Prof. Bambang Hudayana, Guru Besar Antropologi Fakultas Ilmu Budaya UGM. (Istimewa (via e-mail))
JOGJA - Universitas Gadjah Mada (UGM) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung kemandirian pangan nasional melalui riset dan pemberdayaan masyarakat. Salah satu inisiatif terbaru dilakukan oleh Prof. Bambang Hudayana, Guru Besar Antropologi Fakultas Ilmu Budaya UGM, yang memimpin tim untuk mendampingi para petani di Kabupaten Ponorogo dalam mengolah tanaman porang menjadi berbagai produk kuliner bernilai jual tinggi.
Upaya ini berangkat dari keresahan para petani yang sempat terpukul akibat anjloknya harga porang di pasar ekspor. Untuk mengatasi ketergantungan pada pasar luar negeri, Prof. Bambang dan tim menggagas pelatihan pengolahan porang sebagai bahan pangan lokal yang sehat dan bernilai ekonomi.
“Kalau masyarakat menguasai sistem pengolahan porang, maka porang bisa menjadi makanan sehat, murah, dan bergizi bagi keluarga,” ujar Prof. Bambang saat diwawancarai pada Selasa (30/9/2025).
Pelatihan ini melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari ibu rumah tangga hingga kelompok tani. Mereka diajarkan cara mengolah porang menjadi aneka makanan seperti bakso, dawet, dodol, hingga pecel. Awalnya, masyarakat sempat meragukan keamanan porang karena dianggap gatal dan beracun. Namun, setelah mengetahui teknik pengolahan yang benar, antusiasme pun meningkat.
“Reaksi mereka semula ragu-ragu, tapi setelah dicoba ternyata enak dan menyehatkan,” katanya.
Program ini tidak hanya berhenti pada pelatihan teknis, tetapi juga mendorong terbentuknya inisiatif lokal untuk mengembangkan usaha berbasis kuliner porang. Di sejumlah desa, warga mulai berencana memperluas pelatihan secara mandiri dengan memanfaatkan dana desa.
Menurut Prof. Bambang, hal ini menunjukkan adanya kesadaran baru bahwa porang bukan hanya komoditas ekspor, tetapi juga solusi untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga.
“Kami senang karena program ini murah meriah, tetapi dampaknya besar bagi masyarakat,” ucapnya.
Porang sendiri dikenal sebagai tanaman yang mudah dibudidayakan dan kaya manfaat. Kandungan glukomanan dalam umbinya memiliki khasiat menurunkan kolesterol hingga mendukung program diet. Dengan potensi hasil panen mencapai 60 hingga 80 ton per hektar, tanaman ini menjanjikan keuntungan tinggi bagi petani.
“Bayangkan satu hektar bisa menghasilkan puluhan ton, jauh lebih besar dibanding padi, dan itu bisa mendongkrak pendapatan petani,” jelas Prof. Bambang.
Kendati demikian, pengembangan kuliner berbasis porang masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain stigma negatif masyarakat, minimnya alat pengolahan, keterbatasan dana, hingga akses pasar. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha agar produk-produk olahan porang dapat diterima pasar lebih luas.
“Kalau hanya diekspor, yang menikmati hasilnya orang luar negeri, sementara masyarakat kita sendiri belum merasakan manfaatnya,” tegasnya.
Kegiatan pendampingan di Ponorogo ini juga melibatkan mahasiswa lintas disiplin, termasuk dari bidang antropologi, pertanian, dan teknologi pangan. Dengan demikian, proses pemberdayaan masyarakat menjadi ruang belajar nyata bagi generasi muda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail