Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 13 JANUARI 2026 • 18:15 WIB

62 Kasus Influenza A Subclade K Terdeteksi di Indonesia, Pakar UGM Imbau Waspadai Meski Belum Ada Tanda Evolusi Tidak Biasa

62 Kasus Influenza A Subclade K Terdeteksi di Indonesia, Pakar UGM Imbau Waspadai Meski Belum Ada Tanda Evolusi Tidak BiasaIlustrasi pencegahan virus influenza. (Istimewa)

JOGJA - Sebanyak 62 kasus Influenza A "subclade" K, yang sempat dijuluki sebagai superflu, telah tercatat di Indonesia. Provinsi dengan jumlah kasus terbanyak adalah Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Berdasarkan data whole genome sequencing (WGS), virus ini pertama kali terdeteksi pada Agustus 2025, dan hingga Desember 2025 jumlah kasus mencapai 62.

Meski demikian, virus Influenza A "subclade" K belum menunjukkan peningkatan keparahan. Namun, para ahli mengingatkan potensi virus ini untuk memicu pandemi sehingga tetap perlu diwaspadai. Terbaru, satu orang dilaporkan meninggal dunia di RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung setelah terinfeksi virus ini.

Menanggapi situasi ini, Dosen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM, Tri Wibawa, menegaskan bahwa secara genetik subclade K berbeda dengan virus influenza yang sebelumnya beredar.

"Virus Influenza A "subclade" K secara genetik memiliki perbedaan dengan virus yang sebelumnya bersirkulasi. Meski begitu, subclade K tetap memiliki kekerabatan yang dekat dengan virus flu musiman yang umum dialami masyarakat," ujarnya, Selasa (13/1/2026).

Baca juga: Gara - Gara Diduga Pneumonia, Satu Bayi di Sleman Terdeteksi Super Flu, Dinkes DIY Sebut Belum Ada Vaksin Baru

Tri menjelaskan, para ahli saat ini belum menemukan indikasi adanya evolusi virus yang tidak biasa. Virus ini terus berubah, sebagaimana virus influenza biasanya berevolusi.

"Sejauh ini, tidak ada bukti dari studi laboratorium maupun studi populasi bahwa varian ini dapat menghindari kekebalan tubuh manusia yang terbentuk dari infeksi influenza sebelumnya atau dari vaksin yang telah didapatkan," jelasnya.

Mengenai istilah superflu, Tri menekankan bahwa sebutan ini bukan istilah ilmiah. Berdasarkan bukti yang ada, Influenza A "subclade" K belum menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan virus H3N2 yang telah beredar sebelumnya. Meski demikian, kewaspadaan tetap perlu diterapkan.

"Harus tetap waspada, karena virus influenza H3N2 memang dapat berakibat fatal pada orang yang rentan, seperti lansia," tegasnya.

Lanjut Tri menjelaskan bahwa varian Influenza A "subclade" K mengalami perubahan dari waktu ke waktu akibat sifat materi genetik RNA yang dibawanya. Perubahan genetik kecil ini bisa melahirkan virus-varian baru yang masih berkerabat dekat.

"Dengan perubahan virus yang cepat dan munculnya varian baru yang secara signifikan berbeda, sistem kekebalan tubuh manusia berpotensi menjadi kurang mampu melawan, dan bisa berdampak pada penularan yang lebih cepat," paparnya.

Baca juga: Dinkes Kota Jogja Temukan Kluster Flu Berat Berkepanjangan di Sekolah, Anak - Anak Paling Banyak

Oleh karena itu, Tri menyarankan masyarakat menerapkan etika batuk yang baik, menggunakan masker bagi yang sedang sakit flu, rutin mencuci tangan, beristirahat cukup, dan memastikan ventilasi ruangan memadai. Vaksinasi juga tetap dianjurkan bagi kelompok rentan.

"Vaksinasi tetap dianjurkan untuk kelompok rentan, seperti anak-anak, orang lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronis," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Di Grup WA

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

62 Kasus Influenza A Subclade K Terdeteksi di Indonesia, Pakar UGM Imbau Waspadai Meski Belum Ada Tanda Evolusi Tidak Biasa

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!