Senin, 20 JULI 2026 • 13:15 WIB

Dorong Transisi Energi Bersih Hingga ke Desa, UGM Sabet Penghargaan Utama di Indonesia Solar Summit 2026

Author

Tenaga surya oleh UGM (Istimewa)

JOGJA - Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali mengukuhkan posisinya sebagai pelopor pembangunan berkelanjutan di Indonesia. UGM berhasil meraih penghargaan Indonesia Solar Award 2026 untuk kategori Educational Institutions/Universities Solar Award dengan predikat Leading University in Supporting Solar Energy Development dari Institute for Essential Services Reform (IESR).

Penghargaan bergengsi tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia bersama CEO IESR Fabby Tumiwa dalam helatan Indonesia Solar Summit 2026 di Bali Beach Convention Center, Sanur, Bali, Selasa (14/7). Perwakilan UGM yang menerima piala penghargaan tersebut adalah Dr. Ir. I Wayan Mustika, S.T., M.Eng., selaku Tim Ahli Solar Panel UGM dari Fakultas Teknik.

Wayan menegaskan bahwa penghargaan ini merupakan bentuk validasi atas konsistensi kampus dalam menghadirkan ekosistem energi bersih yang menyeluruh mulai dari ruang kuliah, laboratorium, hingga implementasi nyata di tengah masyarakat.

"Penghargaan ini menjadi validasi bahwa arah pengembangan UGM menuju kampus yang berkelanjutan sudah berada pada jalur yang tepat," ujar Wayan, Senin (20/7/2026).

Menurutnya, dalam kategori perguruan tinggi, penilaian tidak hanya berfokus pada seberapa banyak panel surya yang dipasang di atap gedung, tetapi juga bagaimana kampus memanfaatkannya untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan kapasitas mahasiswa.

UGM dinilai sukses mengintegrasikan topik energi surya ke dalam kurikulum sarjana hingga magister. Dari sisi riset, para akademisi UGM aktif memublikasikan jurnal internasional terkait teknologi fotovoltaik dan transisi energi. Tak hanya itu, UGM juga memfasilitasi riset tersebut lewat keberadaan living laboratory seperti Engineering Research and Innovation Center (ERIC) dan Paviliun CLT Nusantara.

"UGM juga memiliki fasilitas laboratorium dan living laboratory seperti Engineering Research and Innovation Center (ERIC) dan Paviliun CLT Nusantara yang menjadi sarana pembelajaran sekaligus demonstrasi implementasi energi surya," jelas Wayan.

Di tingkat tapak, kata dia, pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) karya UGM telah disebar melalui berbagai program pengabdian masyarakat di kawasan pedesaan, sektor pertanian, peternakan, hingga fasilitas umum.

Baca juga: Restu Keraton Jogja untuk Veda Pratama dan Mario Aji, Sultan HB X :"Jangan Minder Hadapi Juara Dunia"

Wayan menyebut, keberhasilan menyusun dokumen dan memenuhi kriteria ajang ini dinilai sebagai kerja keras lintas fungsi, mulai dari dosen, tenaga kependidikan Fakultas Teknik, hingga kelompok riset energi terbarukan dengan dukungan penuh pimpinan universitas dan mitra luar.

"Jadi, penghargaan ini merupakan pengakuan terhadap ekosistem yang telah dibangun UGM secara berkelanjutan dan juga merupakan hasil kerja kolektif berbagai unit di Universitas Gadjah Mada," katanya.

Meski meraih apresiasi tinggi, UGM mengakui masih ada tantangan internal yang perlu dibenahi. Salah satunya adalah skema implementasi energi terbarukan (RE) yang sejauh ini masih berjalan secara parsial di masing-masing departemen atau peneliti, sehingga pendataan belum sepenuhnya terintegrasi.

Selain itu, percepatan pengadopsian teknologi energi terbarukan di lingkungan kampus masih tertahan oleh pencarian skema kerja sama investasi yang optimal.

"Dalam hal implementasi energi terbarukan di UGM juga belum bisa berjalan dengan cepat karena investor belum menemukan formula yang saling menguntungkan kedua belah pihak," ungkapnya.

Namun, kendala tersebut tidak menyurutkan langkah UGM. Wayan mengungkapkan bahwa timnya kini membidik target yang lebih tinggi, yakni memperluas porsi pemanfaatan energi terbarukan internal serta membawa rekognisi kampus ke tingkat global.

Menurutnya, transisi energi tidak bisa digarap sendiri, melainkan butuh sinergi antara akademisi, pemerintah, industri, dan publik. Bagi UGM, energi surya adalah bagian dari komitmen mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs).

"Dengan demikian, kampus tidak hanya menghasilkan lulusan dan publikasi ilmiah, tetapi juga solusi yang dapat dimanfaatkan secara langsung untuk mendukung transisi energi nasional," tegas Wayan.

Baca juga: Kisah Fecia, Anak Petani Berpenghasilan Rp 1 Juta Lolos Agronomi UGM Kuliah Gratis

Atas pencapaian ini, UGM turut menyampaikan apresiasi mendalam kepada pihak IESR atas ruang apresiasi yang diberikan kepada institusi pendidikan.

"Penghargaan ini akan menjadi penyemangat bagi UGM untuk terus berkontribusi dalam pengembangan energi surya dan mendukung percepatan transisi energi menuju Indonesia yang lebih berkelanjutan," pungkas Wayan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU