faktanya

Kota Yogyakarta Darurat Kasus Leptospirosis, 6 Warga Meninggal Dunia Pada Pertengahan Tahun 2025, Dinkes : Meningkat Tajam dari SebelumnyaData Kasus Leptospirosis di Kota Yogyakarta Tahun 2025. (Olivia Rianjani)

Terkait status Kejadian Luar Biasa (KLB), pihak Dinkes belum menetapkannya secara resmi. Namun secara epidemiologis, peningkatan kasus ini dinilai sudah cukup signifikan.

“Secara epidemiologi, iya (potensi KLB). Tapi kami akan konsultasikan dulu, karena ini akan melibatkan lintas OPD. Kami sudah menyusun SS (Situasi Surveilans) kewaspadaan, dan akan kami angkat ke forum lebih tinggi untuk menentukan langkah selanjutnya,” ungkap Lana.

Sembari menunggu penetapan Surat Edaran (SE) terkait hal itu, Lana menegaskan kepada masyarakat untuk lebih memperhatikan kebersihan lingkungan dan pribadi.

"Himbauannya, yang pertama adalah tingkatkan kebersihan lingkungan dan pribadi, termasuk sanitasi rumah dan pengelolaan sampah. Kedua, waspadai aktivitas di tempat basah dan becek, terutama dengan luka terbuka. Ketiga, kurangi populasi tikus, sebagai hewan pembawa utama bakteri Leptospira," pesan Lana.

"Kami dari Dinkes juga berharap seluruh elemen masyarakat turut aktif menjaga kebersihan lingkungan dan tidak menyepelekan gejala yang muncul, terutama di musim hujan dengan curah tinggi seperti saat ini," sambungnya.

Baca juga: Seorang Buruh Lepas Terserempet KRL di Stasiun Lempuyangan, Terlempar Sejauh 15 Meter

Selain itu, warga diharapkan segera memeriksakan diri ke fasilitas layanan kesehatan jika mengalami gejala yang mengarah pada leptospirosis, terutama jika sebelumnya beraktivitas di lingkungan yang berisiko.

"Apabila mengalami gejala - gejala tidak enak badan, untuk segeralah untuk mengakses layanan kesehatan seperti ke puskesmas atau ke klinik dan faskes lainnya. Sehingga kalau delay pun bisa kita minimalisir lalu bisa segera kita tangani. Alhasil,  tidak menimbulkan dampak yang lebih parah dan biasanya bisa disembuhkan, apalagi obatnya juga ada," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Kota Yogyakarta Darurat Kasus Leptospirosis, 6 Warga Meninggal Dunia Pada Pertengahan Tahun 2025, Dinkes : Meningkat Tajam dari Sebelumnya

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!