Prof. Dina Ruslanjari Dikukuhkan Jadi Guru Besar Ilmu Lingkungan UGM, Soroti Peran Komunitas Lokal dalam Manajemen Bencana
JOGJA - Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Ir. Dina Ruslanjari, M.Si., resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Lingkungan pada Kamis (2/10/2025) di Balai Senat UGM. Dalam pidato pengukuhannya, ia menekankan pentingnya peran komunitas lokal dalam upaya manajemen bencana yang berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Prof. Dina menjelaskan bahwa bencana bukan sekadar fenomena alam, tetapi juga merupakan persoalan sosial yang kompleks.
“Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara dengan risiko bencana tertinggi di dunia. Dalam satu dekade terakhir, tercatat lebih dari 20.000 kejadian bencana alam, mulai dari banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, hingga gempa bumi dan tsunami,” ungkapnya.
Menurut Prof. Dina, kualitas lingkungan yang baik menjadi fondasi penting bagi ketahanan masyarakat menghadapi bencana. Namun, degradasi lingkungan dan pengelolaan sumber daya yang tidak tepat justru meningkatkan kerentanan. Ia menyoroti bahwa selama ini banyak kebijakan bencana yang hanya menempatkan komunitas lokal sebagai penerima pasif bantuan.
“Padahal, komunitas lokal memiliki pengetahuan dan budaya gotong royong yang sangat strategis dalam menghadapi bencana,” tegasnya.
Prof. Dina juga mengkritik pendekatan teknokratis yang selama ini dominan, seperti pembangunan infrastruktur tahan bencana dan sistem peringatan dini berbasis teknologi, yang menurutnya belum cukup efektif tanpa dukungan kapasitas kelembagaan lokal dan kesiapsiagaan budaya masyarakat.
Baca juga: DPRD DIY Apresiasi Megawati Dorong Gerakan Nasional Penghijauan di Wanagama Gunungkidul
Kendati begitu, ia mendorong perubahan paradigma menuju pendekatan yang lebih partisipatif dan berpusat pada masyarakat, atau yang dikenal dengan konsep people-centered resilience.
Lebih lanjut, Prof. Dina menyampaikan tiga unsur utama dalam membangun ketangguhan bencana di tingkat komunitas. Pertama, pengetahuan dan kearifan lokal yang telah teruji dari interaksi panjang masyarakat dengan lingkungan, seperti praktik rotasi lahan dan hutan adat.
“Dalam studi pasca-gempa Bantul 2006, kearifan lokal terbukti mempercepat rehabilitasi melalui penguatan kelembagaan dan keterampilan komunitas,” ujarnya.
Kedua, pemberdayaan perempuan yang seringkali menjadi kelompok rentan saat bencana, namun juga memiliki peran krusial dalam pengelolaan sumber daya keluarga dan dukungan psikososial. Prof. Dina menegaskan, bahwa pemberdayaan perempuan bukan isu tambahan, tapi strategi utama dalam membangun ketangguhan komunitas.
"Ketiga, kepemimpinan lokal yang tidak harus formal, seperti peran tokoh adat dan relawan muda, menjadi kunci dalam mengarahkan dan memobilisasi masyarakat saat krisis," imbuhnya.
Sebagai penutup, Prof. Dina menekankan bahwa komunitas lokal bukan hanya korban, melainkan aktor utama dalam ketangguhan bencana.
“Ketangguhan sejati tumbuh dari solidaritas, pengetahuan lokal, dan kepemimpinan yang berkembang di dalam masyarakat itu sendiri,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail