Universitas Gadjah Mada (UGM). (Istimewa)
JOGJA - Generasi Z tercatat sebagai kelompok paling aktif memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam aktivitas sehari-hari. Berdasarkan survei terbaru Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025, sebanyak 43,7 persen pengguna AI berasal dari generasi Z, disusul generasi milenial dengan 22,3 persen.
Fenomena ini menunjukkan bahwa teknologi berbasis generative AI semakin melekat dalam keseharian anak muda Indonesia, baik untuk menyelesaikan tugas kuliah, mencari ide kreatif, hingga sekadar berbincang dengan chatbot.
Guru Besar Universitas Gajah Mada (UGM) sekaligus pemerhati rekayasa perangkat lunak, Prof. Ridi Ferdiana, menilai meningkatnya penggunaan AI di kalangan muda merupakan konsekuensi alami dari tumbuhnya generasi digital.
"Generasi Z itu lahir sebagai digital native, sudah dimanjakan teknologi sejak kecil. Generative AI kini menjadi bentuk disrupsi terbesar yang mengubah cara berpikir dan hidup mereka," ujarnya, Rabu (5/11/2025).
Ridi juga menilai, ke depan angka pengguna AI di kalangan muda akan terus meningkat. Di lingkungan UGM saja, katanya, dari total sekitar 60 ribu mahasiswa, sekitar 45 ribu diantaranya sudah memanfaatkan AI dalam kegiatan akademik maupun sehari-hari.
"Kalau trennya seperti ini, saya perkirakan pada 2030 adopsinya bisa mencapai 100 persen," ungkapnya.
Lebih lanjut, menurut Ridi, penggunaan AI sebenarnya membawa dampak positif karena dapat mendorong kreativitas dan membantu proses belajar. Ia mencontohkan fitur guided learning pada beberapa platform generative AI yang mana mampu membantu pengguna memahami konsep, bukan sekadar memberikan jawaban instan.
"AI bisa jadi teman belajar, bukan cuma mesin pencari jawaban mentah-mentah," jelasnya.
Kendati demikian, Ridi mengingatkan agar penggunaan AI tidak dilakukan secara berlebihan. Ia menyebut munculnya fenomena DDA atau "dikit-dikit AI", dimana pengguna terlalu bergantung pada teknologi untuk setiap hal kecil. Kebiasaan ini, lanjutnya, dapat menurunkan kemampuan berpikir kritis, daya ingat, bahkan berisiko menimbulkan efek "brain rot" karena otak jarang diasah.
"Sekarang banyak yang kalau bingung sedikit langsung tanya ke AI. Akibatnya kemampuan critical thinking dan daya ingat menurun,” tegasnya.
Menurutnya, tiap generasi memiliki pola adaptasi berbeda terhadap teknologi. Generasi X dan baby boomers disebutnya sebagai digital immigrant yang masih memandang AI sebatas alat bantu kerja. Sementara generasi Z menjadikan AI sebagai bagian integral dari hidup mereka.
"Kalau bagi generasi X dan baby boomers, AI itu seperti Microsoft Word atau Excel saja. Tapi bagi generasi Z dan milenial, ini sudah masuk ke tahap disruption yang mengubah cara mereka belajar dan berinteraksi," jelasnya.
Baca juga: Satpol PP Sleman Ungkap Banyak SPA di Sleman Diduga Jadi Tempat Prostitusi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail