Rabu, 06 MEI 2026 • 20:55 WIB

Waspada Megathrust Jawa, Pakar Sebut DIY Paling Tangguh Hadapi

Author

Pakar kebencanaan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dwikorita Karnawati. (Olivia Rianjani)

JOGJA - Ancaman gempa megathrust di sepanjang selatan Pulau Jawa kembali menjadi perhatian para ahli. Sejumlah zona subduksi yang selama ini dinilai "terkunci" berpotensi memicu gempa besar, meskipun waktu kejadiannya belum bisa dipastikan.

Pakar kebencanaan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dwikorita Karnawati, menyebut ada beberapa wilayah di Indonesia yang secara ilmiah seharusnya sudah mengalami gempa besar berdasarkan siklus berulang.

"Para pakar sepakat ada beberapa lokasi yang seharusnya sudah mengalami gempa megathrust dalam periode ulang 200 tahun, tapi belum terjadi," ujarnya, saat ditemui di Kampus Terpadu UMY, Rabu (6/5/2026).

Wilayah tersebut meliputi kawasan Mentawai, Pulau Siberut, Selat Sunda bagian selatan, hingga selatan Jawa Tengah termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia menjelaskan, siklus gempa di kawasan itu rata-rata berkisar 200 tahunan.

"Periode ulangnya sekitar 200 tahun. Saat ini kita berada di fase akhir siklus tersebut, tapi ini bukan prediksi, melainkan hasil penelitian sebagai dasar mitigasi," jelasnya.

Dwikorita menegaskan, penyampaian informasi tersebut bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan sebagai pengingat agar masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan.

Baca juga: Eks Kepala BMKG Dwikorita Minta Wilayah Bekas Banjir Bandang Ditetapkan Jadi Zona Merah

Adapun dalam hal kesiapan daerah, ia menilai DIY termasuk wilayah yang relatif siap menghadapi potensi bencana, baik dari sisi infrastruktur maupun kesadaran masyarakat.

Salah satu contohnya adalah pembangunan Yogyakarta International Airport (YIA) yang dirancang tahan terhadap gempa besar dan tsunami.

"Bandara itu didesain tahan gempa hingga 8,7 magnitudo. Bahkan sudah memperhitungkan potensi tsunami lebih dari 10 meter," katanya.

Menurutnya, YIA juga telah disiapkan sebagai lokasi evakuasi darurat. Area mezzanine dan lantai atas bandara mampu menampung hingga 10.000 orang, serta dilengkapi fasilitas crisis center berkapasitas sekitar 2.000 orang.

"Ini luar biasa, bahkan di ASEAN mungkin baru Yogyakarta yang menyiapkan bandara sekaligus tempat evakuasi seperti ini," ungkapnya.

Selain infrastruktur, kesiapsiagaan masyarakat DIY juga dinilai cukup baik. Hal itu terlihat dari rutinnya simulasi kebencanaan, pemasangan sistem peringatan dini, hingga pengamanan di sejumlah titik rawan.

"Setiap tanggal 26 sirine selalu dites. Ini menunjukkan kesiapsiagaan yang terus dijaga," ucapnya.

Meski demikian, Dwikorita mengingatkan bahwa tantangan utama terletak pada keberlanjutan kesiapsiagaan di tengah pergantian generasi dan aparatur.

"Yang jadi tantangan adalah keberlanjutan. Setiap ada generasi baru, harus dilatih lagi. Jangan sampai yang sudah dilatih lulus, tapi yang baru tidak siap," imbuh eks Kepala BMKG tersebut.

Baca juga: Respon Positif Eks Kepala BMKG Dwikorita Soal Huntara Sumatera, Tapi Ingatkan Hal Ini

Kendati demikian, ia menekankan pentingnya edukasi kebencanaan yang dilakukan secara berkelanjutan, baik di lingkungan sekolah maupun pemerintahan.

"Bupati bisa berganti, aparat bisa berganti. Tapi kesiapsiagaan harus tetap berjalan dan tidak boleh berhenti," pungkas Dwikorita.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU