Kamis, 05 MARET 2026 • 14:55 WIB

Imbas Dinamika Global Saat Ini Inflasi DIY Februari Jadi 0,68 Persen, BI: Dipicu Lonjakan Harga Emas Perhiasan

Author

Jumpa pers di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Rabu (4/3/2026). (Olivia Rianjani)

JOGJA - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat inflasi pada Februari 2026 secara bulanan sebesar 0,68 persen atau setara 4,91 persen secara tahunan. Kenaikan inflasi tersebut terutama dipicu oleh lonjakan harga emas perhiasan di tengah dinamika ekonomi global.

Kepala Tim Perumusan Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daerah (KEKDA) Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY, Arya Jodilistyo, mengatakan tekanan inflasi pada Februari memang meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.

"Perkembangan inflasi DIY hingga bulan Februari secara bulanan berada di angka 0,68 persen atau jika dikonversi secara tahunan berada di angka 4,91 persen. Angka ini relatif mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya sehingga tekanan inflasi di Februari lebih tinggi dibanding periode sebelumnya," ujarnya, dalam jumpa pers, di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Rabu (4/3/2026).

Menurutnya, faktor utama pendorong inflasi berasal dari komoditas emas perhiasan yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap inflasi bulanan.

"Kalau kita lihat dari komoditas sendiri yang menjadi pemicu utama adalah emas perhiasan. Emas perhiasan secara bulanan menyumbang hampir setengah dari inflasi bulanan, yakni sekitar 0,3 persen dari total inflasi 0,68 persen," katanya.

Arya menjelaskan kenaikan harga emas tidak terlepas dari pengaruh eskalasi global yang turut mendorong kenaikan harga hingga ke tingkat daerah.

"Pengaruh eskalasi global sangat memberikan dampak terhadap tekanan harga emas bahkan sampai ke level daerah," katanya.

Sementara itu, komoditas bahan pangan dinilai masih relatif terkendali sehingga mampu menahan tekanan inflasi yang lebih tinggi.

"Komoditas bahan pangan sebenarnya relatif masih terkendali. Cabai rawit menyumbang sekitar 0,12 persen, kemudian daging ayam ras sekitar 0,06 persen. Itu semua sebenarnya bisa menahan tekanan dari inflasi emas perhiasan," ungkapnya.

Secara tahunan, Arya mengatakan angka inflasi terlihat lebih tinggi karena adanya efek perbandingan yang rendah pada tahun sebelumnya. “Secara tahunan ada dampak penurunan listrik di tahun lalu yang memberikan efek low base. Sehingga ketika dibandingkan tahun ini, angkanya seolah-olah menjadi lebih tinggi," jelasnya.

Arya menyebut, jika komoditas emas dikeluarkan dari perhitungan, inflasi DIY sebenarnya masih berada di sekitar target inflasi nasional.

"Ketika komoditas emas dikeluarkan, inflasi DIY sebenarnya masih berada sedikit di atas rentang target sasaran inflasi kita. Target inflasi kita 2,5 persen plus minus 1 persen. Jika emas dikeluarkan, inflasi berada di sekitar 3,6 persen," katanya.

Meski demikian, menurutnya Bank Indonesia menilai pengendalian inflasi masih dapat dilakukan melalui komoditas yang berada dalam kendali daerah, khususnya bahan pangan.

"Karena harga emas sangat tergantung pada kondisi global, maka kita membutuhkan komoditas lain yang bisa mengimbangi, misalnya dengan menurunkan inflasi dari komoditas yang masih berada dalam kendali seperti bahan pangan dan komponen inti inflasi," ujar Arya.

Disamping itu, Arya juga mengingatkan adanya potensi kenaikan inflasi menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Ramadan dan Idul Fitri.

"Secara pola, ketika ada perayaan hari besar keagamaan nasional biasanya diikuti kenaikan harga komoditas. Pola di DIY juga menunjukkan hal yang sama, terutama saat periode Idul Fitri," katanya.

Namun pada triwulan pertama tahun ini, tekanan inflasi diperkirakan dapat diredam karena bertepatan dengan periode panen beberapa komoditas pangan.

"Kita bersyukur pada triwulan pertama ini periode HBKN diimbangi dengan masa panen beras dan beberapa komoditas lainnya, sehingga bisa mengimbangi tekanan kenaikan harga selama puasa dan Lebaran," jelasnya.

Lanjut Arya menyebut bahwa komoditas cabai rawit dan cabai merah menjadi komoditas yang paling sering memicu volatilitas inflasi di DIY dalam dua tahun terakhir.

"Berdasarkan analisis kami, komoditas yang sering memberikan tekanan inflasi dengan andil tinggi adalah cabai rawit dan cabai merah," ujarnya.

Kemudian, Bank Indonesia juga menyoroti faktor psikologis masyarakat yang turut memengaruhi inflasi, terutama menjelang periode hari besar keagamaan.

"Kenaikan inflasi tidak hanya disebabkan oleh surplus atau defisit pasokan, tetapi juga dipengaruhi faktor psikologis masyarakat, terutama ekspektasi harga," kata Arya.

Ia mencontohkan persepsi masyarakat yang menganggap harga pasti naik menjelang Lebaran dapat memicu kenaikan harga lebih cepat.

"Misalnya ketika ke pasar lalu bertanya kepada pedagang apakah harga akan naik, biasanya mereka menjawab ‘biasanya kalau puasa Lebaran naik’. Kata ‘biasanya’ ini menjadi indikasi ekspektasi masyarakat yang kemudian memicu kenaikan harga lebih awal," ucapnya.

Menurut Arya, fenomena tersebut dapat menimbulkan siklus self-fulfilling prophecy, di mana ekspektasi kenaikan harga justru mendorong kenaikan harga itu sendiri.

"Pedagang menaikkan harga lebih awal, masyarakat membeli lebih banyak lebih cepat, akhirnya harga benar-benar naik meskipun pasokan sebenarnya masih ada," tuturnya.

Baca juga: LPDP dan Muhammadiyah Gelontorkan Dana Rp 20 Miliar untuk 26 Proposal Riset Dorong Indonesia Emas 2045

Untuk mengantisipasi hal tersebut, kata dia, Bank Indonesia bersama Pemda terus mendorong transparansi data dan edukasi kepada masyarakat terkait kondisi inflasi.

"Yang paling penting adalah bagaimana kita membuka data secara transparan agar masyarakat memiliki ekspektasi yang lebih positif terhadap kondisi harga," tegas Arya.

Disisi lain, Bank Indonesia memantau sentimen pemberitaan media terkait harga menggunakan teknologi machine learning.

"Kami menggunakan tools machine learning untuk menganalisis sekitar 100 artikel media. Saat ini sentimennya masih 50 banding 50 antara berita negatif dan positif terkait harga di DIY," imbuhnya.

Baca juga: Sekda DIY : Cabai disini Primadona Sampai ke Luar Daerah, Dorong Tanam di Pekarangan

Meski terdapat berbagai tekanan, Bank Indonesia tetap optimistis inflasi DIY masih berada dalam kisaran target nasional.

"Kami masih meyakini bahwa tekanan inflasi di DIY masih akan sesuai dengan target sasaran inflasi nasional 2,5 persen plus minus 1 persen, meskipun ada potensi berada di batas atas karena berbagai tekanan global yang perlu diwaspadai," pungkas Arya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU