JOGJA - Suasana haru dan semangat menyelimuti hari pertama penerimaan siswa baru di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 19 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Senin (14/7/2025). Para orang tua dan siswa menunjukkan antusiasme tinggi menyambut kesempatan pendidikan gratis yang disediakan pemerintah melalui program ini.
Didik (45), seorang buruh supir harian lepas, mengaku sangat bersyukur anaknya bisa mengenyam pendidikan di sekolah ini tanpa biaya.
“Sekolah ini sangat bagus, saya sangat berbangga kepada pemerintah karena kami orang yang kurang mampu, anak kami dapat sekolah di sini gratis lagi. Semua fasilitas disediakan oleh negara,” ujar Didik.
Salah satu orang tua Siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 19 DIY, Didik. (Olivia Rianjani)
Didik juga menjelaskan bahwa proses seleksi siswa dilakukan melalui pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dan pihak sekolah. Setelah mengisi formulir, ia menunggu pengumuman selama lebih dari satu bulan. Ia juga tak keberatan dengan kebijakan pulang dua minggu sekali, selama anaknya diberi semangat dan kesempatan untuk beradaptasi.
"Enggak masalah. Kita beri semangat ke anak. Kita juga diberi tahu boleh jenguk sewaktu-waktu, cuma di jam-jam tertentu yang tidak mengganggu jam pelajaran," ujar salah satu warga Kotagede tersebut.
Hal serupa dirasakan Rubiyem, salah satu wali murid yang juga penyandang disabilitas netra. Dengan penuh semangat, meski dengan keterbatasannya menyandang tuna netra, ia mengantarkan anaknya ke asrama didampingi pendamping PKH yang harus menempuh perjalanan jauh menggunakan mobil.
"Saya sangat terbantu dan merasa ringan. Ini anak saya awalnya enggak mau, tapi lama-lama mau. Meski saya dan suami tuna netra, Alhamdulillah kelima anak saya normal semua," ungkapnya haru.
Terkait pekerjaan saat ini, kata Rubiyem, dalam kesehariannya dirinya sehari-hari menerima pasien pijat bersama suaminya, yang juga tunanetra.
“Saya pengen anak saya mandiri dan mendapat ilmu baru biar bermanfaat di masa depan. Sangat terbantu dan meringankan beban,” kata Rubiyem.
Baca juga: Menilik Sekolah Rakyat 19 Bantul Siap Beroperasi, Satu-Satunya Rombel Terbanyak
Calon siswa baru Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 19 DIY, Dwi Sulistyo (Olivia Rianjani)
Sementara itu, salah satu calon siswa Dwi Sulistyo (16) menyampaikan motivasinya mengikuti program ini. Ia berharap pendidikan di Sekolah Rakyat bisa menjadi jalan keluar dari lingkaran kemiskinan yang selama ini membelenggu keluarganya.
Dirinya bahkan semangat mengumpulkan berkas-berkas pendaftaran yang meliputi KTP, KK, akte, serta Fotocopy tagihan PLN.
“(Selain itu) Persiapannya juga dari mental ya, karena jauh dari orang tua itu berat. Tapi saya niat mau jadi orang sukses dan ingin membanggakan orang tua. Saya juga ingin memutus rantai kemiskinan,” ungkap Dwi.
Sebelum mengetahui tentang SRMA, Dwi awalnya ingin melanjutkan ke SMK umum. Namun, begitu mendapat informasi dari PKH, ia mantap memilih Sekolah Rakyat.
"Karena biayanya sudah ditanggung pemerintah,” ujarnya.
Dwi datang dari keluarga sederhana. Ibunya telah tiada, sementara ayahnya bekerja di sawah dan proyek bangunan. Ia memiliki dua saudara lain yang kini tinggal terpisah bersama kerabat. Karena itulah, Dwi ingin membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak menghalangi impian besar.
"Pertama kali dikasih undangan saya sudah minta izin sama orang tua, sudah bilang saya mau niat, saya mau menjadi orang sukses dan ingin membanggakan kepada orang tua. Dan saya juga ingin memutus rantai kemiskinan. Karena gimana ya ? Kalau orang miskin itu sama orang - orang itu dipandang rendah suka di hina," pungkas Dwi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung