Jumat, 05 DESEMBER 2025 • 17:55 WIB

Prof. Eko Haryono dari UGM Jadi Anggota Dewan Pengurus Penelitian Karst Internasional di Bawah UNESCO

Author

Universitas Gadjah Mada (UGM). (Istimewa)

JOGJA - Kiprah puluhan tahun dalam riset dan pengelolaan kawasan karst di Indonesia mengantar Guru Besar Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Eko Haryono, dipercaya menjadi anggota Governing Board International Research Centre on Karst (IRCK) atau Dewan Pengurus Penelitian Karst Internasional yang berada di bawah naungan UNESCO.

Penunjukan ini menempatkan Prof. Eko Haryono dalam jajaran pakar kars dunia yang ikut menentukan arah penelitian dan pengelolaan kawasan karst secara global. Masa tugasnya dijadwalkan berlangsung mulai 2025 hingga 2031 sebagai bagian dari rotasi periodik IRCK.

Menurut Prof. Eko, posisi ini sekaligus menguatkan peran Indonesia dalam forum ilmiah internasional terkait percepatan ilmu dan konservasi kawasan karst. IRCK sendiri merupakan pusat penelitian internasional yang awalnya dibentuk oleh Kementerian Sumber Daya Alam Tiongkok pada 2008, dan kemudian disetujui UNESCO untuk meningkatkan pengetahuan serta pengelolaan berkelanjutan kawasan karst.

Penunjukan Prof. Eko Haryono didasarkan pada kiprahnya di berbagai organisasi keilmuan dunia, termasuk posisinya sebagai Ketua Komisi Karst International Geographical Union.

"Anggota Governing Board berasal dari perwakilan UNESCO, pemerintah Tiongkok, lembaga geologi, dan para top scientist di bidang kars,” ujarnya pada Kamis (4/12/2025).

Kepercayaan ini juga menjadi pengakuan terhadap peran UGM dalam pengembangan riset dan kapasitas akademik di bidang karst. Indonesia kini semakin diakui dalam penyusunan kebijakan global terkait perlindungan dan pengelolaan kawasan karst.

Menurut Prof. Eko, UGM bahkan dianggap memiliki kelompok riset karst yang paling konsisten di Asia Tenggara, sehingga posisinya semakin kuat di tingkat internasional.

"Karena saya dari UGM, otomatis ada pengakuan terhadap peran UGM dalam bidang kars di tingkat internasional,” tuturnya.

Sebagai anggota Governing Board, Prof. Eko memiliki agenda tahunan yang mengharuskannya memaparkan perkembangan riset terbaru. Setiap pertemuan IRCK selalu diiringi dengan training course yang diikuti peserta dari berbagai negara pemilik kawasan karst. Dalam forum tersebut, anggota Governing Board diminta menyampaikan materi ilmiah yang merefleksikan riset terkini.

"Mereka selalu menyampaikan hal baru, sehingga saya juga dituntut untuk selalu melakukan riset-riset yang baru,” jelasnya.

Tugas ini sekaligus memperluas jejaring kerja sama internasional yang telah berlangsung selama beberapa tahun. Saat ini, Prof. Eko dipercaya menjadi co-leader proyek yang diinisiasi IRCK dan didanai Kementerian Sains Tiongkok.

Indonesia juga telah memasang jaringan monitoring mata air di dua lokasi, yakni Geopark Gunung Sewu dan calon Geopark di Kalimantan Utara, sebagai bagian dari sistem pemantauan global.

"Geopark dipilih karena merupakan UNESCO site yang perlu dipantau,” ungkap Prof. Eko.

IRCK telah menetapkan empat agenda utama untuk pengembangan pengetahuan karst dunia, yakni penyelenggaraan training course, penyusunan buku bersama mengenai pengelolaan karst global, pengembangan jaringan monitoring internasional, serta kolaborasi riset lintas negara. Sistem monitoring ini sudah terpasang di kawasan karst ASEAN, Eropa, hingga Amerika Serikat.

"Di ASEAN, jaringan ini baru ada di Indonesia dan Thailand,” katanya.

Baca juga: Perbukitan Barisan Potensi Longsor Alamiah, Mantan Kepala BMKG Dwikorita: "Kalau Alamiah, Banjir Bandang Bisa Terjadi Pada 2053"

Selain itu, aktivitas internasional ini membuka kesempatan lebih luas bagi mahasiswa dan dosen muda UGM untuk terlibat. Prof. Eko rutin memperoleh kuota pengiriman peserta, khususnya mahasiswa Sains Informasi Geografi dan dosen muda dari Fakultas Geografi. Peserta dari lembaga lain, seperti Badan Geologi, juga memperoleh kesempatan melalui rekomendasinya.

"Saya sudah mengirim sekitar lima mahasiswa dan lima dosen muda sejak terlibat di IRCK,” jelasnya.

Prof. Eko juga bertugas melakukan pemantauan UNESCO site yang terkait dengan kawasan karst di Indonesia. Saat ini terdapat lima geopark karst serta satu situs world heritage yang menjadi objek pemantauan, antara lain Gunung Sewu, Maros-Pangkep, Raja Ampat, dan Kebumen, serta sejumlah lokasi lain yang tengah dikembangkan.

"Saya berkewajiban memantau pengembangan UNESCO site tadi dari perspektif lingkungan," ucapnya.

Baca juga: Pakar UGM Dan Mantan BMKG Dwikorita Minta Pemerintah Pakai Prinsip "Early Warning, Early Response", Buntut Banjir Bandang Sumatera dan Aceh

Melalui penunjukan ini, Indonesia diharapkan bisa memainkan peran lebih signifikan dalam pengembangan pengelolaan karst global. Inisiatif nasional untuk mendorong resolusi internasional mengenai perlindungan ekosistem karst menunjukkan komitmen kuat terhadap keberlanjutan lingkungan. Menurut Prof. Eko, posisi UGM yang konsisten dalam riset karst menjadi fondasi penting bagi kontribusi tersebut.

"Harapannya, pengelolaan kawasan karst di Indonesia bisa semakin baik,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU