Kamis, 26 MARET 2026 • 18:15 WIB

DPRD DIY Setuju Soal Rencana WFA Sepekan Sekali, Tapi Pertimbangkan Hal Ini

Author

Jajaran Ketua DPRD DIY dan tiga Wakil DPRD DIY. (Istimewa)

JOGJA - Rencana pemerintah pusat untuk mencanangkan kebijakan Work From Anywhere (WFA) satu kali dalam sepekan mendapat tanggapan dari pimpinan DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sebagaimana diketahui, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengatakan, jajaran menteri Kabinet Merah Putih sudah menyepakati hari work from home (WFH) alias kerja dari rumah. Kebijakan satu hari bekerja dari rumah ini merupakan upaya penghematan energi imbas konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Ketua DPRD DIY, Nuryadi, menegaskan bahwa daerah pada prinsipnya akan mengikuti kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah pusat.

"Iya kita nggakpapa. Jika itu keputusan tidak ada hal yang harus ditolak oleh daerah, tidak boleh. Sebagai konsekuensi NKRI ini. Jadi pemerintah sudah menghitung pasti apapun alasannya kita bukan ekonom disini tapi tidak usah menghitung bagaimana anggaran diapa namanya itu diirit, gitu lah," ujar Nuryadi kepada wartawan di kantornya, Kamis (26/3/2026).

Terkait kemungkinan pengawasan terhadap aparatur sipil negara (ASN) yang menjalankan WFA, ia menyebut pihaknya masih menunggu kebijakan teknis dari pemerintah daerah.

"Kita lihat aja nanti seperti apa policy daripada pemerintah daerah DIY. Artinya dilaksankan atau tidak, yang jelas lembaga kami bukan mengambil posisi untuk menjudge, tetapi kami bisa menyampaikan koordinasi dengan gubernur jika ada sesuatu yang tidak berjalan dengan baik," katanya.

Karena itulah, ia juga menekankan pentingnya batas kewenangan lembaga legislatif dalam menyikapi kebijakan tersebut.

"Sehingga jangan sampai Lembaga Dewan atau individu Dewan mengambil langkah bukan haknya. Ini yang paling penting yang harus kita tegaskan," tegasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD DIY, Budi Waljiman, menjelaskan bahwa kebijakan WFA dari pemerintah pusat memiliki latar belakang strategis, khususnya dalam mengantisipasi lonjakan konsumsi energi, termasuk bahan bakar minyak (BBM).

"Ya WFA dari pemerintah pusat itu tadi sampaikan Pak Ketua memang kebijakan dari pusat. Yang saya tahu adalah kebijakan sebenarnya untuk mengantisipasi artinya ini mengantisipasi lonjakan terutama lonjakan kebutuhan dari BBM yang ada," ujar Budi.

Dalam hal ini, ia menyoroti kondisi global yang tengah mengalami tekanan energi, yang juga berpotensi berdampak pada Indonesia.

"Karena kita tahu semuanya kita bicara hari ini di seluruh regional di sekitar Indonesia ini baik Malaysia, Singapura, Vietnam, sekitarnya, apalagi yang Filipina sekarang mereka sedang krisis energi, mereka hari ini di Singapura satu liter itu kalau nggak salah sudah menembus hampir 30 ribuan," katanya.

Baca juga: Pesan Sultan HB X dan DPRD DIY Dalam Hari Jadi DIY Ke-271

Meski begitu, menurutnya, Indonesia saat ini masih mampu menjaga stabilitas harga BBM berkat subsidi pemerintah.

"Kita masih harganya tidak berubah Pemerintah kita masih memsubsidi supaya harga ini, tapi kalau tidak kita antisipasi lama-lama juga kita akan mengaruhi BBM kita mempengaruh keuangan kita, juga akan cadangan kita terkuras," jelas Budi.

Namun, ia mengingatkan bahwa jika kondisi tersebut tidak diantisipasi, dampaknya akan meluas ke berbagai sektor.

"Kalau sudah seperti itu nantinya kita nggak mau nantinya di ujung nanti harga BBM itu akan naik. Kalau harga BBM naik Pasti semua sektor ekonomi semua penganggaran semuanya akan berubah mau itu di APBD, APBN apalagi," katanya.

Serta, Budi menegaskan bahwa kebijakan WFA merupakan salah satu langkah efisiensi energi.

"Ini sebenarnya WFA arahnya ke arah situ sebenarnya untuk bagaimana yang tidak Penting-penting, artinya bisa dikerjakan dari rumah, kurang lebih seperti ini," ujarnya.

Selain itu, kebijakan ini juga dinilai sebagai langkah antisipatif sembari menunggu perkembangan situasi geopolitik global.

"Untuk antisipasi sambil kita menunggu perkembangan secara geopolitik dari luar ini karena bagaimanapun di seluruh dunia terimbas, di Amerika ini sekarang satu liter bisa 80 ribu disana, kita masih tetap. Ya tujuan WFA sebenarnya itu," ungkap Budi.

Baca juga: Momen Syawalan, Ketua DPRD DIY Nuryadi Dorong Evaluasi Danais :"Danais Jangan dipolitisasi"

Terkait kebutuhan jangka panjang, Budi juga menyinggung pentingnya transisi energi.

"Sembari mungkin ini ada terobosan-terobosannya nanti dari yang kita sekarang berlimpah itu batu bara kita menjadikan liquid menjadi sumber energi terbarukan, ya kita tidak tahu itu artinya. Itu kan butuh proses," jelasnya.

Oleh karena itu, ia kembali menekankan pentingnya penghematan energi sebagai langkah sementara.

"Untuk sementara menurut saya artinya kita bisa mengirit konsumsi yang ada cadangan energi kita supaya rencana-rencana tadi kalau sudah ada antisipasinya kita sudah siap. Sehingga diujung kita tidak akan memberatkan masyarakat dengan kenaikan BBM yang ada," pungkas Budi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU