Senin, 11 AGUSTUS 2025 • 14:50 WIB

Dua Mahasiswa Fisipol UGM Juara Nasional Berkat Riset tentang Kerentanan Perempuan Driver Ojek Online

Author

Dua mahasiswa Departemen Sosiologi, Fakultas Fisipol UGM, Afkaar Nabil Falah dan Nurima Setianingrum, berhasil meraih Juara I dalam kompetisi nasional SOCIUS 2025 (Sociology Champion Unesa) yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Surabaya. (Istimewa)

JOGJA - Dua mahasiswa Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada (UGM), Afkaar Nabil Falah dan Nurima Setianingrum, sukses meraih Juara I dalam ajang kompetisi nasional SOCIUS 2025 (Sociology Champion Unesa), yang digelar oleh Universitas Negeri Surabaya. Kemenangan ini diraih melalui karya ilmiah berjudul "Publik di antara Negara dan Pasar yakni Perjuangan Driver Ojek Online Perempuan dalam Kerentanan yang Berlapis dan Berkelanjutan".

Penelitian tersebut menggali lebih dalam realitas keseharian para perempuan pengemudi ojek online di Yogyakarta yang kerap luput dari perhatian publik.

Kami justru melihat adanya bentuk-bentuk kerentanan baru yang dihadapi para perempuan ini bahwa kerentanan yang tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga sosial, psikologis, bahkan struktural,” ujar Afkaar saat dihubungi, Senin (11/8/2025). 

Fleksibilitas Semu dan Beban Ganda Fenomena kerja fleksibel di era digital selama ini kerap dianggap sebagai solusi ramah bagi perempuan. Namun, temuan Afkaar dan Nurima justru membantah asumsi tersebut. Di lapangan, para perempuan driver menghadapi ketidakpastian pendapatan, potongan besar dari platform, hingga tekanan sebagai tulang punggung ekonomi sekaligus pengurus rumah tangga.

Belum lagi risiko pelecehan di jalan dan minimnya jaminan sosial dari negara maupun aplikator,” katanya.

Baca juga: Antuasiasme Mahasiswa KKN UGM Bersama Warga Bersihkan Jalur Pendakian Rinjani

Melalui pendekatan kualitatif, keduanya mewawancarai dua perempuan pengemudi ojek online yakni seorang ibu rumah tangga yang bekerja bersama suami dan seorang ibu tunggal yang juga merawat orang tuanya. Metode yang digunakan mencakup observasi partisipatif, wawancara mendalam, transkrip verbatim, serta analisis tematik.

Kami menggunakan teknik purposive sampling dan snowball sampling, dengan rekaman suara yang sudah ditranskrip dan dianalisis secara tematik,” jelas Nurima.

Terjepit Antara Negara dan Pasar Hasil penelitian menyimpulkan bahwa ruang kerja digital bukanlah ruang netral. Para perempuan pengemudi ojek online kerap bekerja dalam situasi yang dipenuhi stigma, bias gender, dan tanpa perlindungan hukum yang layak.

"Ketika negara belum memberikan perlindungan nyata dan platform hanya beroperasi dengan logika pasar, posisi mereka menjadi terjepit antara negara yang absen dan pasar yang eksploitatif,” terang Afkaar.

Secara teoretis, kata Afkaar, riset ini mengacu pada pemikiran B. Herry Priyono tentang ruang publik serta konsep prekariat dari Guy Standing dan A.B. Widyanta. Temuan ini memperlihatkan bahwa para perempuan pengemudi merupakan bagian dari kelas pekerja baru yang hidup dalam ketidakpastian.

Mereka adalah simbol nyata dari kelas pekerja baru yang tidak memiliki kontrak tetap, jaminan sosial, ataupun perlindungan hukum,” imbuhnya.

Solidaritas dalam Keterbatasan Meski dihadapkan pada berbagai tekanan, para perempuan driver tak kehilangan daya juang. Mereka membentuk komunitas seperti Srikandi dan KGMP (Keluarga Gojek Merah Putih) untuk saling mendukung. Komunitas ini menjadi ruang alternatif tempat berbagi informasi, saling membantu saat kecelakaan, hingga menyediakan dukungan emosional.

Komunitas ini kami anggap sebagai ruang publik alternatif, tempat mereka merasa aman, didengar, dan saling menguatkan,” kata Afkaar.

Melalui riset inilah, mereka berharap dapat menjadi rujukan bagi pemerintah dan perusahaan aplikasi dalam merumuskan kebijakan yang lebih berpihak pada kelompok rentan di sektor informal digital.

Baca juga: Diikuti Peserta dari 7 Negara, Semarak Festival Budaya Internasional Oleh AIESEC UGM

Kami ingin riset ini bisa menjadi dasar bagi kebijakan yang tidak hanya mengejar efisiensi ekonomi, tapi juga keadilan sosial,” ujarnya.

Lebih dari sekadar proyek akademik, keduanya menganggap karya ini sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan para perempuan pekerja informal yang telah lama berada di pinggir sistem.

Kami merasa beruntung bisa menyuarakan kisah mereka. Perjuangan mereka adalah bagian penting dari upaya mewujudkan keadilan sosial di era digital ini,” pungkas Afkaar.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Keterangan Pers

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU