JOGJA - Empon-empon seperti kunyit, jahe, temulawak, dan kencur telah lama dikenal sebagai tanaman tradisional dengan beragam manfaat kesehatan dan kuliner di Indonesia. Namun, potensi ekonomi dari rempah-rempah ini kerap belum tergarap secara optimal, terutama di daerah pedesaan.
Menyikapi hal tersebut, sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengambil inisiatif untuk memberdayakan masyarakat Dusun Ngalian, Desa Widodomartani, dengan mengolah empon-empon menjadi produk pangan bernilai jual. Kelompok mahasiswa yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) UGM menghadirkan inovasi produk seperti puding instan berbahan kunyit dan permen jeli dari temulawak, jahe, serta kencur.
Tim yang terdiri dari Oxana F.M. Simatupang, Diah Nasywa Wijaya, Gadiza Larasayu Ginantika, Syntia Elsa Manora Simarmata, dan Melati Putri Ramadhani ini dibimbing oleh dosen Mokhammad Fajar Pradipta dan didukung oleh Kemdikbudristek melalui program PKM 2025.
Ketua tim, Oxana, mengungkapkan, ia bersama timnya ingin meningkatkan keterampilan anggota masyarakat dalam mengolah empon-empon menjadi produk siap jual yang inovatif dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
“Produk yang kami hasilkan, seperti puding instan kunyit ‘Pudak Kunir’ dan permen jeli ‘Gendis Empon’, kini menjadi identitas baru dari Dusun Ngalian melalui brand lokal ‘Rempah Lestari’," ujarnya, Senin (20/10/2025).
Sebelumnya, menurut Diah Nasywa, warga setempat memang sudah menanam berbagai jenis empon-empon di pekarangan rumah, namun hasil panennya belum diolah lebih lanjut sehingga belum memberi manfaat ekonomi yang signifikan.
“Melalui program ini, kami bekerja sama dengan PKK Lestari untuk mengubah potensi tersebut menjadi peluang usaha yang nyata,” kata Diah.
Program ini tidak hanya berupa pelatihan pengolahan produk, tetapi juga pendampingan mulai dari penanaman, produksi, pengemasan, hingga pemasaran.
Baca juga: HUT Kota Yogya ke-269, Pameran Rangkaian Bunga IPBI DIY Hiasi Stasiun Tugu
Melati, anggota tim UGM, menjelaskan, setiap anggota PKK Lestari aktif terlibat dari proses awal hingga akhir.
"Kami juga membimbing mereka untuk membuat kemasan yang menarik dan strategi pemasaran digital agar produk bisa dikenal lebih luas," ujar Melati.
Gadiza menambahkan bahwa produk-produk hasil olahan kini telah mulai dipasarkan melalui kerja sama dengan Posyandu Lestari dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sleman, serta merambah platform e-commerce.
"Pendampingan ini diharapkan bisa membantu mitra untuk berkembang dan mandiri secara ekonomi,” tuturnya.
Ketua PKK Lestari, Titik, mengaku sangat terbantu dengan hadirnya program ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail