Jumat, 28 NOVEMBER 2025 • 19:20 WIB

Baru Akan Terima MBG, SMPN 1 Pathuk Siapkan Mitigasi Risiko Keracunan Dengan Siapkan Tim Guru Cek Makanan Dan Opsi Bekal dari Rumah

Author

Plh Kepala SMPN 1 Pathuk Gunungkidul, Munsoji. (Olivia Rianjani)

JOGJA - SMPN 1 Pathuk Kabupaten Gunungkidul DIY kini tengah menyiapkan berbagai langkah mitigasi terkait Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang rencananya akan diterapkan di sekolahnya. Mengingat, dari kurang lebih 10 sekolah disekitarnya, sekolah inilah yang belum menerima program MBG.

Plh Kepala SMPN 1 Pathuk, Munsoji, menjelaskan bahwa pihak sekolah saat ini belum memiliki pengalaman langsung menerima MBG, sehingga perlu mempersiapkan prosedur internal sebelum program dilaksanakan. Terlebih, langkah ini dilakukan menyusul pengalaman sebelumnya di beberapa sekolah lain yang mengalami kasus keracunan massal akibat MBG.

"Kalau dari gambaran kami, nanti akan dibuat tim sekolah, istilahnya tim pelayanan MBG. Tim ini bertugas menerima, membagi ke anak, dan memeriksa kembali sisa makanan. Piket guru akan memastikan makanan layak dan aman dikonsumsi,” ujar Munsoji, Kamis (27/11/2025).

Tim guru piket, kata dia, akan memeriksa makanan sebelum dibagikan ke siswa, serta berkoordinasi dengan pihak penyedia MBG jika ditemukan makanan yang tidak layak.

"Kalau layak, dibagikan. Kalau tidak layak, kami konfirmasi ke SPPG atau kembalikan ke penyedia," katanya.

Baca juga: Dies Natalis Ke-67, UPNV Yogya Gelar Jogja Heritage Fun Run 2025 Kategori 5K Dan 10K Desember Mendagang, Ajak Peserta Menyusuri Ikon Bersejarah

Selain itu, SMPN 1 Pathuk berencana melibatkan orang tua siswa dalam proses persetujuan MBG. Sekolah akan menyediakan opsi bagi orang tua yang tidak setuju agar menyiapkan bekal dari rumah, sehingga semua siswa tetap bisa makan bersama.

"Kami akan meminta orang tua mengisi formulir persetujuan. Bagi yang setuju, anak-anak diminta membawa wadah agar sisa makanan bisa dibawa pulang. Bagi yang tidak setuju, orang tua dapat menyediakan bekal dari rumah agar semua siswa bisa makan bersama," imbuh Munsoji.

Meski mayoritas pihak sekolah menyambut baik program MBG, Munsoji mengaku masih khawatir terkait keamanan makanan.

"Kami lebih senang kalau dikelola oleh kantin sendiri, karena pengalaman kami mengelola makan 458 siswa tidak pernah ada kasus keracunan. Tetapi kalau dikelola pihak luar dengan porsi besar, risikonya lebih tinggi," ucapnya.

Munsoji juga menegaskan bahwa pihak sekolah telah menegosiasikan tanggung jawab lewat MOU terkait risiko keracunan bersama SPPG Beji dimana SPPG ini yang akan memberikan MBG tersebut ke sekolahnya.

"Dalam MOU, kami meminta agar kalau terjadi apa-apa termasuk keracunan, tanggung jawab bukan di sekolah maupun siswa, tapi di SPPG. SOP mereka memang tanggung jawab bersama, tapi prosedurnya tetap harus lapor ke Puskesmas atau Dinas Kesehatan,” jelasnya.

Baca juga: Alasan SMPN1 Pathuk Gunungkidul Belum Terima MBG Hingga Saat Ini

Munsoji berharap, program MBG yang dijadwalkan mulai tahun depan bisa berjalan lancar dengan menu yang lezat dan aman untuk anak-anak.

"Yang paling penting, anak-anak tetap sehat dan makanan aman dikonsumsi. Anak-anak juga kami ajarkan untuk cek makanan sebelum dimakan, sehingga mereka punya komitmen menjaga kesehatan sendiri,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wawancara

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU