Selasa, 05 MEI 2026 • 15:45 WIB

Imbas Dugaan Keracunan Massal Acara Pamitan Haji di Mlati Sleman, Warga Minta Pihak Catering diberi Hukuman 10 Tahun

Author

Salah satu korban keracunan di Mlati, Sleman, saat mengadu ke posko penanganan, Senin (4/5/2026). (Istimewa)

JOGJA - Buntut insiden dugaan keracunan makanan terjadi dalam kegiatan pamitan haji di Padukuhan Toragan, Kalurahan Tlogoadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, pada Minggu 3 Mei 2026, para korban menuntut hukuman berat terhadap pihak katering. Sebagaimana diketahui, berdasarkan hasil laboratorium sementara, kejadian itu diduga berasal dari konsumsi hidangan katering yang disajikan kepada ratusan tamu undangan.

Warga setempat sekaligus tuan rumah acara, Nayuku Bramantio, atau sapaan akrabnha Yoko, mengaku menjadi salah satu korban dalam peristiwa tersebut. Ia mendesak aparat penegak hukum memberikan sanksi berat kepada pihak katering.

"Kami minta penjara 10 tahun. Soalnya sudah banyak orang korban. Saya juga korban, bukan pelaku," tegasnya, saat ditemui di Posko Penanganan setempat, pada Senin (4/5/2026).

Ia menjelaskan, pihaknya memesan sekitar 250 porsi makanan untuk acara pamitan haji yang digelar di Gedung Dakwah Azakiyah milik seorang warga setempat. Namun, pengiriman makanan tidak sesuai waktu yang telah disepakati.

"Saya minta itu hari Minggu jam 06.30, tapi datangnya 07.30. Dari waktu saja tidak on time. Belum lagi bentuk kotaknya sudah peyot-peyot," katanya.

Yoko menyebut, acara sendiri dimulai sekitar pukul 08.00 WIB, dan makanan kemudian dikemas ulang bersama snack untuk dibagikan kepada para tamu. Total undangan yang hadir diperkirakan sekitar 130 orang, sementara sisanya dibagikan kepada keluarga dan tetangga.

Menu yang disajikan antara lain ayam panggang kecap, telur, sambal krecek dengan rempela hati, timun, dan pisang. Namun, Nayuku mengaku sempat merasakan kejanggalan pada salah satu menu.

"Di lauknya ada yang aneh, itu dari krecek. Itu agak kecut. Baunya enggak kelihatan, tapi rasanya sudah beda," katanya.

Ia juga mengaku mulai merasakan gejala keracunan pada malam hari.

"Kalau saya itu setengah 11 malam. Gejalanya mencret, diare langsung, terus sekarang panas juga," bebernya.

Tidak hanya dirinya, dua orang keluarganya menjadi korban dugaan keracunan itu, yakni ayahnya, dan adiknya. Serta, sejumlah warga lain juga mengalami gejala serupa. Salah satunya Surahmi, warga terdampak, yang mengaku merasakan kondisi tidak nyaman setelah mengonsumsi makanan dari acara tersebut.

"Setelah mau selesai makan itu ayamnya kaya kelingit-kelingit terus tak buang, nggak lanjut makan. Terus sorenya terasa kaya mulek-mulek perutnya sampai pusing," ungkap Yoko.

Baca juga: Kasus Keracunan Massal Usai Acara Pamitan Haji di Toragan Sleman, Polisi : Dari Hasil Lab Ada Bakteri

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa pihak keluarga mengaku belum mendapatkan komunikasi resmi dari pihak katering. Karena itulah, Yoko menyatakan pihaknya juga menuntut ganti rugi atas kejadian tersebut.

"(Sekali lagi) kami minta ganti rugi. Kalau benar pelakunya mereka, ya kami minta penjara 10 tahun kalau bisa," tegasnya lagi.

Salah satu warga atau tetangga Yoko, Surahmi menyebut gejala mulai muncul sekitar pukul 16.00 WIB.

"Tadi pagi nek BAB itu nggak keras tapi lembek," katanya.

Ia mengaku hanya mengonsumsi ayam yang dibawa pulang oleh suaminya dari acara tersebut.

"Cuman makan ayam tok yang aneh, terutama kulitnya itu kok," bebernya.

Diberitakan sebelumnya, Kasi Humas Polresta Sleman, Iptu Argo Anggoro, mengatakan bahwa pihak kepolisian menerima informasi awal pada Senin 4 Mei 2026 pagi sekitar pukul 09.17 WIB.

Dari pendataan sementara, sebanyak 18 orang menjalani pemeriksaan di posko Padukuhan Toragan, tujuh orang dirawat di RSA UGM, dan satu orang di Puskesmas Mlati 2. Para korban umumnya mengalami gejala pusing, muntah, dan diare.

Baca juga: SMAN 6 Jogja Jadi Saksi Peluncuran Program Pendidikan Khas Kejogjaan, Sultan HB X Ingin Ciptakan Generasi Jiwa Satriya

Menurutnya, hasil laboratorium sementara mengindikasikan adanya faktor bakteri.

"Dari hasil lab salah satu korban di RSA UGM yang menyebabkan terjadi muntaber karena terkena bakteri," ujarnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU