Senin, 30 MARET 2026 • 18:40 WIB

Konflik AS-Israel ke Iran Picu Pasokan Pupuk Kimia Terancam, Pakar UGM Desak Pemerintah Optimalkan Pupuk Organik Melalui BUMDES

Author

Potret pupuk organik di Indonesia. (Istimewa)

JOGJA - Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran berpotensi mengganggu pasokan pupuk berbasis nitrogen dari negara-negara Teluk, yang menjadi produsen utama dunia. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan keamanan pangan global, termasuk di Indonesia.

Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, Prof. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D., mengatakan kelangkaan pupuk kimia akibat konflik tersebut memang berisiko, tetapi sebenarnya bisa diatasi dengan memanfaatkan sumber daya lokal.

"Kalau misalnya pupuk organik, kemudian pupuk hayati kan sesungguhnya tidak tergantung impor, tapi kalau pupuk kimia memang sebagian bahannya harus impor," ujar Subejo, Senin (30/3/2026).

Menurutnya, apabila serangan berkepanjangan dan kapal-kapal yang membawa bahan baku pupuk tidak bisa masuk ke Indonesia, risiko kekurangan pupuk kimia akan meningkat. Namun, Subejo melihat situasi ini sebagai momentum untuk meningkatkan produksi pupuk dalam negeri.

"Jadi di satu sisi, tetap ada risiko kekurangan pupuk, kimia, tapi kita berkesempatan untuk mengganti ke pupuk organik. Kalau hal ini serius antara pemerintah dengan swasta, bersama masyarakat, ini adalah momentum untuk memanfaatkan sumber daya yang kita punya," terangnya.

Baca juga: Konflik As - Iran-Israel, Pakar UGM Minta Indonesia Waspadai Dampak Ekonomi dan Energi

Subejo menambahkan, jika kondisi pasokan pupuk tidak membaik, stok untuk musim tanam berikutnya akan terdampak. Saat ini, pemerintah dipastikan masih memiliki cadangan pupuk untuk musim tanam saat ini.

"Mungkin untuk masa penanaman Juli atau Juni itu yang saya kira yang berisiko, kalau ini misalnya distribusi bahan bakunya tidak lancar," katanya.

Meski potensi pupuk organik di Indonesia besar, menurutnya kebutuhan pupuk non-organik tetap tidak bisa sepenuhnya digantikan. Ia memperingatkan, jika stok pupuk kimia berkurang hingga 50 persen, risiko besar akan muncul bagi produksi pangan.

Untuk itu, Subejo menekankan pentingnya antisipasi sejak dini, termasuk produksi pupuk organik di tingkat desa melalui kelompok tani maupun BUMDES.

"Bantuan mesin pupuk tidak harus besar, tetapi cukup memuat untuk produksi pupuk di tingkat desa. Ini diantisipasi mulai sekarang, karena 4 bulan tidak disiapkan dan tiba-tiba bahan bakunya betul-betul tidak bisa masuk, pasti nanti akan beresiko kebutuhan petani, sehingga petani tidak bisa memproduksi berbagai komoditas dengan baik," jelasnya.

Baca juga: Warga Kulon Progo Kenang Sosok Praka Farizal Rhomadhon Tewas diserang Israel Saat di Lebanon: "Almarhum Aktif di Karang Taruna"

Sebagai langkah strategis lainnya, pemerintah juga perlu mendorong edukasi masyarakat agar tidak terlalu bergantung pada pupuk kimia dan mulai beralih ke pupuk organik.

"Jika hal tidak disiapkan, nanti ketika misalnya betul-betul terjadi kelangkaan, harganya sangat mahal, kemudian tidak tersedia, pasti masyarakat akan kolaps. Tapi kalau strategi tersebut dilakukan, melalui penyuluhan, melalui pengadaan mesin, termasuk mungkin pelatihan, saya kira menjadi kesempatan yang sangat baik untuk mulai disiapkan," pungkas Subejo.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU