Penyebab Keracunan Lauk MBG di SMPN 3 Berbah Sleman, Dinkes Duga Ada Jeda Waktu Panjang Sebelum dikonsumsi
JOGJA - Menindaklanjuti dugaan keracunan makanan massal yang menimpa puluhan siswa SMP Negeri 3 Berbah pada Selasa (25/8/2025), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman masih menunggu hasil uji laboratorium. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Cahya Purnama, menyatakan bahwa Sampel makanan sudah dikirim ke Laboratorium Kesehatan Masyarakat Provinsi DIY.
Insiden tersebut mengakibatkan sebanyak 137 siswa dari 380 yang mengalami gejala seperti mual, muntah, pusing, dan diare setelah mengonsumsi makanan yang disuplai oleh penyedia program makan gratis (SPPG) di wilayah Jogotirto.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Cahya Purnama, mengatakan bahwa sampel makanan telah dikirimkan ke Laboratorium Kesehatan Masyarakat Provinsi untuk diperiksa.
"Laporan masuk kemarin siang sekitar pukul 12. Kami langsung dapat laporan dan menindaklanjuti. Sampel yang kami ambil adalah dari makanan yang dikonsumsi hari sebelumnya. Kebetulan dari lokasi MBG masih menyimpan sisa sampel untuk kontrol," katanya saat ditemui di Kantor Pemkab Sleman, Kamis (28/8/2025).
Cahya menduga dari total 380 siswa dari sekolah tersebut, lanjut Cahya, alasan siswa lain tidak keracunan salah satunya karena tidak mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.
"Yang pertama bisa mungkin ada yang tidak makan karena mungkin tidak suka atau juga dia cuma namanya makannya tidak pada bagian yang terkontaminasi ya kita juga tidak tahu. Karena belum kita periksa itu secara keseluruhan. Beruntung tidak ada yang rawat inap," ungkapnya.
Adapun makanan yang dikonsumsi para siswa terdiri dari nasi kuning, telur dadar, abon, kering tempe, dan jeruk. Ia jiga menjelaskan bahwa penyelidikan epidemiologi segera dilakukan begitu kasus diketahui. Tim dari Dinas Kesehatan diterjunkan untuk mengevakuasi korban dan melakukan penelusuran lingkungan.
"Kita intervensi ke lingkungannya. Ambil sampel makanan, air, dan telusuri ke mana saja makanan itu disebar. Misalnya dimakan oleh kelas 1, kelas 2, kelas 3, semua kami data agar bisa dikendalikan kalau ada perluasan kasus," jelas Cahya.
Baca juga: Komitmen Penanganan Kasus Stunting, Pemkab Sleman Teken MoU dengan Baznas dan Bank Sleman
Penyelidikan epidemiologi itu juga mencakup rekomendasi perbaikan ke penyedia makanan, terutama terkait sanitasi dan penggunaan air bersih.
"Bagus makanannya, bagus tempat makannya, tapi kalau air untuk mencuci alat masaknya tercemar, ya sama saja. Itu juga bisa menyebabkan kontaminasi," jelas Cahya.
Ia menambahkan bahwa prosedur uji organoleptik (pengujian menggunakan panca indera) seharusnya dilakukan sebelum makanan dibagikan ke siswa.
"Guru seharusnya melakukan pengecekan secara visual dan indera. Bukan dicicipi, tapi dilihat, dicium. Kalau semua baik, baru makanan disebar. Kalau terlihat basi atau tidak layak, ya jangan dikonsumsi.
Itu dilakukan bukan berarti untuk meracuni guru," tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengonfirmasi bahwa informasi terkait makanan saat ini dikoordinasikan satu pintu melalui Korwil SPPG.
"Untuk informasi distribusi dan teknis, silakan konfirmasi ke Korwil SPPG. Dinas Kesehatan fokus pada hasil laboratorium dan penyelidikan epidemiologi," jelasnya.
Adapun dugaan sementara penyebab gejala tersebut, ujar Cahya, murni berasal dari makanan yang dikonsumsi.
"(Tapi) Sebenarnya di masakannya itu sendiri sudah ditulisi baik seperti harus dikonsumsi sebelum jam sekian lalu nanti dicek," katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Muda Dinas Kesehatan Sleman, Gunanto, menyoroti adanya jeda waktu yang terlalu lama antara makanan diterima dan dimakan.
"Informasi yang kami dapat, makanan diterima pukul 07.30 pagi. Tapi baru dikonsumsi jam 12 siang. Harusnya dimakan maksimal dalam 2 jam setelah diterima, tapi ini sampai 4 jam lebih," kata Gunanto.
Ia mengingatkan bahwa meskipun SPPG telah menyiapkan makanan dengan standar, proses distribusi dan konsumsi juga harus mengikuti protokol yang ketat.
"Kami tidak mencari siapa yang salah, tapi harus waspada. Mungkin SPPG sudah bagus, tapi dari pihak sekolah sendiri bisa jadi (mohon maaf) kurang prosedural dalam menyajikan makanan tepat waktu," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Doorstop