JOGJA - Komisi D DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tengah serius memperkuat payung hukum pengelolaan museum di wilayahnya. Langkah ini diambil guna memastikan museum tidak sekadar menjadi tempat penyimpanan barang antik, melainkan ruang edukasi dan advokasi budaya yang strategis bagi generasi muda.
Hal tersebut mengemuka dalam Kunjungan Dalam Daerah (KDD) Komisi D ke Museum Ullen Sentalu, Pakem, Sleman, belum lama ini. Kunjungan ini difokuskan pada pemantauan pengelolaan, pelestarian, hingga penguatan fungsi kurasi budaya sebagai bahan pengkayaan materi penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang museum.
Ketua Komisi D DPRD DIY, RB. Dwi Wahyu B., menyayangkan minimnya sinergi antarkebijakan saat ini. Ia menekankan bahwa museum seharusnya menjadi pilar utama dalam kurikulum pendidikan non-formal.
Ia juga menyebut bahwa kesadaran sejarah di kalangan anak muda adalah fondasi krusial bagi arah bangsa. Menurutnya, pemahaman masa lalu akan membentuk pandangan hidup yang lebih kokoh di masa depan.
"Keprihatinan kami saat ini adalah belum adanya kolaborasi yang masif antara OPD seperti Dinas Pendidikan, Dinas Kebudayaan, dan Dinas Pariwisata dalam mendukung peran museum. Padahal museum bisa menjadi ruang belajar yang penting bagi generasi muda," ujar Dwi Wahyu.
Wakil Ketua Komisi D, Anton Prabu Semendawai, menambahkan bahwa Raperda yang sedang disusun ini diharapkan mampu mempertegas identitas Yogyakarta sebagai "City of Museum". Ia pun menyoroti perlunya perhatian khusus bagi museum swasta agar dapat terus berkelanjutan.
"Ke depan, kami berharap Raperda ini dapat menjadi payung bagi seluruh museum, baik milik pemerintah maupun swasta, sehingga mampu meningkatkan daya tarik wisata di DIY, tidak hanya destinasi populer seperti Keraton, Tamansari, Borobudur, dan Prambanan, tetapi juga museum dan potensi budaya lainnya," jelas Anton.
Suasana Museum Ulen Sentalu saat dipadati wisatawan. (Olivia Rianjani)
Sementara itu, Kepala Museum Ullen Sentalu, KRHT Daniel Haryodiningrat, menyambut baik inisiatif legislatif tersebut. Menurutnya, Yogyakarta butuh sinergi konkret antara pemerintah, akademisi, dan praktisi museum.
Baca juga: Genangan di Ruas Sentolo - Pengasih Picu Kecelakaan Beruntun, DPRD DIY Minta PU Perbaikan Segera
Ia juga memaparkan konsep living heritage, di mana museum menghidupkan nilai-nilai budaya melalui program interaktif, bukan sekadar memajang koleksi statis.
"Kami berharap kerja sama yang terjalin dapat berjalan secara konkret dan berkelanjutan, sehingga Yogyakarta semakin kuat sebagai kota budaya sekaligus kota pariwisata," ujar Daniel.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung