Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 04 MEI 2026 • 14:35 WIB

Pakar UGM: Peniadaan Perlintasan Sebidang Jadi Kunci Akhiri Tragedi Beruntun di Rel Kereta

Pakar UGM: Peniadaan Perlintasan Sebidang Jadi Kunci Akhiri Tragedi Beruntun di Rel KeretaSeorang warga Kabupaten Sleman yang meninggal dunia setelah tertemper kereta api di perlintasan rel wilayah Kasihan, Bantul, Selasa (27/1/2026) siang. (Istimewa)

JOGJA - Tragedi memilukan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek, KRL Commuter Line, dan sebuah taksi online di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4) malam, menjadi alarm keras bagi sistem keselamatan transportasi di Indonesia. Kecelakaan yang merenggut 16 nyawa dan melukai 90 orang tersebut dinilai bukan sekadar faktor tunggal, melainkan hasil dari "efek domino" yang bermula dari titik perlintasan sebidang.

Peneliti dan Staf Ahli Pusat Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) Universitas Gadjah Mada (UGM), Iwan Puja Riyadi, menyoroti bahwa akar masalah seringkali dipicu oleh kejadian di perlintasan sebidang yang merembet menjadi kecelakaan besar.

"Jadi mungkin terdapat beberapa faktor yang mungkin terjadi dan hal ini dipicu oleh faktor primer, yaitu mungkin karena ada taksi mati atau berhenti di perlintasan," ujarnya, Senin (5/4/2026).

Keterbatasan Sistem Blok dan Kepadatan Jalur

Meskipun saat ini perkeretaapian Indonesia telah menggunakan sistem blok yang modern, Iwan mengingatkan bahwa kereta api memiliki keterbatasan fisik terkait jarak pengereman. Dalam insiden di Bekasi Timur, ada dugaan terjadi keterlambatan transmisi informasi kepada masinis yang berada di belakang rangkaian kereta pertama.

"Jadi bisa juga dimungkinkan karena ada kejadian itu, kereta yang di belakangnya menerima informasinya sudah berdekatan dengan lokasi kejadian," jelasnya.

Iwan juga menunjuk tingginya kepadatan lalu lintas kereta di stasiun tersebut sebagai faktor yang memperparah risiko tabrakan beruntun.

Baca juga: Imbas Normalisasi Jalur di Bekasi, 14 Perjalanan KA Daop 6 Jogja Dibatalkan Hari Ini Hanya Satu KA yang Jalan

Adapun salah satu poin krusial yang disoroti PUSTRAL UGM adalah kesenjangan antara kecanggihan teknologi dengan perilaku pengguna jalan. Iwan menilai, sistem pengamanan paling canggih sekalipun tidak akan berdaya jika kesadaran masyarakat masih rendah.

"Kesadaran masyarakat masih rendah terhadap permasalahan ini yang ditandai dengan perilaku menerobos palang pintu," tegas Iwan.

Menurutnya, masyarakat Indonesia harus mulai beradaptasi dengan sistem transportasi modern yang menuntut kepatuhan mutlak pada aturan.

"Perilaku kita itu terhadap suatu sistem yang modern itu kan juga harus berubah," ujarnya.

Iwan juga mengingatkan agar publik tidak membalikkan logika keselamatan dengan menuntut sistem yang menyesuaikan dengan ketidakpatuhan mereka.

Karena itulah, sebagai langkah konkret mencegah terulangnya tragedi serupa, Iwan mendorong pemerintah untuk segera menjalankan regulasi terkait peniadaan perlintasan sebidang secara konsisten. Solusi fisik seperti pembangunan jalan layang (flyover) atau jalan bawah tanah (underpass) menjadi harga mati.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Pakar UGM: Peniadaan Perlintasan Sebidang Jadi Kunci Akhiri Tragedi Beruntun di Rel Kereta

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!