Rabu, 23 JULI 2025 • 13:50 WIB

Update Terbaru Hasil Penrlitian Pakar UGM di 40 Gunung Berapi yang Ungkap Kandungan Potasium Dalam Magma

Author

Ketua tim peneliti Fakultas Geografi UGM, Dr. Indranova Suhendro, S.T., M.Sc. (Istimewa)

JOGJA - Studi terbaru dari tim peneliti Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkap peran penting unsur potasium dalam menentukan evolusi bentuk gunung api di Pulau Jawa. Pada penelitian ini disebutkan bahwa kandungan potasium dalam magma berpotensi besar mengontrol apakah sebuah gunung api akan berkembang menjadi gunung bertipe kompleks (compound) atau membentuk kaldera yang luas akibat letusan dahsyat.

Penelitian tersebut dipimpin oleh Dr. Indranova Suhendro, S.T., M.Sc., dan dipublikasikan dalam Jurnal Geomorphology edisi Juli 2025 ini menganalisis morfologi 40 gunung api aktif di Pulau Jawa, termasuk Merapi, Raung, hingga Ijen.

Selama ini silika dianggap sebagai penentu utama tingkat eksplosivitas letusan gunung api. Tapi hasil analisis kami menunjukkan bahwa justru kandungan potasium menjadi pembeda utama antar tipe gunung,” ujar Indranova atau yang akrab disapa Nova, saat ditemui di kampus UGM, Rabu (23/7/2025).

Dalam studi ini, tim memadukan teknik morfometri, citra satelit, dan model elevasi digital (DEM) resolusi tinggi dari NASA dan Badan Informasi Geospasial (BIG). Menggunakan perangkat lunak QGIS, para peneliti menghitung volume, rasio tinggi-panjang, kemiringan rata-rata, hingga indeks ketidakteraturan kerucut gunung api.

Kami juga menghimpun data geokimia dari berbagai publikasi ilmiah. Fokus kami pada kadar silika (SiO₂), magnesium (MgO), dan potasium (K₂O), yang merefleksikan proses diferensiasi magma,” imbuh Nova.

Baca juga: Relaksasi EUDR Oleh Uni Eropa, Pakar UGM: Momentum Perkuat Transisi Tata Kelola

Hasilnya menunjukkan bahwa semua tipe gunung api di Jawa baik stratovolcano, compound, maupun kaldera memiliki kisaran kandungan silika dan magnesium yang saling tumpang tindih. Namun, kandungan potasium memperlihatkan perbedaan signifikan.

Kaldera seperti Ijen, Raung, Bromo, hingga Dieng selalu memiliki magma dengan kadar potasium tinggi. Ini bisa menjelaskan kenapa letusannya sangat eksplosif dan bisa menyebabkan keruntuhan puncak gunung membentuk kaldera,” terang Nova.

Lebih lanjut, Nova menjelaskan bahwa potasium memungkinkan magma menyimpan lebih banyak gas terlarut pada tekanan tinggi. Saat tekanan tiba-tiba turun, pelepasan gas ini bisa menghasilkan letusan sangat besar. 

Penelitian ini juga menyoroti aspek tektonik sebagai faktor pendukung. Zona subduksi di bawah Jawa Timur, misalnya, diketahui lebih curam dibandingkan Jawa Tengah dan Barat. Hal ini menciptakan kondisi geokimia yang menghasilkan magma lebih kaya potasium.

“Misalnya Kaldera Ijen, Raung, Jambangan, dan Bromo semuanya berada di Jawa Timur, di mana subduksinya lebih dalam. Ini mendukung pembentukan kaldera akibat letusan besar. Sementara di bagian barat, kaldera seperti Rawa Danau atau Sunda jauh lebih sedikit,” ungkapnya.

 Salah satu gunung berapi yang diteliti oleh tim peneliti Fakultas Geografi UGM (Istimewa)

Berdasarkan data yang dikumpulkan, tim peneliti UGM mengusulkan tiga jalur evolusi gunung api: 

  1. Stratovolcano langsung menjadi kaldera akibat lonjakan potasium yang signifikan.
  2. Stratovolcano berkembang menjadi gunung compound lebih dulu, lalu berevolusi menjadi kaldera, seiring peningkatan kandungan potasium.
  3. Stratovolcano yang hanya menjadi compound, tanpa membentuk kaldera karena kadar potasiumnya rendah.

Penemuan ini, kata Nova, berpotensi mengubah paradigma dalam mitigasi bencana vulkanik di Indonesia.

Baca juga: Kemendiktisaintek Bersama UGM Perkuat Riset Inovasi Genomik Megabiodiversiats

"Selama ini kita menilai potensi letusan besar hanya dari kadar silika atau ukuran gunung. Penelitian ini menunjukkan bahwa potasium bisa jadi parameter baru dalam sistem peringatan dini,” tegas Nova.

Penelitian ini merupakan bagian dari kerja sama antara Fakultas Geografi dan Pusat Studi Bencana (PSBA) UGM dalam memperkuat riset kebencanaan multidisipliner. Dengan pendekatan berbasis data geospasial dan analisis geokimia, UGM menegaskan perannya sebagai institusi rujukan riset kebencanaan di Indonesia. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Keterangan Pers

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU