Pembelajaran matematika pada anak. (Istimewa)
JOGJA - Pelajaran matematika kerap menjadi tantangan bagi siswa sejak bangku sekolah dasar hingga menengah. Penelitian dari University of Eastern Finland yang dipublikasikan di British Journal of Educational Psychology akhir 2023 menemukan bahwa minat dan persepsi kompetensi anak terhadap matematika awalnya positif saat memulai sekolah, namun mulai menurun selama tiga tahun pertama di sekolah dasar.
Fenomena serupa juga terlihat di perguruan tinggi. Data Programme for International Student Assessment (PISA) yang dirilis OECD tahun 2025 menunjukkan skor matematika, literasi, dan sains secara konsisten menurun sejak 2015.
Menanggapi hal ini, Prof. Dr.rer.nat. Indah Emilia Wijayanti, dosen Matematika Aljabar FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM), mengatakan tren penurunan kemampuan matematis mahasiswa sejalan dengan hasil studi tersebut.
"Jika dibandingkan, mahasiswa baru program studi Matematika 5 tahun atau 10 tahun yang lalu memiliki kemampuan berpikir matematis yang lebih mumpuni dibanding sekarang,” ujarnya kepada wartawan, Senin (30/3/2026), terkait peringatan Hari Matematika Sedunia yang jatuh 14 Maret lalu.
Indah menjelaskan, penurunan literasi matematika berkaitan dengan pemahaman siswa sejak sekolah dasar dan menengah, yang kemudian memengaruhi proses belajar di perguruan tinggi.
"Sederhananya, jika di Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah Pertama materi matematikanya berkurang, maka di Sekolah Menengah Atas juga berkurang," jelasnya.
Selain itu, teknologi yang mempermudah pengerjaan soal dan distraksi fokus selama belajar disebutnya menjadi faktor lain penurunan kemampuan matematika generasi sekarang.
"Di sinilah peran pengajar menjadi krusial karena perlu menyajikan pengalaman matematika yang beragam untuk menjaga konsistensi dan fokus para pelajar," kata Indah.
Baca juga: Berusia 44 Tahun, Kosudgama UGM Raup Aset Rp 312 Miliar
Menurut Indah, kunci untuk menguasai matematika tetap sama, yaitu berlatih.
"Dengan berlatih, siswa dan mahasiswa akan mampu meningkatkan kompetensi sendiri, bahkan bisa fokus yang sesuai dengan minat mereka," katanya.
Ia juga menekankan, kebiasaan mengerjakan soal, sekecil apapun, dapat menstimulasi otak dan meningkatkan kemampuan logika.
Namun, membentuk generasi muda dengan budaya sains yang kuat bukan pekerjaan mudah. Indah menegaskan tanggung jawab tidak bisa hanya dibebankan pada pendidik atau keluarga. Regulasi yang mengatur porsi belajar juga berperan.
"Kurikulum seharusnya membebaskan, jangan terlalu dibatasi oleh pemerintah. Kami universitas, seharusnya diberi kebebasan untuk muatannya, turunkan kapasitasnya, sehingga mahasiswa bisa mengeksplorasi bidang yang diminati di luar matematika," jelasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail