Selasa, 23 SEPTEMBER 2025 • 15:00 WIB

Kasus Diabetes Naik, Guru Besar UGM Desak Pemerintah Segera Terapkan Cukai Minuman Manis

Author

Minuman pemanis (ilustrasi) (Istimewa (via e-mail))

JOGJA - Lonjakan jumlah penderita diabetes di Indonesia menjadi sorotan serius kalangan akademisi. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2023 mencatat prevalensi diabetes mencapai 11,3 persen, naik signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Prof. Dra. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D, mendesak pemerintah agar segera menerapkan kebijakan cukai terhadap Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK).

Penerapan cukai MBDK terbukti efektif di sejumlah negara seperti Australia. Ketika harga minuman manis naik, konsumsinya pun menurun. Ini bisa membantu menekan angka penderita diabetes di Indonesia,” ujar Prof. Yayi dalam keterangannya, Selasa (23/9/2025).

Ia juga menyoroti kemudahan akses dan harga murah MBDK yang menjadi pemicu meningkatnya konsumsi gula masyarakat. Padahal, kandungan gula dalam produk tersebut sangat tinggi dan berisiko memicu berbagai penyakit tidak menular seperti diabetes dan jantung. Meski wacana pengenaan cukai terhadap MBDK sudah bergulir sejak 2016, implementasinya hingga kini belum terlaksana.

Baca juga: Ekonom UGM Desak Pemerintah Tindak Tujuh Masalah Darurat Ekonomi, Apa Saja ?

Menurut Prof. Yayi, lambannya penerapan kebijakan ini disebabkan oleh banyak faktor, termasuk rumitnya perhitungan besaran cukai oleh para ekonom dan kemungkinan adanya tekanan dari industri produsen minuman berpemanis.

Perusahaan tentu akan khawatir jika produksinya menurun karena konsumen enggan membeli akibat harga yang lebih tinggi,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Prof. Yayi menegaskan bahwa kebijakan fiskal seperti cukai hanya akan efektif jika diiringi dengan edukasi publik yang kuat. Ia mendorong keterlibatan semua elemen masyarakat, termasuk tenaga kesehatan, media, dan komunitas, untuk gencar menyuarakan pentingnya pola hidup sehat.

Edukasi tetap menjadi fondasi. Meski ada cukai, kalau masyarakat tidak sadar bahaya gula, dampaknya tetap minim. Maka, dibutuhkan pendekatan multi-level seperti dari media massa, kader kesehatan, hingga kampanye di tempat strategis,” jelasnya.

Baca juga: Peringatan Dies Natalis ke-70, Fisipol UGM Dorong Strategi Hadapi Krisis Sosial

Kepada generasi muda, Prof. Yayi juga berpesan agar lebih bijak dalam memilih makanan dan minuman, serta tidak terlena dengan gaya hidup praktis yang justru berdampak buruk bagi kesehatan.

Kebijakan tanpa edukasi tidak akan cukup. Kita perlu terus menerangi masyarakat tentang risiko konsumsi gula berlebih dan pentingnya mencegah penyakit tidak menular sejak dini,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU