Rabu, 17 JUNI 2026 • 18:40 WIB

Ragam Cerita Peserta Mubeng Beteng Jogja Saat Satu Suro 2026 : Ada Atlet Gateball Tuna Netra Hingga Anak Muda Pemburu Makna

Author

Penyandang tuna netra yang turut serta ikuti prosesi adat Mubeng Beteng Kota Jogja, pada Selasa (16/6/2026) malam. (Olivia Rianjani)

JOGJA - Prosesi ritual Tapa Bisu Mubeng Beteng yang digelar oleh Keraton Yogyakarta pada Selasa, 16 Juni 2026 dini hari, berlangsung khidmat dan dipadati ribuan warga. Di tengah lautan manusia yang memadati rute ritual dalam rangka memperingati pergantian tahun baru Jawa, Malam Satu Suro tahun B 1960 tersebut, terselip kisah-kisah inspiratif dari para peserta yang datang dengan latar belakang dan motivasi yang beragam. Mulai dari kelompok penyandang disabilitas, anak muda yang bangga akan tradisi, hingga warga luar daerah yang datang karena penasaran.

Salah satu potret yang paling menarik perhatian yakni kehadiran rombongan penyandang tuna netra yang dipimpin oleh Joko Susanto (40). Bagi Joko dan kelompoknya, ini adalah kali keempat atau kelima mereka mengikuti ritual mengitari benteng Keraton Jogja tanpa berbicara tersebut. Joko dan rombongan diketahui telah tiba di lokasi sejak pukul 19.55 WIB.

"Untuk antusias semuanya kita sangat antusias. Kita sudah keempat atau lima kali ini. Orang-orangnya ini semua. Ada satu yang tapi tidak ikut," ujar Joko saat ditemui di lokasi, Selasa (16/6/2026) dini hari.

Joko menjelaskan bahwa rombongannya malam itu berjumlah enam orang, meski biasanya bisa mencapai tujuh orang. Uniknya, mereka datang dari berbagai sudut wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang berbeda.

"Nah, ini terpecah. Ini dari Jalan Magelang (Sleman), Saya dari Jalan Wonosari (batas Bantul - Gunungkidul), ini Jalan Wates. Terus dua ini Jalan Wates sama yang satunya itu di Jalan Gejayan," katanya.

Mengenai alasan konsistensinya mengikuti tradisi ini, Joko menegaskan bahwa keterbatasan fisik bukan halangan untuk mencintai budaya lokal.

"Mau ikutan melestarikan budaya Jawa karena kami sekalipun keberadaan kita seperti ini, tapi kami merasa bahwa kami bagian dari Yogyakarta," tuturnya.

Bagi Joko dan rekan-rekannya, Mubeng Beteng bukan sekadar ritual berjalan kaki, melainkan momen kolektif untuk mengoreksi diri atas apa yang telah diperbuat selama setahun terakhir. Menurutnya, melakukan refleksi secara bersama-sama membuat perjalanan spiritual yang jauh terasa lebih ringan.

Terhadap persiapannya, Joko mengaku tidak memiliki persiapan khusus selain menyiapkan akomodasi transportasi menuju lokasi. Mereka mengandalkan spontanitas dan kerja sama tim di lapangan. Mengingat banyak jalur di Kota Yogyakarta yang belum sepenuhnya ramah bagi penyandang tuna netra, rombongan ini biasanya sangat bergantung pada pemandu jalan.

"Sebenarnya kita juga tergantung pendamping. Pendamping itu yang paling di depan. Yang jalan paling di depan. Terus nanti kita bergandeng-gandeng gitu sampai kayak kereta ke belakang," jelas Joko.

Namun, Joko menceritakan pengalaman seru sekaligus menantang pada pelaksanaan tahun lalu, di mana mereka terpaksa berjalan sendiri menyusuri rute tanpa adanya pendamping karena kesulitan mencari relawan.

"Cuma kemarin ada pengalaman yang sangat seru, kalau yang tahun kemarin kita tanpa pendamping alias berjalan sendiri. Karena kita sudah berusaha mencari pendamping tapi tidak dapat. Jadi akhirnya ya kita cuma ngikut arus aja," kenangnya.

Baca juga: Momen 80 Abdi Dalem Keraton Yogyakarta Gelar Pelatihan Kesiapsiagaan Kebakaran untuk Abdi Dalem

Beruntung, salah satu rekan di sebelahnya masih memiliki sedikit sisa penglihatan (low vision), sehingga mereka bisa mengikuti pergerakan bayangan orang di sekitar mereka.

"Ini kebetulan ini Bapak (sebelah) masih sedikit melihat. Jadi kalau bayangan orang-orang itu masih kelihatan, jadi kita ngikutnya seperti itu terutama uang," ucap Joko dengan nada bercanda.

Di luar kegiatan budaya, rombongan Joko ini ternyata tergabung dalam satu organisasi olahraga kemasyarakatan yang sama, yakni olahraga gateball.

"Kalau status saya ketuanya," imbuh Joko.

Para pemuda asal Kabupaten Sleman yang turut serta ikuti prosesi adat Mubeng Beteng Kota Jogja, pada Selasa (16/6/2026) malam (Olivia Rianjani)

Nuansa khidmat Mubeng Beteng turut diramaikan oleh antusiasme generasi muda. Surya Herdianto (30), seorang warga Sleman, sengaja datang bersama rekan-rekannya dengan mengenakan pakaian adat khas Yogyakarta yang lengkap.

"Sebenarnya kita baru pertama kali ikut Mubeng Beteng ini sekalian ingin ngajak teman-teman ayo kita ikut pakaian adat sekalian biar keren. Iya, semakin mendalam maknanya," ungkap Surya.

Ia juga menyebut bahwa pakaian adat yang ia kenakan adalah milik pribadi, bukan hasil sewaan.

"Ini punya sendiri," katanya.

Senada dengan Surya, Puput Fikyfendy (30) yang juga warga Sleman sekaligus teman satu kampung Surya, mengungkapkan motivasinya dalam menjaga tradisi malam Suroan ini.

"Nah sekalian jadi sebagai warga Jogja seenggaknya sekali seumur hidup ngikutin tradisi rutin malam suronan buat tradisi Jawa," tutur Fiky.

Menghadapi rute jalan kaki yang panjang di tengah malam, Puput mengaku tidak melakukan persiapan fisik yang rumit.

"Nggak ada (persiapan khusus). Paling persiapan juga tadi, karena tengah malam jadi istirahat dulu aja gitu tadi. Paling itu," ucap Fiky.

Potret warga asal Jepara Jawa Tengah yang turut serta ikuti prosesi adat Mubeng Beteng Kota Jogja, pada Selasa (16/6/2026) malam (Olivia Rianjani)

Daya tarik Mubeng Beteng ternyata tidak hanya memikat warga lokal. Siti Korimah atau yang akrab disapa Noi (47), seorang warga asal Jepara, Jawa Tengah, rela datang jauh-jauh karena dipicu rasa penasaran setelah melihat unggahan video di aplikasi TikTok.

"Baru pertama kali. Pengen tahu terus istilahnya itu, apa itu mubeng ini tuh istilahnya apa gitu lho. Jadi penasaran juga itu," katanya.

Setelah mendapatkan informasi dari media sosial, keinginannya untuk ikut serta langsung menggebu-gebu. Demi totalitas mengikuti ritual, ia bahkan membawa langsung kostum pakaian adat miliknya sendiri dari rumah di Jepara.

"Ini punya saya sendiri," ucap Noi.

Sebagai persiapan jalan kaki sepanjang 5 kilometer itu, ia mengaku beruntung karena memang rutin berolahraga jalan kaki. Siti mengungkapkan bahwa dirinya sudah berada di Yogyakarta sejak seminggu lalu. Awalnya ia berniat untuk bermain dan mengunjungi teman, hingga akhirnya memutuskan ikut serta dalam ritual ini bersama rombongannya.

"Tadi sama temen tapi lagi di mobil sana. Satu mobil isinya tiga orang, ya pakai ini (pakaian adat) semua, nanti ikut," jelasnya.

Baca juga: Mubeng Beteng Malam 1 Suro 2026 di Jogja: Pertama Kalinya Ada Wayangan Karena Alasan Ini dan Doakan Kedamaian Indonesia

Meskipun baru pertama kali, ia mencoba menerjemahkan makna momen Suroan ini sebagai waktu yang baik untuk memanjatkan doa, sesuai dengan wejangan dari para sesepuh yang sempat ia tanyakan.

"Kayanya itu ada manfaatnya layaknya, apa itu istilahnya itu kayaknya nanti itu kayak kalau mau minta apa, kata aku tadi apa itu tadi tanya-tanya ke orang sesepuh gitu. (Biar doanya mujarab) Iya betul. Kan katanya nanti kalau jalan nanti kan gak boleh bicara sama minum atau apa gitu katanya," pungkas Noi.

Adapun acara adat Hajad Kawula Dalem ini dipusatkan di Kagungan Dalem Bangsal Ponconiti, kompleks Keraton Yogyakarta, atas izin dan perkenan Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X melalui Kawedanan Hageng Panitropuro.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wawancara Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU