Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 11 MARET 2026 • 14:30 WIB

Antisipasi Kemarau Dini 2026, Pemkab Gunungkidul Siapkan Strategi Varietas Padi Cepat Panen Hingga Layanan "Lapor dok"

Antisipasi Kemarau Dini 2026, Pemkab Gunungkidul Siapkan Strategi Varietas Padi Cepat Panen Hingga Layanan Lapor dokBupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih saat hadiri Sarasehan Pertanian yang digelar di Bangsal Sewokoprojo, Wonosari, Rabu (11/3/2026). (Istimewa)

JOGJA - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul mulai menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menjaga ketahanan pangan menghadapi potensi musim kemarau yang diprediksi datang lebih awal pada tahun 2026. Upaya tersebut dibahas dalam Sarasehan Pertanian yang digelar di Bangsal Sewokoprojo, Wonosari, Rabu (11/3/2026).

Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) DIY, Dinas Pertanian dan Pangan DIY, BMKG Yogyakarta, PT Pupuk Indonesia, hingga para penyuluh serta perwakilan petani se-Kabupaten Gunungkidul.

Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mengatakan kesiapan menghadapi musim kemarau perlu dilakukan sejak dini, mengingat sebagian besar wilayah Gunungkidul memiliki karakteristik lahan kering.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, penyuluh, dan petani menjadi kunci agar produksi pangan di daerah tetap stabil meskipun menghadapi tantangan perubahan iklim.

"Pengalaman menghadapi kemarau di tahun-tahun sebelumnya harus menjadi pembelajaran bagi kita untuk menyusun langkah yang lebih baik ke depan," ujarnya.

Lanjut, Endah menyampaikan bahwa Pemkab juga memberikan bantuan tali asih bagi peternak yang kehilangan ternaknya akibat penyakit menular strategis seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Lumpy Skin Disease (LSD).

"Hingga awal tahun ini tercatat 20 kasus kematian ternak. Dari jumlah tersebut, 12 kasus telah diproses untuk mendapatkan bantuan tali asih," kata Endah.

Adapun besaran bantuan yang diberikan bervariasi tergantung kondisi ternak, dengan nilai berkisar antara Rp1,5 juta hingga Rp5 juta per ekor. Dalam kesempatan tersebut, Endah juga menegaskan bahwa sektor pertanian masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian daerah.

Ia mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Gunungkidul saat ini menempati peringkat kedua di Daerah Istimewa Yogyakarta setelah Sleman. Salah satu program yang terus didorong untuk memperkuat ketahanan pangan adalah gerakan Gerbang Pagi (Gerakan Pangan dan Gizi) yang mengajak masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam bahan pangan.

"Nandur opo sing dipangan, mangan opo sing ditandur. Artinya menanam apa yang dimakan dan memakan apa yang ditanam. Ketahanan pangan harus dimulai dari keluarga," tandas Endah.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul Rismiyadi menjelaskan sejumlah strategi teknis telah disiapkan untuk mendukung petani.

Salah satunya adalah mendorong penggunaan varietas padi berumur pendek agar panen dapat dilakukan sebelum ketersediaan air berkurang drastis.

"Kami juga mengimbau petani segera melakukan olah tanah dan memanfaatkan bantuan alat mesin pertanian, seperti combine harvester, untuk mempercepat proses panen dan pascapanen," ujar Rismiyadi.

Baca juga: Soroti Fenomena Sinkhole Muncul di Gunungkidul dan Sumatera Barat, Pakar UGM Ungkap Faktor Manusia Salah Satu Penyebab

Selain itu, dinas juga meminta petani memperbaiki saluran drainase guna mengantisipasi potensi banjir di akhir musim penghujan. Upaya pengendalian hama juga telah disiapkan dengan penyediaan berbagai jenis pestisida.

"Stok pestisida sudah kami siapkan, mulai dari rodentisida untuk tikus, insektisida, hingga fungisida untuk penyakit tanaman," jelasnya. 

Pertanian Surplus

Di tengah tantangan iklim, sektor pertanian Gunungkidul mencatatkan capaian positif dengan surplus produksi pangan. Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Pangan, produksi gabah kering giling pada musim ini mencapai 297.508 ton atau setara sekitar 184.454 ton beras.

Untuk mendukung keberlanjutan produksi tersebut, pemerintah memastikan ketersediaan pupuk bersubsidi tahun 2026 sebanyak 36.539 ton. Alokasi tersebut terdiri dari 19.288 ton pupuk urea, 17.241 ton NPK, 9 ton NPK khusus kakao, serta pupuk organik sekitar 0,3 ton.

"Tata kelola pupuk bersubsidi di Gunungkidul juga mendapat apresiasi dari Kementerian Pertanian dalam beberapa tahun terakhir, terutama dalam pemanfaatan sistem Kartu Tani oleh petani," ucap Rismiyadi.

Di sisi lain, Pemkab Gunungkidul juga mulai mengembangkan layanan berbasis digital di sektor pertanian dan peternakan. Salah satunya melalui aplikasi Si Petani (Sistem Informasi Pangan Terkini) yang menyediakan informasi harga pasar dan agenda Gerakan Pangan Murah secara real-time.

"Selain itu, ada aplikasi Lapor Dok yang memungkinkan peternak melaporkan ternaknya yang sakit atau mati sehingga petugas medis hewan bisa segera melakukan penanganan," imbuh Rismiyadi.

Baca juga: Tekan Inflasi Ramadan, Pemkab Gunungkidul Gelar Operasi Pasar 10 Ton Sembako

Layanan kesehatan hewan juga diperkuat melalui program Si Asih Kangen yang diluncurkan melalui UPT Puskeswan Wonosari yang kini ditingkatkan menjadi Klinik Kesehatan Hewan.

"Program ini menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan hewan, pemberian vitamin, obat-obatan, hingga USG hewan secara gratis," pungkas Rismiyadi. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Di Grup WA

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Antisipasi Kemarau Dini 2026, Pemkab Gunungkidul Siapkan Strategi Varietas Padi Cepat Panen Hingga Layanan "Lapor dok"

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!