Sabtu, 02 MEI 2026 • 19:35 WIB

Soroti Kasus Daycare Little Aresha, Ketua Kolegium Psikologi :" Orang Tua Harus Pulihkan Diri Sebelum Dampingi Anak"

Author

Ketua Kolegium Psikologi Klinis Indonesia, Indria Laksmi Gamayanti. (Olivia Rianjani)

JOGJA - Polemik kekerasan anak di salah satu daycare di Kota Yogyakarta, Little Aresha, mendapat perhatian serius dari praktisi psikologi. Kali ini, Ketua Kolegium Psikologi Klinis Indonesia, Indria Laksmi Gamayanti, menekankan pentingnya penanganan komprehensif yang tidak hanya menyasar pada anak, tetapi juga kesehatan mental orang tua korban.

Dalam rapat koordinasi bersama Pemkot Yogyakarta dan DP3AP2Y DIY, Indria memberikan sejumlah rekomendasi strategis guna memitigasi dampak jangka panjang bagi para korban.

Pertama, ia menjelaskan bahwa apa yang dialami para anak di daycare tersebut masuk dalam kategori Adverse Childhood Experiences (ACEs) atau pengalaman masa kecil yang tidak menyenangkan. Jika tidak ditangani dengan tepat, hal ini dikhawatirkan akan membekas hingga dewasa.

"Ini sesuatu yang perlu kita pantau betul, jangan sampai meninggalkan luka-luka atau bekas-bekas yang terbawa sampai dengan dewasa. Ini saya kira sesuatu hal yang sangat penting," ujarnya saat ditemui awak media di Yogyakarta, pada Sabtu (2/4/2026).

Peran Ortu Ibarat Masker Oksigen Dalam Pesawat

Ia mengusulkan adanya assessment atau pemeriksaan psikologis menyeluruh. Uniknya, Indria menekankan bahwa orang tua harus menjadi pihak pertama yang ditenangkan dan diberikan edukasi cara mengelola emosi. Dalam hal ini, dirinya mengibaratkan penanganan ini seperti prosedur keselamatan di pesawat terbang.

"Filosofinya sama dengan ketika kita naik pesawat terbang. Terus ketika udara tidak baik, kan yang pakai oksigen mask itu kan yang tua dulu ya baru nolong anaknya. Karena orang tualah yang akan mendampingi," jelasnya.

Menurutnya, orang tua yang sedang dalam kondisi tertekan, merasa bersalah, atau marah yang luar biasa, justru berisiko memberikan pengasuhan yang tidak tepat, baik itu berperilaku berlebihan maupun berkekurangan.

"Karena mereka (orang tua) adalah akan menjadi pengasuh dan juga menjadi terapis utama bagi anak-anaknya," ucapnya.

Baca juga: May Day 2026: Akademisi UGM Sebut Wajib Jamin Fasilitas Daycare bagi Perempuan Pekerja Buntut Viralnya Kasus Little Aresha

Meski belum melakukan pemeriksaan langsung secara sistematis, Indria telah menampung laporan dari para orang tua korban. Laporan tersebut menunjukkan indikasi kuat adanya trauma psikologis pada anak-anak.

"Apa yang saya dengar dari orang tua itu ternyata mereka banyak selain masalah kesehatan, tetapi juga ada beberapa yang dilaporkan misalnya anak ini jadi mudah marah atau anak ini menjadi sangat takut ditinggal oleh orang tuanya jadi sangat lengket, sangat attached tapi ini berlebihan," ungkapnya.

Bahkan, beberapa anak dilaporkan mengalami gangguan tidur yang serius.

"Ada juga yang sampai mengalami nightmare atau mimpi buruk. Jadi kalau malam itu nangis dan ini berlaku cukup lama," tuturnya.

Terkait adanya isu perubahan perilaku atau indikasi orientasi tertentu akibat kekerasan tersebut, Indria menyatakan hal itu perlu dikaji lebih mendalam secara profesional. Namun, ia optimis karena usia korban yang masih kecil, peluang pemulihan masih sangat besar asalkan pendampingan dilakukan secara tepat.

"Kita kaji dan kita lihat sebetulnya kalau anak-anak ini masih kecil mudah-mudahan kesempatan untuk bisa membantu mereka mudah-mudahan masih lebih banyak. Tapi selama orang tuanya juga lalu memahami ya bagaimana mereka harus melakukan pendampingan, pengasuhan selain nanti bantuan secara profesional," jelasnya.

Kecam SOP Pengikatan Anak

Menanggapi adanya informasi mengenai tindakan pengikatan anak di daycare tersebut dengan dalih prosedur tertentu, Gamayanti membantah keras adanya SOP pengasuhan semacam itu.

"Ya enggak lah, SOP dari mana itu ya. Kayaknya tidak ada kamus pengasuhan manapun yang seperti itu... Kalau dibedong itu kan tidak seperti itu. Itu suatu hal yang berbeda, enggak ada," tegasnya.

Baca juga: Polresta Jogja Ungkap Korban Daycare Little Aresha Melonjak Jadi 93 Anak Dan Baru 10 Orang Tua Melapor

Oleh karena itu, ia turut menyatakan siap bersinergi dengan Pemerintah Kota Yogyakarta dan instansi terkait untuk melakukan terapi psikologi klinis yang mendalam bagi para korban.

"Saya berharap langkah tindak lanjut dapat segera dilakukan untuk memastikan masa depan anak-anak tersebut tetap terjaga," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wawancara Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU