Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 17 DESEMBER 2025 • 19:07 WIB

Kunjungi Monjali, Menbud Fadli Zon Saksikan Pahatan Patung Soeharto

Kunjungi Monjali, Menbud Fadli Zon Saksikan Pahatan Patung SoehartoMenteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dalam acara refleksi 77 tahun Agresi Militer Belanda II yang digelar di Museum Monjali, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (17/12/2025). (Istimewa)

JOGJA - Monumen Jogja Kembali (Monjali) diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai penanda sejarah, tetapi juga menjadi ruang publik hidup yang mampu menumbuhkan kesadaran generasi muda tentang perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, khususnya dalam peristiwa Agresi Militer Belanda II.

Hal itu disampaikan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dalam acara refleksi 77 tahun Agresi Militer Belanda II yang digelar di Museum Monjali, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu (17/12/2025).

Fadli mengatakan bahwa pengakuan dunia terhadap Indonesia sebagai sebuah negara tidak diperoleh secara cuma-cuma, melainkan melalui perjuangan panjang dan perlawanan bersenjata di berbagai daerah.

"Dengan adanya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia pada 22 Desember 1948 di Halaban, Sumatera Barat, serta perlawanan gerilya yang dipimpin Jenderal Soedirman di Jawa, termasuk Serangan Umum 1 Maret, Indonesia bisa kembali ke meja perundingan dan tetap eksis sebagai negara,” ujar Fadli.

Menurutnya, rangkaian perlawanan tersebut kemudian berujung pada Perundingan Roem-Royen pada Mei 1949 yang memaksa Belanda menerima Konferensi Meja Bundar.

"Itulah yang akhirnya membuat Belanda menyerahkan kedaulatan, meskipun dalam bentuk Republik Indonesia Serikat," katanya.

Fadli menekankan bahwa kemerdekaan Indonesia sejatinya tidak pernah "diberikan", melainkan diproklamasikan dan dipertahankan melalui pengorbanan darah dan air mata para pahlawan. Oleh karena itu, ia mendorong agar Museum Monjali terus dikembangkan sebagai wadah edukasi sejarah sekaligus ruang kebudayaan yang relevan dengan perkembangan zaman.

"Bukan sekadar tempat mengenang masa lalu, tetapi ruang budaya yang terus hidup dan memberi makna bagi generasi sekarang," tegasnya.

Lanjut Fadli menyampaikan bahwa Kementerian Kebudayaan terus berkolaborasi dengan kementerian lain, pemerintah daerah, sektor swasta, serta komunitas untuk memajukan kebudayaan nasional.

"Di tengah peradaban dunia yang terus berkembang, menjaga budaya adalah tanggung jawab kita bersama. Terlebih Yogyakarta dengan keistimewaan dan kekayaan sejarahnya, kolaborasi menjadi kunci," tuturnya.

Baca juga: Wisatawan Wajib Tahu! Parkir Nataru 2025 Kota Yogyakarta Ditata Ulang, Bus Dialihkan ke Menara Kopi, Ngabean, Kridosono, dan SMPN 3

Pada kegiatan tersebut turut ditampilkan sejumlah patung dan relief sejarah karya para seniman. Salah satunya, seniman patung Yusman, yang menampilkan karya bertema perjuangan nasional. Yusman menampilkan figur Presiden Kedua Republik Indonesia, Soeharto, yang pada masa perjuangan berpangkat Letnan Kolonel dan dinilai memiliki peran penting di lapangan.

Yusman menyebut momen ini terasa istimewa setelah Soeharto resmi dinobatkan sebagai pahlawan nasional.

"Yang utama tentu karena Pak Harto telah diangkat sebagai pahlawan nasional, bersama Pak Gus Dur yang merupakan mertua Pak Edy Wibowo," ujarnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Kunjungi Monjali, Menbud Fadli Zon Saksikan Pahatan Patung Soeharto

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!