Sabtu, 24 JANUARI 2026 • 14:45 WIB

Warga Lamongan Pasti Bangga, Dea Angelia Kamil Raih Gelar Doktor dari UGM di Usia 26 Tahun 11 Bulan

Author

Dea Angelia Kamil, yang berhasil meraih gelar doktor dari Program Studi Doktor Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UGM di usia 26 tahun (Istimewa)

JOGJA - Universitas Gadjah Mada (UGM) baru saja mewisuda 1.061 lulusan pascasarjana, terdiri dari 825 lulusan magister, 118 spesialis, 14 subspesialis, dan 104 doktor, serta 13 lulusan dari periode sebelumnya. Salah satu yang menarik perhatian adalah Dea Angelia Kamil, yang berhasil meraih gelar doktor dari Program Studi Doktor Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, di usia 26 tahun 11 bulan 17 hari. Padahal, rata-rata usia lulusan program doktor di UGM adalah 40 tahun 5 bulan 15 hari.

Dea mengatakan bahwa pencapaian tersebut tak lepas dari persiapan matang dan dukungan beasiswa.

"Saya dapat menyelesaikan S2 dan S3 kurang lebih sekitar empat tahun," ujarnya, Jumat (23/1/2026).

Ia menjelaskan, dirinya menjadi salah satu lulusan termuda berkat mengikuti program akselerasi di bangku SMA dan memperoleh beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) saat mendaftar S2.

Baca juga: Dari Anak Penjual Roti Hingga Menteri dan Rektor, Lika - Liku Perjungan Manuel Vong, Wisudawan Pascarsarjana UGM

Ketertarikan Dea pada komputasi sejak S1 membuatnya memutuskan untuk berpindah dari jurusan Matematika ke Ilmu Komputer, agar bisa lebih fokus mendalami bidang Machine Learning dan Artificial Intelligence (AI).

"Saya tertarik di bidang machine learning atau AI karena ketika S1 terdapat mata kuliah tersebut. Saya ingin lebih terfokus sehingga mengambil program studi Ilmu Komputer di UGM untuk melanjutkan pendidikan saya," jelasnya.

Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Dea selama studi adalah mengikuti Program Peningkatan Kualitas Publikasi Internasional (PKPI) bagi mahasiswa PMDSU. Ia mendapat kesempatan melakukan penelitian di University of Ulsan, Korea Selatan, dengan topik Intelligent Transportation System, khususnya vehicle speed estimation.

"Jadi saya membuat sistem yang akan berjalan secara otomatis sehingga sangat meminimalkan adanya intervensi secara manual," katanya.

Bagi mahasiswi asal Lamongan ini, menempuh program doktor di Korea Selatan bukan sekadar soal akademik, tetapi juga ujian ketangguhan.

"Etos kerja yang disiplin dari Senin hingga Jumat. Bahkan Sabtu pun masih diisi dengan seminar dan bimbingan profesor. Tantangan itu kian terasa saat harus beradaptasi dengan musim dingin yang mengejutkan," kenangnya.

Dea menambahkan bahwa pencapaiannya tak lepas dari dukungan lingkungan sekitar. Kebahagiaan pun terasa lengkap karena sang suami, yang juga rekan seperjuangan di program PMDSU, turut diwisuda bersamaan dengannya.

"Komunitas belajar di sini sangat positif. Terutama teman-teman di laboratorium yang bertemu setiap hari dan rutin melaksanakan diskusi mingguan," ungkapnya.

Baca juga: Dikukuhkan Jadi Guru Besar Fakultas Hukum UGM, Pidato Zainal Arifin Mochtar Sebut Lembaga Independen Anak Kandung Reformasi Kini Rentan Pelemahan

Ia menambahkan peran penting teman-teman dan promotor Prof. Agus Harjoko di Laboratorium Elektronika dan Instrumentasi (Elins) yang membantunya selama proses riset.Dea menitipkan pesan reflektif bagi para calon doktor.

"Kejarlah mimpimu, tapi perlu dipahami bahwa perjalanan S3 itu memiliki tantangan tersendiri, seperti tuntutan publikasi dan proses riset yang panjang. Ada pepatah yang mengatakan bahwa 'PhD is not for everyone', tapi jika telah menemukan jalan di sana, setiap prosesnya akan terasa sangat berharga," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Di Grup WA

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU