Selasa, 30 SEPTEMBER 2025 • 17:50 WIB

Dokter RSA UGM Sebut Tips Ini Bisa Lolos Skrining Donor Darah

Author

Kepala Instalasi Unit Transfusi Darah Rumah Sakit Akademik (RSA) Universitas Gadjah Mada, dr. Titien Budhiaty, Sp.PK., (Istimewa)

JOGJA - Donor darah bukan sekadar tindakan sosial, tetapi bentuk kepedulian nyata yang mampu menyelamatkan nyawa. Namun demikian, tidak semua orang dapat langsung lolos sebagai pendonor. Ada sejumlah syarat medis dan gaya hidup yang harus dipenuhi agar darah yang didonorkan benar-benar aman untuk diterima pasien.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Instalasi Unit Transfusi Darah Rumah Sakit Akademik (RSA) Universitas Gadjah Mada, dr. Titien Budhiaty, Sp.PK., dalam podcast TikTalk RSA UGM belum lama ini . Ia menjelaskan bahwa kondisi kesehatan secara umum adalah syarat utama bagi calon pendonor.

Pendonor harus sehat secara umum, dengan berat badan minimal 50 kilogram dan kadar hemoglobin di atas 12,5,” ujarnya.

Selain itu, usia pendonor juga dibatasi, yaitu antara 17 hingga 60 tahun. Namun, bagi mereka yang rutin mendonor dan dalam kondisi sehat, usia di atas 60 tahun masih diperbolehkan.

Menurut dr. Titien, persiapan sebelum donor darah juga tidak bisa dianggap sepele. Makan dan minum cukup setidaknya satu jam sebelum donor dianjurkan untuk menghindari risiko pingsan, yang kerap terjadi pada pendonor pemula atau mereka yang kurang istirahat.

Donor saat sedang berpuasa juga sebaiknya dihindari, meski ada beberapa pendonor rutin yang tetap mampu melakukannya dengan baik,” imbuhnya.

Terkait salah satu penyebab paling umum calon pendonor gagal dalam tahap skrining adalah kadar hemoglobin yang rendah. Untuk menghindari hal ini, masyarakat disarankan menjaga pola makan dengan asupan kaya zat besi seperti daging, sayuran hijau, dan buah-buahan. Ia juga mengingatkan agar menghindari kebiasaan minum teh setelah makan karena dapat menghambat penyerapan zat besi.

Sebagai gantinya, konsumsilah jus jeruk atau buah lain yang tinggi vitamin C agar penyerapan zat besi lebih maksimal. Bila perlu, suplemen zat besi bisa digunakan,” terangnya.

Selain faktor gizi, kondisi medis tertentu juga menjadi pertimbangan kelayakan donor. Pasien hipertensi atau diabetes masih dapat mendonor bila kondisi terkontrol, namun tidak bagi pengguna insulin. Riwayat penyakit jantung, stroke, atau keluarga dengan hepatitis B juga menjadi catatan penting dalam penentuan kelayakan.

"Kami melarang donor darah pada kondisi yang berisiko membahayakan kesehatan pendonor maupun penerima,” tegasnya.

Baca juga: Hadiri Rakornas Pengelolaan Sampah, Wabup Sleman Dukung Program Waste to Energy, Sebut Jadi Angin Segar untuk Daerah

Lebih lanjut, dr. Titien menjelaskan bahwa konsumsi obat-obatan tertentu seperti antikoagulan dan psikotropika jangka panjang juga bisa menggugurkan kelayakan seseorang untuk menjadi pendonor. Riwayat vaksinasi, malaria, hingga perjalanan ke wilayah endemis turut ditanyakan dalam formulir skrining.

Menurutnya, setiap pertanyaan dalam formulir skrining disusun untuk memastikan darah yang ditransfusikan benar-benar aman. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kejujuran saat menjawab pertanyaan.

Kalau merasa memiliki risiko, sebaiknya jujur. Pendonor juga bisa memberi tahu tim medis secara pribadi setelah proses donor agar darah tersebut tidak digunakan. Ini bagian dari tanggung jawab moral kita,” jelas dr. Titien.

Tak kalah penting, gaya hidup sehat seperti tidur cukup, olahraga rutin, dan pola makan seimbang juga mendukung keberhasilan proses donor. Mereka yang kurang tidur atau jarang olahraga lebih berisiko mengalami gangguan saat donor dilakukan.

Menjaga kesehatan itu bukan hanya supaya bisa donor, tapi juga investasi jangka panjang untuk tubuh,” tegasnya lagi.

Baca juga: Masuk Musim Penghujan Kasus Alergi Anak Meningkat, Dokter UGM Beri Solusi Cara Efektif Mencegahnya

Ia juga menyebut banyak pendonor rutin yang merasa tubuhnya lebih sehat setelah melakukan donor darah. Bahkan, tak sedikit yang merasa tidak nyaman jika melewatkan jadwal donor.

Pasien yang bertahan hidup karena ketersediaan darah dari pendonor sukarela adalah bukti nyata bahwa donor darah bisa menyelamatkan nyawa. Ini amal kebaikan yang sangat berarti,” pungkasnya. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Di Grup WA

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU