Menteri Wihaji Ungkap Fakta 46 Juta Anak Alami Fatherless :"Jarang Ngobrol tapi Salahkan Anak Ada Mental"
JOGJA - Fenomena fatherless atau hilangnya sosok ayah dalam pengasuhan anak di Indonesia kini berada dalam tahap yang mengkhawatirkan. Hal ini diungkapkan langsung oleh Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, dalam acara dialog "Ngopi Lintas 3 Generasi" di Yogyakarta, Jumat sore (26/6/2026).
Wihaji mengungkapkan data mencengangkan bahwa Indonesia saat ini kehilangan 25 persen sosok ayah dalam struktur keluarga. Angka ini setara dengan puluhan juta keluarga di tanah air.
"Artinya di Indonesia ada 46 juta keluarga yang mempunyai anak umur 10 sampai 24 tahun. Dari jumlah itu, 25 persennya kehilangan sosok ayah," ujarnya.
Dampak dari hilangnya figur ayah ini tidak main-main. Menurut Wihaji, minimnya keterlibatan ayah memicu lonjakan masalah psikologis pada generasi muda. Saat ini, ada sekitar 34 hingga 35 persen anak di Indonesia yang mengalami gangguan kesehatan mental.
"Menakutkannya lagi, setengah dari angka tersebut berpotensi menuju gangguan jiwa berat," bebernya.
"Keluarga Baru" Bernama Handphone
Wihaji menyoroti bagaimana gawai atau handphone (HP) kini telah merebut peran orang tua. Alih-alih berkomunikasi dengan ayah atau ibu, anak-anak jaman sekarang justru menghabiskan waktu 8 hingga 10 jam sehari bersama ponsel mereka.
"Hari ini, ada 'keluarga baru' kita yang mendampingi anak-anak selama 8 sampai 10 jam. Namanya handphone. Kita sebagai orang tua kandung malah cuma ngobrol maksimal 5 sampai 10 menit per hari. Pertanyaannya pun cuma normatif kayak udah makan belum, sudah sholat belum, ada PR enggak," ucap Wihaji.
Ia menyebutkan, tanpa disadari, otak dan cara berpikir anak-anak saat ini tidak lagi dibentuk oleh nilai-nilai keluarga, melainkan oleh algoritma media sosial di gadget. Ironisnya, fenomena ini terjadi merata tanpa mengenal batas wilayah.
"Nggak di desa, nggak di kota, semuanya pegang HP," tegasnya.
Bahkan, Wihaji menyindir realitas sosial saat ini di mana momen kumpul keluarga justru terasa hambar karena semua anggota keluarga sibuk menatap layar masing-masing.
"Makan bareng, tapi pegang HP sendiri-sendiri. Ini riset asli dan tertinggi di Jogja," tuturnya.
Tantangan Pluralisme di Jogja
Tingginya angka gangguan mental dan fenomena salah informasi di Yogyakarta juga dipengaruhi oleh kondisi demografis wilayah tersebut yang sangat plural. Sebagai kota pelajar, Jogja menampung masyarakat dari Sabang sampai Merauke dengan latar belakang yang beragam. Kondisi ini membuat arus informasi termasuk hoaks berputar sangat cepat.
Merespons kahanan (situasi) tersebut, Kota Jogja ditargetkan akan menjadi wilayah percontohan untuk menekan angka fatherless dan memulihkan kesehatan mental keluarga.
Pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta melalui arahan Wali Kota akan menginisiasi program-program intervensi keluarga, salah satunya dengan mendorong para bapak untuk kembali aktif 'berkecimpung' dan hadir secara utuh di dalam rumah.
Baca juga: Dugaan Korupsi Proyek Mesin Susu 2023, Eks Kepala Dinas Koperasi Ngaku Jadi Pihak yang dirugikan
Di akhir pemaparannya, Wihaji memberikan pesan mendalam bagi para orang tua yang sering mengeluh karena anak-anak mereka sulit dinasihati.
"Jaman sekarang kalau menasihati anak jangan salah urus. Menasihati anak itu susah karena kita enggak pernah ngobrol sama mereka. Jadi jangan salahkan anak kita, wong kita sendiri sibuk cari uang. Ngakunya keluarga, beneran keluarga bukan? Karena itu saya berharap, ayo sempatkan ngobrol sama anak. Letakkan sebentar handphone Anda," pungkas Wihaji.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung