Kamis, 13 NOVEMBER 2025 • 18:45 WIB

Sampah Harian Capai 300 Ton, Kota Jogja Optimalkan Bank Sampah Hingga Tutup Tumpukan Sampah Dengan Pagar Agar Tak Terlihat Wisatawan

Author

Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan DLH Kota Yogyakarta, Ahmad Haryoko. (Olivia Rianjani)

JOGJA - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta terus menggenjot pengelolaan sampah harian melalui optimalisasi peran bank sampah dan kerja sama dengan off-taker.

Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan DLH Kota Yogyakarta, Ahmad Haryoko, memaparkan kondisi neraca pengelolaan sampah kota saat mempresentasikan kepada awak media.

"Ini sebenarnya neraca harian kami. Saat ini pengurangan sampah baru mencapai 63 persen, dengan pengolahan sampah organik dan anorganik," ujar Ahmad Haryoko, di Kantor DPRD.DIY, Kamis (13/11/2025).

Haryoko menambahkan, pihaknya mengoptimalkan peran 689 bank sampah yang tersebar di wilayah Kota Yogyakarta. Selain itu, sampah organik yang sudah matang diterima oleh off-taker untuk berbagai kebutuhan, seperti pakan ternak maupun budidaya magot.

"Setiap kali kita menyampaikan sampah organik matang, masyarakat harus yakin bahwa sampah itu pasti diterima. Konsistensi dari off-taker menjadi kunci agar masyarakat mau disiplin memilah sampah," jelasnya.

Namun, ia mengakui ada tantangan dalam pengelolaan sampah. Kapasitas unit pengolahan yang ada saat ini baru mampu menangani sekitar 200 ton per hari, sementara jumlah sampah yang masuk mencapai 332 ton per hari. Artinya, sekitar 10 - 15 truk sampah masih belum terkelola setiap harinya.

"Mesin pengolahan sampah gampang aus dan korosi, jadi setiap kali ada kerusakan, proses harus berhenti untuk perbaikan," katanya.

Oleh karena itu, guna mengurangi dampak visual terutama bagi masyarakat dan wisatawan, DLH menutup depo-depo sampah dengan pagar dan desain grafis khusus.

"Maka kami berusaha bahwa semua depo kami, kami upayakan untuk bisa menggunakan atau kita pasang pagar, pagar yang kita tutup dengan gambar jarik biar sampah itu tidak terlihat secara nyata oleh masyarakat kalau tidak terkelola dengan baik. Tapi kami berusaha sebisa mungkin sampah itu dapat kita sembunyikan," kata Haryoko.

Selain itu, pihaknya terus mengedukasi masyarakat mengenai pemilahan sampah melalui berbagai program, termasuk Mas JOS dan surat edaran terkait pemilahan sampah.

"Sampah organik harus dibungkus dengan plastik putih atau bening, sedangkan sampah anorganik menggunakan kresek hitam untuk memudahkan proses pengolahan," tegas Haryoko.

Baca juga: Jelang Penutupan Total TPST Piyungan Awal 2026, Kota Yogya Kuwalahan Tampung Sampah 300 Ton Prr Hari, Minta Bantuan Pemda Siapkan Solusi

Program Mas JOS ini didukung oleh kerjasama dengan Pemerintah Daerah (Pemda) DIY, yang membantu transportasi sampah ke TPA Piyungan sekitar 300 ton per minggu hingga Desember mendatang.

Neraca harian DLH Kota Yogyakarta. (Olivia Rianjani)

Lanjut Haryoko mengungkapkan bahwa Sleman dan Bantul juga menghadapi persoalan serupa, kedua daerah tersebut masih memiliki kapasitas penyimpanan sampah yang cukup.

"Jadi tidak hanya kota karena Sleman dan Bantul juga sebenarnya bermasalah juga. Namun karena Sleman dan Bantul itu masih punya tempat untuk bisa menyembunyikan mereka masih belum tercium oleh teman-teman semuanya bahwa mereka juga bermasalah," bebernya.

Baca juga: Persiapan Nataru 2025/2026, KAI Daop 6 Yogyakarta Gelar Ramp Check

Sehingga, dengan upaya ini, ia berharap masyarakat semakin disiplin dalam memilah sampah, sehingga target pengurangan sampah dapat tercapai secara maksimal.

"Jadi kuncinya ada bareng-bareng selain kita optimali sosialisasi tapi juga teman-teman off-taker kita paksa juga untuk selalu disiplin dalam mengumpulkan sampah organik ini," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Dan Wawancara Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU