Senin, 22 DESEMBER 2025 • 17:40 WIB

Dihadiri Wamen Prof Stella, 100 Ketua OSIS SMA Ikuti Nusantara Future Leaders 2025 di UGM

Author

Kegiatan Nusantara Future Leaders (NFL) 2025 yang digelar di Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada 18 - 22 Desember 2025 (Istimewa)

JOGJA - Sebanyak 100 ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMA dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti kegiatan Nusantara Future Leaders (NFL) 2025 yang digelar di Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada 18 - 22 Desember 2025. Kegiatan yang diinisiasi Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) UGM ini menjadi forum nasional bagi pelajar SMA untuk berdialog, berdiskusi, serta memperdalam kapasitas kepemimpinan di tengah tantangan sosial dan perkembangan teknologi.

Koordinator Umum NFL 2025, Syafina Alya Darindrani, mengatakan forum ini dirancang sebagai ruang belajar yang menekankan penguatan karakter dan integritas calon pemimpin muda Indonesia. Menurutnya, para peserta berasal dari latar belakang daerah dan sekolah yang beragam.

"NFL bukan sekadar tempat bertukar gagasan, tetapi ruang untuk bertumbuh. Kami berharap para peserta pulang dengan kapasitas kepemimpinan yang lebih kuat dan kesadaran akan tanggung jawab sosialnya," katanya dalam keterangan tertulis, Senin (22/12/2025).

Ketua BEM KM UGM, Tio Ardiyanto, dalam sambutannya mengajak para peserta memahami realitas sistem sosial yang telah terbentuk jauh sebelum mereka menjadi bagian di dalamnya. Ia menggunakan analogi perang Mahabharata untuk menggambarkan tantangan kepemimpinan masa kini.

"Kita hidup dalam sistem yang kadang membuat kita menjadi korban. Karena itu, kita perlu belajar strategi bertahan dan menyerang secara cerdas, tidak hanya dalam konflik, tetapi juga dalam realitas sosial seperti sistem pendidikan," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Prof. Stella Christie, menyoroti ancaman hoaks dan disinformasi yang semakin masif di era digital. Ia menekankan pentingnya kemampuan berpikir rasional dan reflektif di kalangan generasi muda.

"Tidak ada yang lebih penting selain berpikir dengan nalar dan hati," tegas Stella di hadapan para peserta.

Ia memaparkan hasil riset global yang menunjukkan bahwa misinformasi dan disinformasi menjadi salah satu ancaman terbesar dunia saat ini.

"Lebih dari 1.100 pakar dari 136 negara sepakat bahwa misinformasi berbahaya karena memengaruhi persepsi dan perilaku manusia," jelasnya.

Baca juga: Pemda DIY Salurkan Living Cost Rp 300 Ribu per Bulan Kepada Lebih Dari Seribu Mahasiswa Sumatra

Menurut Stella, perkembangan kecerdasan buatan (AI) turut mempercepat penyebaran hoaks karena teknologi memudahkan produksi dan pengulangan informasi keliru. Namun, ia menegaskan bahwa akar persoalan bukan semata teknologi, melainkan cara manusia berpikir. Ia kemudian memperkenalkan konsep cognitive reflection, yakni kemampuan berpikir secara reflektif dan analitis.

"Otak manusia punya dua sistem berpikir. Yang cepat dan otomatis sering keliru, sementara yang lambat dan analitis lebih akurat. Mengaktifkan sistem kedua ini membantu kita membedakan hoaks dan kebenaran," katanya.

Prof Stella menambahkan bahwa langkah sederhana seperti berhenti sejenak sebelum membagikan informasi terbukti efektif menekan penyebaran hoaks.

"Cukup tiga detik untuk berpikir ulang, dampaknya bisa besar," tuturnya.

Baca juga: Akademisi UGM Soroti Tumpang Tindih Izin Perkebunan dan Tambang dalam Kawasan Hutan

Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Wening Udasmoro, menegaskan bahwa kepemimpinan tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari empati dan sikap inklusif.

"Pemimpin itu bukan hanya pintar, tetapi juga rendah hati, memiliki empati, solidaritas, dan toleransi yang kuat," pungkas Wening. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU