Rabu, 25 FEBRUARI 2026 • 11:00 WIB

Dihadapan Jamaah RPL Maskam UGM, Wamenhaj Sebut Pemimpin Adalah Cermin Rakyat

Author

Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, saat hadiri kajian Ramadhan 2026 di Maskam UGM. (Istimewa)

JOGJA - Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengatakan bahwa kualitas kepemimpinan suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari karakter rakyatnya. Menurutnya, pemimpin dan rakyat merupakan dua sisi yang saling mencerminkan, sehingga diperlukan refleksi bersama untuk memastikan proses bernegara berjalan di jalur yang benar.

Hal itu disampaikan Dahnil saat menjadi pembicara dalam Ramadan Public Lecture (RPL) di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Minggu (22/2/2026). Dalam forum tersebut, ia mengangkat tema "Bagaimana Al-Qur’an Memandu Kehidupan Bernegara?".

"Pemimpin adalah cermin dari rakyatnya, dan rakyat juga cermin dari pemimpinnya. Karena itu kita perlu refleksi, apakah proses kenegaraan yang berlangsung selama ini sudah baik dan benar atau belum," ujar Dahnil di hadapan jamaah.

Baca juga: Pakar UGM Ungkap Indonesia Miliki Potensi Logam Tanah Jarang, Soroti Peluang Ini

Ia pun menekankan bahwa dalam praktik bernegara, keilmuan menjadi fondasi penting, terutama bagi para pengambil kebijakan.

"Tanpa basis pengetahuan dan integritas, menurutnya, keputusan yang dihasilkan berisiko menjauh dari nilai-nilai keadilan," ucapnya.

Dahnil juga menyoroti pentingnya menghadirkan pemimpin yang amanah di era demokrasi. Ia menyebut, sistem demokrasi menuntut masyarakat untuk mampu memilih dan melahirkan figur-figur yang dapat dipercaya.

"Di era demokrasi yang kita tuntut adalah bagaimana kita punya kemampuan menghadirkan pemimpin-pemimpin yang memegang amanah sepenuhnya, yang bisa dipercaya, dan punya integritas," katanya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan tantangan integritas di tengah derasnya arus informasi digital. Menurutnya, kebenaran dan kesalahan kerap kali terdistorsi oleh algoritma media sosial, sehingga masyarakat dituntut memiliki kecakapan literasi digital.

"Di tengah informasi yang surplus luar biasa banyak, maka kemampuan kita untuk menjaring itu dituntut. Jangan sampai algoritma yang menentukan cara kita melihat benar dan salah," tuturnya.

Baca juga: Pakar UGM Ungkap Indonesia Miliki Potensi Logam Tanah Jarang, Soroti Peluang Ini

Kemudian, Dahnil menguraikan empat esensi kehidupan bernegara menurut perspektif Al-Qur’an, yakni keadilan, musyawarah, persatuan, dan tanggung jawab. Dari keempat prinsip tersebut, ia menilai keadilan sebagai fondasi utama yang tak pernah selesai diperjuangkan.

"Keadilan adalah diskursus yang tidak pernah selesai, tidak pernah tuntas sampai dengan akhir zaman," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU