Senin, 24 NOVEMBER 2025 • 14:50 WIB

Apresiasi Terban Mural Competition, Wali Kota Yogya Sebut Akan Direplikasi Sepanjang Kali Code

Author

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo saat melihat hasil karya mural di Terban. (Istimewa)

JOGJA - Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyerahkan piagam penghargaan kepada para pemenang Terban Mural Competition yang digelar di kawasan Lembah Mahannani, Terban, Minggu (23/11). Dalam kesempatan itu, ia menilai kegiatan mural di bantaran Sungai Code tersebut bukan sekadar ajang seni, tetapi juga ruang untuk membangun kepedulian lingkungan dan memperkuat kebersamaan warga.

Hasto mengatakan kompetisi mural ini terbukti mampu menyatukan masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Code serta memberi contoh pemanfaatan ruang publik yang lebih edukatif.

"Kompetisi ini ajang yang luar biasa untuk mempersatukan warga di pinggir Kali Code agar semua bersatu menjaga lingkungan. Ini bisa menjadi percontohan bahwa tepi-tepi sungai dapat dimanfaatkan untuk kegiatan positif dan membangun," terangnya.

Menurut Hasto, karya mural yang dipamerkan para peserta memiliki kualitas yang mengesankan. Ia menilai hasil-hasil tersebut memberi warna baru bagi kawasan sungai dan menciptakan atmosfer yang lebih asri.

"Menurut saya bagus-bagus semuanya. Kali Code bisa dihiasi dengan lukisan para seniman sehingga suasananya jadi lebih hidup. Banyak peserta datang dari luar daerah, bahkan juara satu tadi dari Magelang. Ini luar biasa,” katanya.

Kendati demikian, Hasto memastikan kegiatan serupa akan berlanjut dan diperluas ke titik-titik lain di bantaran Code. Ia menegaskan akan mengawal program tersebut selama masa kepemimpinannya.

"Harapan saya ini direplikasi. Bantaran Code masih banyak yang harus dirawat, jadi kegiatan seperti ini bisa diterapkan di tempat lain. Selama empat tahun saya akan mengawal agar kegiatan semacam ini terus dilakukan,” tegasnya.

Ia juga mengungkapkan salah satu mural yang paling berkesan baginya adalah karya siswa SMSR Yogyakarta.

"Saya melihat karya anak SMSR yang sangat detail. Ada tema Guyub Rukun Saklawase, Padang Latare, Resik Kaline. Itu tidak hanya seni, tapi juga pesan moral. Karya yang memberi nilai seni sekaligus pesan moral, itu yang berkesan bagi saya,” katanya.

Event Nasional Berkonsep ‘Harmoni Kota Yogyakarta Penuh Warna’

Ketua pelaksana Terban Mural Competition, Heru Prasetyo, menambahkan bahwa kegiatan ini digelar untuk mempercantik tebing Lembah Kali Code sekaligus menyediakan ruang yang lebih terarah bagi seniman mural. Tema yang diangkat, "Harmoni Kota Yogyakarta Penuh Warna", mengajak peserta menggali kekhasan budaya Yogyakarta.

"Ini kami adakan untuk mempercantik kawasan lembah Kali Code agar tampak indah dari segala sisi. Pesertanya kategori umum dan pelajar, tapi penilaiannya kami satukan karena semuanya profesional. Separuh peserta dari luar kota, jadi bisa dikatakan event nasional,” jelas Heru.

Karena cuaca sempat kurang mendukung, panitia memberikan waktu pengerjaan mural selama tiga hari, mulai 20 hingga 22 November.

Baca juga: Driver TransJogja Mengadu Denda Rp 500 Ribu Memberatkan, Dishub DIY: Banyak Pelanggaran dari Keluhan Warga, SPM Terbukti Tekan Aksi Zig-Zag

SMART Raih Juara Pertama

Adapun lomba mural ini dimenangkan oleh Subki Mural Art (SMART) sebagai juara pertama, disusul grup Kamis Wage sebagai juara kedua dan Ungu di posisi ketiga. Sementara Jauza Design dan Vangof Art menyabet juara harapan satu dan dua.

Perwakilan SMART, Hanif Choirunnisa, memaparkan makna mural mereka yang mengangkat figur Semar sebagai simbol pemberi tuntunan sosial.

"Ceritanya berawal dari Semar. Semar melambangkan sosok yang memberi wejangan, terutama untuk anak muda agar tidak terjerumus ke klitih atau pergaulan yang kurang baik. Pesannya kembali ke budaya asalnya yakni Wong Jogja Ojo Lali Jogjane,” terangnya.

Baca juga: Tepati Janji, Walikota Yogya Hasto Wardoyo Bersihkan Baliho Pejabat Termasuk Dirinya

Dalam karya tersebut, Semar digambarkan memeluk Tugu Jogja sebagai simbol penjaga nilai-nilai kota.

"Semarnya memeluk Tugu Jogja artinya menjaga Jogja agar tetap seperti Jogja punya sopan santun, budaya tari, gamelan, wayang, sampai kebersihan," pungkas Hanif. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU