Senin, 09 MARET 2026 • 15:30 WIB

Penjelasan Pakar UGM Kepada Pemerintah untuk diversifikasi Sumber Impor Minyak ditengah Konflik Global

Author

Diskusi Pojok Bulaksumur bertajuk "Dampak Perang Timur Tengah bagi Hubungan Diplomatik, Ancaman Resesi Global, dan Kelangkaan Energi", yang digelar Kamis (5/3/2026) di Gedung Pusat UGM. (Olivia Rianjani)

JOGJA - Ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat (AS) dan Israel kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Situasi keamanan di sekitar Selat Hormuz yang merupakan jalur utama perdagangan minyak global dinilai berpotensi mengganggu distribusi energi dan memicu kenaikan harga minyak.

Pakar studi energi UGM Rachmawan Budiarto, menilai kondisi tersebut perlu diwaspadai karena dapat berdampak pada ketahanan energi nasional, terutama bagi negara yang masih bergantung pada impor bahan bakar minyak. Rachmawan menjelaskan bahwa persoalan energi tidak bisa dilepaskan dari konsep trilema energi, yakni keseimbangan antara keamanan pasokan, keterjangkauan harga, serta keberlanjutan lingkungan.

"Dalam konteks energi kita selalu berbicara tentang tiga hal utama, yaitu keamanan pasokan energi, keterjangkauan harga energi, dan dampaknya terhadap lingkungan,” ujarnya, Senin (9/3/2025).

Menurutnya, gangguan jalur distribusi energi seperti yang terjadi di sekitar Selat Hormuz harus dipandang sebagai risiko serius bagi sistem energi global. Ia menilai indikasi gangguan sudah terlihat dari pergerakan harga minyak dunia yang melampaui asumsi harga minyak dalam perencanaan anggaran negara.

"Kalau kita lihat pergerakan harga minyak saja sudah melewati asumsi yang digunakan dalam APBN, itu menunjukkan risiko gangguan pasokan sudah berada di depan mata," tutur Rachmawan.

Baca juga: Konflik As - Iran-Israel, Pakar UGM Minta Indonesia Waspadai Dampak Ekonomi dan Energi

Selain kenaikan harga, situasi keamanan di jalur pelayaran juga berdampak pada aktivitas distribusi energi. Sejumlah kapal tanker dilaporkan menunda perjalanan akibat meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut. Rachmawan menyebutkan laporan internasional menunjukkan ratusan kapal tanker sempat tertahan di sekitar jalur pelayaran energi.

"Kurang lebih ada sekitar 150 sampai 200 kapal tanker yang harus berhenti dan itu sudah menunjukkan ada persoalan pada sisi ketersediaan energi," ungkapnya.

Kondisi ini, lanjutnya, menjadi pengingat akan kerentanan sistem energi Indonesia yang masih bergantung pada impor. Ketika terjadi gangguan pada jalur distribusi global, negara pengimpor akan langsung merasakan dampaknya.

"Menyerahkan nasib pasokan energi kepada negara lain kurang lebih seperti menyerahkan leher kita kepada orang lain," ucapnya.

Untuk menjaga stabilitas pasokan dalam jangka pendek, pemerintah dinilai perlu melakukan diversifikasi sumber impor minyak. Namun langkah tersebut juga memiliki konsekuensi terhadap rantai pasok energi, terutama terkait jarak pengiriman dan biaya logistik.

"Kalau kita mengambil minyak dari Amerika misalnya, secara geografis jaraknya jauh sehingga waktu pengiriman dan biaya logistik juga perlu diperhitungkan," imbuhnya.

Selain itu, peningkatan cadangan strategis energi juga dinilai menjadi langkah penting. Rachmawan menyebut cadangan minyak Indonesia saat ini masih relatif terbatas jika dibandingkan dengan sejumlah negara maju.

"Cadangan strategis minyak kita hanya sekitar dua puluhan hari, sementara Jepang bisa mencapai sekitar dua ratus hari," paparnya.

Baca juga: Sebut Indonesia Sulit Jadi Mediator Konflik Iran-Israel, Jusuf Kalla :"Harusnya Trump yang Harus diberikan Atensi"

Meski demikian, ia menekankan penguatan ketahanan energi tidak cukup hanya melalui solusi jangka pendek. Indonesia, menurutnya, memiliki potensi energi domestik yang besar, seperti panas bumi, bioenergi, dan sumber energi baru terbarukan lainnya yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan. Menurut Rachmawan, kebijakan energi yang diambil saat ini akan sangat menentukan arah pembangunan energi Indonesia di masa depan.

"Kalau generasi sekarang mengambil keputusan energi yang tidak tepat, yang akan membayar dampaknya bukan kita, tetapi future generation yang masih hidup puluhan tahun ke depan," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU