Kamis, 10 JULI 2025 • 18:40 WIB

Kasus Leptospirosis Meningkat di Kota Yogyakarta, Pemkot Edarkan SE dan Akan Tetapkan Jadi KLB?

Author

Data Kasus Leptospirosis di Kota Yogyakarta Tahun 2025. (Olivia Rianjani)

JOGJA - Kasus leptospirosis di Kota Yogyakarta mengalami peningkatan signifikan sepanjang tahun 2025. Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta mencatat persebaran kasus telah mencakup 11 dari 14 kemantren, dengan jumlah terbanyak berada di Kemantren Jetis dan Tegalrejo yang masing-masing mencatatkan tiga kasus. 

Sementara itu, Kemantren Ngampilan, Gedongtengen, dan Pakualaman masing-masing mencatat dua kasus. Tiga wilayah yang hingga saat ini masih bebas dari kasus leptospirosis adalah Keraton, Danurejan, dan Gondomanan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Yogyakarta, dr Lana Unwanah, menyatakan bahwa sebagian besar pasien baru mengakses layanan kesehatan setelah kondisi mereka memburuk. Salah satu kasus meninggal terbaru bahkan menunjukkan keterlambatan penanganan yang fatal.

Pasien yang terbaru itu, dia mulai sakit sejak 30 Juni, tetapi baru datang ke rumah sakit pada 7 Juli dan meninggal keesokan harinya. Pasien awalnya diperiksa di rumah sakit tipe D yang tidak memiliki fasilitas cuci darah, lalu dirujuk, tetapi belum sempat cuci darah, pasien sudah meninggal,” ujarnya dalam jumpa pers di Balaikota Yogyakarta, pada Kamis (10/7/2025).

Lana juga menyebutkan bahwa korban termuda berusia 17 tahun dan masih berstatus pelajar, sementara korban meninggal terbaru berusia sekitar 50 tahun. Dengan meningkatnya kasus, pihaknya telah menerbitkan surat edaran yang menginstruksikan seluruh puskesmas dan rumah sakit untuk memperkuat deteksi dini dan respons terhadap Leptospirosis serta Hantavirus.

Optimalisasi penggunaan Rapid Diagnostic Test (RDT) harus dilakukan. Selain itu, kami minta dinas lain, seperti Dinas Lingkungan Hidup, aktif memperbaiki pengelolaan sampah dan limbah organik agar tidak menarik perhatian tikus,” tambah Lana.

Baca juga: Seorang Buruh Lepas Terserempet KRL di Stasiun Lempuyangan, Terlempar Sejauh 15 Meter

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Yogyakarta, Endang Sri Rahayu, turut menambahkan bahwa leptospirosis memiliki rentang gejala yang sangat luas, mulai dari tanpa gejala hingga menyerang ginjal. 

Kalau sudah menyerang ginjal, pasien harus segera cuci darah. Itulah pentingnya deteksi dini agar tidak terlambat,” ujar Endang.

Di sisi lain, Dinas Pertanian Kota Yogyakarta juga turut aktif dalam upaya pengendalian penyakit zoonosis ini. Disampaikan oleh Kepala Seksi Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kota Yogyakarta, Panggarti, menekankan pentingnya sinergi antarinstansi dalam merespons setiap kasus leptospirosis.

Setiap ada kasus, kami turun bareng, termasuk mengambil sampel dari hewan sekitar seperti kambing, anjing, dan kucing. Setahun lalu hasilnya tidak ada hewan yang terinfeksi di sekitar lokasi kasus manusia,” terang Panggarti.

Ia juga mengingatkan pentingnya pengelolaan bangkai tikus yang benar, agar tidak menjadi sumber penyebaran penyakit.

Baca juga: Kota Yogyakarta Darurat Kasus Leptospirosis, 6 Warga Meninggal Dunia Pada Pertengahan Tahun 2025, Dinkes : Meningkat Tajam dari Sebelumnya

"Kalau ada bangkai tikus, jangan dibuang ke sungai atau jalan. Sebaiknya dikubur dengan perlakuan khusus. Semprot area sekitar dengan disinfektan karena bakteri leptospira bisa bertahan di tempat lembap dan gelap, terutama saat musim hujan,” ujarnya.

Saat ini, Dinas Kesehatan dan dinas terkait telah menindaklanjuti surat dari Gubernur DIY terkait kewaspadaan Kejadian Luar Biasa (KLB) leptospirosis dan Hantavirus, yang bisa menyebabkan sindrom berat seperti Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU