Minggu, 05 APRIL 2026 • 17:55 WIB

Harga Minyak Dunia Naik, Guru Besar UGM Ini Tegaskan Pemerintah Genjot Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati

Author

Kenaikan harga minyak dunia. (Istimewa)

JOGJA - Pemerintah Indonesia menghadapi potensi krisis energi yang meningkat akibat situasi geopolitik global dan ancaman kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino. Penutupan aktivitas di Selat Hormuz, salah satu jalur minyak utama dunia, menambah tekanan pada pasokan energi nasional. Saat ini, sekitar 20-25 persen kebutuhan minyak tanah Indonesia masih bergantung pada impor dari Timur Tengah.

Guru Besar Fakultas Teknik UGM, Prof. Dr. Ir. Deendarlianto, S.T., menyoroti kerentanan ketahanan energi nasional yang hanya mampu bertahan 20 hingga 22 hari tanpa pasokan baru.

"Jika dalam 22 hari tidak masuk pasokan baru akan berisiko besar bagi industrialisasi, transportasi, kelistrikan, hingga potensi gejolak sosial," ujarnya, Minggu (5/4/2026).

Menurut Deen, kebutuhan minyak di Indonesia mencapai 1,5 juta barel per hari, namun produksi domestik baru mencapai 600 ribu barel per hari, sehingga Indonesia masih sangat tergantung pada impor.

Untuk mengantisipasi krisis, pemerintah tengah mendorong pemanfaatan energi terbarukan. Salah satu langkah yang dinilai penting adalah penerapan kebijakan B50, yaitu pencampuran Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis biodiesel pada solar, yang diperkirakan dapat mengurangi kebutuhan impor solar. Kebijakan ini dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Juli 2026.

Selain itu, Deen menekankan bahwa beberapa kebijakan lain, seperti penerapan Work From Home (WFH), perlu kajian lebih mendalam.

"Saya pikir itu ide yang baik, namun perlu dilakukan pengkajian yang lebih dalam lagi dan tidak untuk dijadikan generalisasi," kata Deen.

Baca juga: Kritik Pengalihan 58 Persen Dana Desa untuk Koperasi Merah Putih, Pakar UGM Sebut Itu Hak Desa

Deen juga menyoroti potensi pengembangan energi terbarukan lain, termasuk etanol, pemanfaatan sumber hayati seperti sorgum dan ketela sebagai pengganti bensin, serta pengembangan Dimethyl Ether (DME) sebagai alternatif Liquefied Petroleum Gas (LPG).

"Ketika harga gas naik karena rantai pasokan terganggu, dikembangkanlah energi terbarukan. Permasalahan ini menjadi momentum kebangkitan energi, kebangkitan riset perguruan tinggi di bidang energi," tegasnya.

Tak hanya itu, menurutnya fenomena El Nino yang diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akan muncul pada semester kedua 2026, turut menimbulkan kekhawatiran di berbagai sektor, termasuk operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan sektor pertanian yang membutuhkan solar untuk pompa air di musim kemarau.

"Beberapa sumber energi terbarukan yang bisa digunakan untuk menggantikan solar yaitu penggunaan mikroalga, biodiesel, hingga penggunaan energi surya," jelasnya.

Baca juga: Pemerintah Batasi Medsos untuk Anak di Bawah 16 Tahun, Pakar UGM:"Pembatasan Perlu Dibarengi Pendampingan"

Kendati demikian, Deen menegaskan bahwa pengembangan energi nasional membutuhkan perencanaan matang. Dengan adanya Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), pemerintah harus memastikan implementasinya berjalan baik sambil mendorong pertumbuhan industri energi dalam negeri.

"Kalau industrinya tumbuh dan berasal dari dalam negeri, akan membuat ekonomi negara berputar lebih cepat. Namun, jangan sampai memiliki kebijakan energi nasional tetapi tetap mendorong impor," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU