Kawasan Malioboro. (Olivia Rianjani)
JOGJA - Paguyuban Becak Motor (Bentor) Malioboro menyatakan kesiapan mengawal jalannya aksi peringatan Hari HAM Sedunia pada 10 Desember 2025 jika dibutuhkan. Mereka berharap demonstrasi yang digelar di kawasan Malioboro, Gedung Agung, hingga Titik Nol tetap berlangsung damai dan tidak menimbulkan kerusuhan yang dapat mengganggu aktivitas ekonomi para pelaku usaha maupun pengemudi bentor.
Ketua Paguyuban Bentor Malioboro, Heru Tengeng, mengungkapkan kekhawatiran para pengemudi terhadap potensi aksi anarkis yang dapat merugikan masyarakat. Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak menolak aksi mahasiswa, LSM, maupun ormas, selama penyampaian aspirasi dilakukan dengan tertib.
"Kami tidak melarang demonstrasi, tapi kami mohon jangan ada aksi bakar-bakaran dan tindakan anarkis. Itu sangat berdampak pada kami yang bekerja mencari nafkah di Malioboro,” ujar Heru, Senin (8/12/2025).
Menurut Heru, pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa aksi yang berujung ricuh membuat wisatawan dan warga enggan datang ke Malioboro, sehingga aktivitas ekonomi menjadi lumpuh. Karena itu, pihaknya siap membantu menjaga ketertiban bila diperlukan.
"Paguyuban Bentor beranggotakan 1.200 orang. Kalau nanti butuh pengawalan, kami siap ikut menjaga agar aksi berjalan damai. Yang penting kami bisa tetap bekerja dengan tenang dan tidak terganggu,” katanya.
Senada, Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Diah Anggraini, mengatakan pihaknya mendukung pelaksanaan aksi Hari HAM selama dilakukan secara tertib. Ia menegaskan bahwa Malioboro merupakan kawasan cagar budaya yang menjadi bagian dari sumbu filosofi Yogyakarta, sekaligus warisan budaya dunia yang wajib dijaga bersama.
"Malioboro bukan hanya milik Yogyakarta, tapi juga Indonesia dan dunia. Karena itu, dalam rencana aksi 10 Desember nanti, mari kita berdiskusi agar penyampaian pendapat tetap menghormati keamanan dan kenyamanan ruang publik,” kata Diah.
Ia menambahkan bahwa kawasan tersebut harus tetap menjadi ruang aman bagi warga maupun wisatawan yang datang.
Tokoh Agama Ingatkan Aksi Dijaga, Ogoh-ogoh Tidak Digunakan
Ketua PHDI DIY I Nengah Lotama turut mengimbau agar aksi dilakukan dengan bijak. Ia menegaskan bahwa kebebasan berpendapat adalah hak warga, namun penyampaian aspirasi tidak boleh mengganggu aktivitas masyarakat lainnya.
"Kami berharap aksi tetap tertib. Dan mohon tidak menggunakan ogoh-ogoh karena itu adalah bagian dari ritual Hindu, khususnya saat tawur agung pada Hari Suci Nyepi,” ujarnya.
Baca juga: Marak Korupsi Pengadaan Barang/Jasa, KPK Luncurkan Fitur e-Audit Katalog V6 Secara Nasional di Jogja
Nengah Lotama mengajak seluruh peserta aksi menjaga suasana Yogyakarta agar tetap damai.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Rilis