Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Sabtu, 11 OKTOBER 2025 • 14:10 WIB

Bertamu Lewat Seni: Lapangan Logandeng Hidup oleh Gelaran Olah Rupa FKY 2025

Bertamu Lewat Seni: Lapangan Logandeng Hidup oleh Gelaran Olah Rupa FKY 2025Pembukaan program “Gelaran Olah Rupa” pada Kamis (10/10/2025), di Lapangan Logandeng. (Istimewa (via e-mail))

JOGJA - Lapangan Desa Logandeng, Plembon Kidul, Playen, Gunungkidul, mendadak hidup oleh sentuhan seni. Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2025 resmi membuka program Gelaran Olah Rupa” pada Kamis (10/10/2025), menghadirkan semangat Bertamu Perjumpaan lewat kolaborasi seniman, tokoh adat, dan masyarakat lokal.

Pembukaan berlangsung khidmat. Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, bersama kurator pameran Karen Hardini dan Tomi Firdaus, ko-kurator Ghofur S, serta Lurah Logandeng Suhardi, secara simbolis menancapkan dupa sebagai tanda dimulainya perhelatan.

Acara dibuka dengan pertunjukan Tari Pisungsung dari Sanggar Swastiastuti. Lima penari perempuan naik ke panggung membawa bakul berisi bunga tabur. Iringan musik dan mantra menciptakan suasana sakral, merefleksikan hubungan manusia dengan alam dan Tuhan.

Dalam sambutannya, Dian Lakshmi Pratiwi menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam setiap pergelaran FKY.

“FKY dengan rebranding barunya kini memasuki tahun ketiga. Tahun ini kami hadir di Gunungkidul, dan festival ini harus benar-benar melibatkan masyarakat di mana ia berada,” ujarnya.

Ia menambahkan, Gelaran Olah Rupa bukan sekadar pameran seni visual, melainkan wadah pertemuan gagasan.

Festival ini bukan hanya gebyar tontonan, tetapi kolaborasi ide dan kerja bersama antara seniman, kurator, masyarakat, dan lokasi tempat festival berlangsung,” lanjutnya.

Mengusung tema Bertamu–Perjumpaan”, pameran ini menghadirkan 18 seniman dan tokoh adat yang terbagi dalam sembilan kelompok. Mereka menampilkan karya hasil Residensi Pekan Sowan, proses kolaboratif selama tujuh hari (28 September–5 Oktober) di berbagai wilayah Gunungkidul seperti Logandeng, Giring, Pathuk, Playen, hingga Pantai Siung.

Kurator Karen Hardini menjelaskan bahwa keberadaan pameran di Gunungkidul adalah bentuk kulonuwun, upaya berkenalan dan menyapa ruang baru.

Kami hendak berkenalan dengan Gunungkidul, bukan hanya sekadar datang dan bertamu. Lewat residensi, seniman dan warga berbaur, berproses, hingga lahir negosiasi dan ide-ide baru. Proses itulah yang menjadi ruh Gelaran Olah Rupa,” tuturnya.

Kolaborasi ini mempertemukan berbagai entitas: mulai dari Ikatan Perupa Gunungkidul x Nabila Rahma & Tiang Senja di Giring, Mbah Bambang & Mbah Saido x Survive! Garage di Pantai Siung, hingga Ibu-ibu KWT Ngalang x Kolektif Matrahita di Ngalang. Setiap kelompok mengolah ruang sosial, ekologis, dan kultural sesuai lokus masing-masing.

Bagi seniman muda Nabila Rahma, keterlibatan dalam pameran ini menjadi pengalaman berharga. Ia berkolaborasi dengan para perupa senior dari Gunungkidul dalam satu kelompok.

Menarik sekali karena kami berbeda generasi. Justru dari perbedaan itu muncul percikan ide yang seru seperti kembang api yang indah karena percikannya,” ujarnya.

Baca juga: Tegaskan Bukan Hilangkan Pekerjaan, Alasan Pemda DIY Segera Tertibkan Ribuan Bentor Peralihan ke Becak Kayuh Bertenaga Alternatif

Menurut Nabila, residensi yang mereka jalani mempertemukan cara pandang yang berbeda antara seniman muda dan senior, yang akhirnya melahirkan bentuk karya baru yang lebih reflektif.

Pameran Gelaran Olah Rupa berlangsung di Lapangan Desa Logandeng pada 11–18 Oktober 2025, pukul 10.00–21.00 WIB, dan terbuka untuk umum. Pengunjung tak hanya melihat karya, tetapi juga diajak “bertamu” ke ruang kerja para seniman yang hidup dan terbuka terhadap interaksi publik.

Selain pameran, pada 15 Oktober 2025 akan digelar sesi wicara bertajuk “DAYA SENI DARI DENYUT HIDUP? Catatan Pekan Hunian Seniman FKY 2025”, menghadirkan Matrahita, Lumbung Kawruh, Survive! Garage, dan Ignatius Kendal. Acara ini menjadi ruang refleksi atas proses residensi dan praktik seni yang dijalankan.

Baca juga: Bantu Komunikasi Anak Celebral Palsy Dan Speech Delay, Empat Mahasiswa UGM Ini Ciptakan Aplikasi "Kata Kita" Dilengkapi Fitur AR

Melalui perjumpaan lintas wilayah, generasi, dan disiplin, FKY 2025 mencoba menghadirkan seni bukan sekadar tontonan, melainkan ruang hidup yang tumbuh bersama masyarakat.

Penciptaan karya di sini adalah keberanian untuk menguji kerapuhan artistik. Ruang yang terbuka ini bukan hanya tempat, tetapi sikap keterbukaan terhadap kemungkinan, terhadap sesama, dan terhadap proses yang belum selesai,” pungkas Hardini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Bertamu Lewat Seni: Lapangan Logandeng Hidup oleh Gelaran Olah Rupa FKY 2025

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!