Kamis, 09 APRIL 2026 • 17:41 WIB

Cerita Ezra Timothy Pemuda Berusia 25 Tahun Mengungkap Rahasia DNA Purba Dasar Laut di Antartika Ternyata Alumni UGM

Author

Potret Ezra Timothy Nugroho (25), menuntaskan ekspedisi ilmiah selama 57 hari di Antartika bersama tim dari University of Tasmania. (Olivia Rianjani)

JOGJA - Seorang peneliti muda asal Indonesia, Ezra Timothy Nugroho (25), menuntaskan ekspedisi ilmiah selama 57 hari di Antartika bersama tim dari University of Tasmania.

Alumni Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menghadapi berbagai kondisi ekstrem, mulai dari suhu mencapai minus 30 derajat Celsius hingga gelombang tinggi di tengah samudra.

Perjalanan penelitian dimulai dari Hobart, Tasmania, pada 2 Januari 2026. Selama hampir dua bulan, Ezra dan sekitar 20 ilmuwan lintas negara menjalankan riset di kapal penelitian Investigator. Mereka bekerja dalam ritme yang tidak biasa, dengan durasi hingga 12 jam per hari tanpa hari libur.

"Kami kerja 12 jam per hari tanpa libur. Bahkan saya shift dari jam 2 pagi sampai 2 siang. Dua minggu pertama cukup berat, tapi setelah itu mulai terbiasa," ujar Ezra saat ditemui di Gedung Pusat UGM, Kamis (9/4/2026).

Selain suhu ekstrem, fenomena alam khas Antartika turut menjadi tantangan tersendiri. Pada musim panas, matahari hampir tidak pernah benar-benar terbenam.

"Jam 11 malam masih terang, jam 1 pagi sudah seperti siang lagi. Jadi waktu terasa aneh, seperti tidak ada malam," katanya.

Dalam ekspedisi tersebut, Ezra meneliti Sedimentary Ancient DNA, yakni DNA purba yang tersimpan di sedimen dasar laut. Ia mengambil sampel menggunakan metode coring system, berupa pipa silinder panjang yang menembus dasar laut.

"Saya fokus mendeteksi DNA hewan laut, khususnya moluska. Sampel yang kami ambil berumur antara 6 ribu sampai 350 ribu tahun," jelasnya.

Penelitian yang ia lakukan bahkan berhasil mengidentifikasi spesies moluska purba dari Antartika, yang disebutnya sebagai temuan pertama di dunia dalam pendekatan tersebut.

"Sejauh yang kami tahu, belum pernah ada penelitian yang mendeteksi DNA moluska dari sedimen purba seperti ini," tegasnya.

Menurut Ezra, riset ini tidak hanya berkontribusi pada penemuan ilmiah, tetapi juga memiliki dampak penting dalam memahami perubahan lingkungan global. Dengan membandingkan DNA masa lalu dan masa kini, ilmuwan dapat mempelajari bagaimana organisme beradaptasi terhadap perubahan iklim.

"Kami ingin melihat perubahan genom dari ratusan ribu tahun lalu dengan sekarang. Dari situ kita bisa tahu bagaimana mereka bertahan," ujarnya.

Baca juga: Dosen UGM Berikan Tips Kelola Keuangan Pascalebaran, Salah Satunya Cicilan Utang diluar Kredit KPR Tidak Lebih 35 Persen

Ia mengungkapkan, Antartika menjadi lokasi ideal untuk penelitian karena minim aktivitas manusia, sehingga perubahan yang terjadi dapat mencerminkan kondisi alami bumi.

"Perubahan di sana bisa jadi peringatan untuk seluruh dunia. Kalau di Antartika terjadi sesuatu, dampaknya bisa global," terangnya.

Dalam ekspedisi ini, Ezra menjadi satu-satunya peneliti asal Indonesia. Ia bergabung dengan ilmuwan dari berbagai negara, seperti Australia, Norwegia, Inggris, Italia, dan Amerika Serikat. Kesempatan tersebut datang melalui supervisornya, Prof. Linda Armbrecht, yang mengajaknya berdasarkan rekam jejak riset sebelumnya.

"Ini bukan seleksi umum, tapi karena saya sudah mengerjakan riset sebelumnya, saya diajak untuk mengambil sampel sendiri di sana," tuturnya.

Di balik tantangan berat, Ezra juga mengalami berbagai momen berkesan selama berada di Antartika. Ia mengaku hampir setiap hari dapat menyaksikan satwa liar hingga fenomena langit yang langka.

"Hampir setiap hari lihat paus. Itu jadi tontonan sehari-hari. Lalu kami juga bisa melihat aurora karena langitnya sangat bersih tanpa polusi," kenangnya.

Baca juga: Konsumsi Rumah Tangga Mulai Terseret Imbas Geopolitik Timur Tengah, Pakar UGM Desak Pemerintah Kuatkan SDM dan Energi

Ke depan, Ezra berencana melanjutkan studi doktoral dan mengembangkan metode penelitian tersebut untuk diterapkan di Indonesia.

"Tujuan akhirnya supaya metode ini bisa digunakan di Indonesia, untuk menjaga keanekaragaman hayati kita," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU