Jumat, 09 JANUARI 2026 • 16:20 WIB

Varian Influenza Subclade K Masuk Jogja, Dinkes Sebut Self-Preventing Disease : "Bisa Sembuh Sendiri"

Author

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Yogyakarta, dr. Lana Unwanah (Olivia Rianjani)

JOGJA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta mengonfirmasi masuknya Varian Influenza Subclade K atau yang di masyarakat dikenal sebagai super flu. Meski secara umum mirip dengan flu biasa, varian ini memiliki gejala yang lebih berat dan durasi sakit yang lebih panjang, sehingga masyarakat, khususnya kelompok rentan, diminta meningkatkan kewaspadaan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Yogyakarta, dr. Lana Unwanah, menjelaskan bahwa secara prinsip penyakit ini masih termasuk influenza yang disebabkan oleh virus, sehingga dapat sembuh dengan sendirinya apabila daya tahan tubuh dalam kondisi baik.

"Sebetulnya sama saja dengan flu pada umumnya, hanya memang durasinya lebih panjang dibandingkan flu yang selama ini kita kenal. Kalau flu biasa itu 2 - 3 hari biasanya sudah sembuh," ujar dr. Lana, dalam jumpa pers di Balai Kota, Jumat (9/1/2026).

Ia menerangkan bahwa virus influenza merupakan penyakit yang bersifat dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, kondisi imunitas tubuh sangat berpengaruh terhadap lamanya penyembuhan.

"Virus itu secara alami adalah penyakit yang akan sembuh sendiri. Yang penting adalah kekuatan daya tahan tubuh kita," katanya.

Pernah Alami Gejala Flu Berat

dr. Lana mengungkapkan bahwa pada pertengahan hingga akhir tahun 2025, khususnya sekitar September - Oktober, Dinkes menemukan sejumlah kasus flu dengan gejala berat dan berkepanjangan. Ia bahkan mengaku sempat mengalami kondisi tersebut.

"Waktu itu memang kami menjumpai beberapa teman yang mengalami flu tergolong terpanjangan dengan gejala yang cukup berat. Kebetulan saat itu juga saya dan rekan saya ini sempat tertular," ungkapnya.

Karena latar belakang medis yang dimiliki, ia memilih melakukan pengobatan mandiri dengan pemeriksaan laboratorium.

"Kami kemudian mengobati diri sendiri ya, di dalam laboratorium pemeriksaan. Saya waktu itu sekitar 8 sampai 10 hari minum obat baru sembuh," jelas dr. Lana.

Berdasarkan rujukan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), dr. Lana menjelaskan bahwa gejala Varian Influenza Subclade K umumnya lebih berat dibandingkan flu musiman.

"Gejala yang sering ditemukan itu demam tinggi dan mendadak, nyeri otot dan persendian, lemas yang lebih ekstrem, sakit kepala yang lebih berat, serta batuk yang menetap dan berlangsung lama," paparnya.

Ia menyebut bahwa perbedaan paling terasa antara flu biasa dan super flu terletak pada lamanya waktu sakit.

"Durasi sakitnya lebih panjang dibandingkan flu yang biasa kita jumpai," imbuhnya.

Baca juga: Gara - Gara Diduga Pneumonia, Satu Bayi di Sleman Terdeteksi Super Flu, Dinkes DIY Sebut Belum Ada Vaksin Baru

Perbedaan Super Flu dan COVID-19

Terkait kekhawatiran masyarakat yang menyamakan super flu dengan COVID-19, dr. Lana menegaskan bahwa keduanya berasal dari virus yang berbeda dan menyerang organ pernapasan dengan pola yang tidak sama.

"Kalau super flu penyebabnya adalah Influenza A tipe H3N2, sementara COVID-19 disebabkan oleh SARS-CoV-2. Sama-sama virus, tapi beda keluarga," jelasnya.

Ia menambahkan, influenza umumnya hanya menyerang saluran pernapasan atas.

"Influenza A termasuk super flu ini hanya sampai saluran pernapasan atas, seperti tenggorokan atau trakea, dan jarang sekali menyebabkan ARDS. Berbeda dengan COVID-19 yang menyerang sampai ke paru-paru dan alveolus," katanya.

Kelompok Rentan Waspada Ekstra

Lebih lanjut, dr. Lana mengungkapkan bahwa kelompok rentan harus lebih waspada terhadap penularan Varian Influenza Subclade K.

"Yang berpotensi mudah terserang itu anak-anak, ibu hamil, lansia, serta orang dengan penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, kanker, atau gangguan sistem kekebalan tubuh seperti HIV," jelasnya.

Meski demikian, ia menyebutkan bahwa orang dengan kondisi tubuh sehat dan imunitas prima relatif tidak mudah tertular. Dalam hal ini, kata dia, virus itu sebenarnya secara alami adalah penyakit yang dimana self-preventing disease atau akan sembuh dengan sendirinya.

"Yang penting adalah kekuatan daya tahan tubuh kita. Akhirnya kemudian ada beberapa jenis virus ini, seperti selama ini kemarin COVID yang ternyata itu kemudian menyerang organ pernafasan yang lebih dalam," jelas dr Lana.

Dinkes Siapkan Protokol Kesehatan

Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Yogyakarta, dr. Endang Sri Rahayu, mengatakan pihaknya telah menyiapkan langkah antisipasi di fasilitas pelayanan kesehatan (faskes).

"Dari kami terkait tata pelaksana, rata-rata di faskes juga sudah disiapkan, termasuk logistik yang berhubungan dengan penanganan gejala seperti demam," ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya pembatasan aktivitas sosial bagi warga yang sedang sakit.

"Yang sakit sebaiknya tidak berinteraksi dengan banyak orang, membatasi kontak, memakai masker, serta rutin mencuci tangan dengan sabun di air mengalir," tegasnya.

Baca juga: Super Flu Terdeteksi di DIY, Kemenkes: "Bukan Virus Baru Seperti COVID-19"

Menurut dr. Endang, langkah pencegahan tersebut pada dasarnya sama dengan protokol kesehatan yang diterapkan saat pandemi COVID-19.

"Persis seperti penjagaan di era COVID dulu,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU