JOGJA - Eskalasi konflik antara Iran dan Israel kembali menimbulkan kekhawatiran global karena potensi mengganggu stabilitas geopolitik dan ekonomi dunia. Ketegangan meningkat setelah Iran dilaporkan menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu titik vital distribusi minyak global. Gangguan ini memicu kekhawatiran akan lonjakan harga minyak dan dampaknya terhadap perekonomian internasional.
Isu tersebut menjadi fokus Diskusi Pojok Bulaksumur bertajuk "Dampak Perang Timur Tengah bagi Hubungan Diplomatik, Ancaman Resesi Global, dan Kelangkaan Energi", yang digelar Kamis (5/3/2026) di Gedung Pusat UGM.
Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UGM, Prof. Siti Mutiah Setyawati, menekankan bahwa konflik Iran-Amerika Serikat memiliki akar sejarah panjang. Menurutnya, hubungan kedua negara telah mengalami berbagai fase ketegangan sejak Revolusi Iran 1979, yang diikuti putusnya hubungan diplomatik dengan Barat.
"Sejak Revolusi Iran tahun 1979 hubungan Iran dengan Amerika Serikat terus berada dalam ketegangan dan berbagai narasi politik kemudian membentuk persepsi global terhadap Iran," ujar Siti.
Ia juga menyoroti pula keputusan Indonesia bergabung dalam Board of Peace yang diprakarsai Amerika Serikat. Forum ini diklaimnya bertujuan mendorong perdamaian di Gaza, namun Palestina tidak dilibatkan dalam struktur keanggotaannya. Siti menilai keikutsertaan Indonesia berpotensi memunculkan persepsi keberpihakan.
"Mediator dalam konflik harus berada dalam posisi netral, sementara ketika Indonesia masuk dalam Board of Peace yang beranggotakan Amerika Serikat dan Israel maka akan sulit bagi pihak lain seperti Iran untuk menerima Indonesia sebagai penengah," ujarnya.
Dampak konflik juga terasa dari sisi ekonomi global. Dosen Departemen Ekonomika dan Bisnis Sekolah Vokasi UGM, Yudhistira Hendra Permana, Ph.D, menjelaskan bahwa eskalasi konflik Iran-Israel dapat menimbulkan tekanan inflasi di berbagai negara akibat kenaikan harga minyak.
"Kenaikan harga energi akan mendorong cost-push inflation karena energi masih menjadi faktor produksi utama di banyak sektor," katanya.
Yudhistira menambahkan bahwa negara dengan tingkat keterbukaan ekonomi tinggi, termasuk Indonesia, akan merasakan dampak lebih signifikan. Ketergantungan terhadap impor energi serta hubungan perdagangan dengan negara besar membuat ekonomi nasional rentan terhadap guncangan eksternal.
"Indonesia adalah small open economy country yang sangat bergantung pada kondisi ekonomi global sehingga gejolak geopolitik seperti ini akan cepat memengaruhi inflasi dan nilai tukar," tuturnya.
Sementara itu, Dr. Rachmawan Budiarto dari Pusat Studi Energi UGM menyoroti risiko terhadap ketahanan energi. Penutupan Selat Hormuz, kata Rachmawan, menimbulkan risiko terhadap pasokan energi global karena jalur tersebut dilalui sebagian besar distribusi minyak dunia.
"Ketika Selat Hormuz terganggu, ratusan kapal tanker harus menunggu dan hal ini langsung menimbulkan risiko terhadap ketersediaan energi global," jelasnya.
Baca juga: Konflik Iran - AS - Israel, Pengamat UMY Tak Akan Picu Perang Dunia Ketiga Tapi...
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung