Senin, 25 MEI 2026 • 13:25 WIB

Belajar dari Ngayogjazz Hingga KKN UGM, Bedah Kunci Sukses City Branding untuk Pendapatan Daerah

Author

Momen mahasiswa KKN UGM bersama warga membersihkan jalur pendakian Gunung Rinjani. (Istimewa)

JOGJA - City branding kini dinilai menjadi instrumen penting bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan perekonomian wilayah melalui penguatan sektor wisata, investasi, hingga perputaran ekonomi lokal. Sejumlah daerah seperti Banyuwangi, Solo, Bali, dan Yogyakarta disebut berhasil mengubah potensi daerah menjadi stimulus ekonomi riil lewat strategi branding yang konsisten.

Hal tersebut mengemuka dalam Workshop Region City Branding yang digelar di Gedung Pusat Desain Industri Nasional (PDIN) Yogyakarta, belum lama ini.

Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., mengatakan keselarasan identitas institusi dengan karakter daerah menjadi faktor penting dalam membangun citra wilayah. Menurut Ova, citra UGM yang dikenal dekat dengan rakyat selaras dengan karakter Yogyakarta yang lekat dengan budaya "ndeso" dan kerakyatan.

"UGM itu identik dengan Jogja, yaitu ndeso. Melalui KKN, UGM menjadi dekat dengan masyarakat. Bagi anak-anak di remote area yang ingin bersekolah di UGM karena termotivasi mahasiswa KKN, itu merupakan sebuah marketing yang secara tidak langsung dari UGM untuk menarik orang ke Yogyakarta," ujar Ova.

Ia menilai program Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama ini bukan hanya menjadi pengabdian masyarakat, tetapi juga instrumen pemasaran tidak langsung yang memperkuat citra Yogyakarta hingga ke tingkat akar rumput.

Selain itu, Ova juga menyoroti fenomena pelarian talenta atau brain drain dari daerah menuju kota-kota besar. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai magnet talenta sekaligus penguat daya saing daerah.

Ia menawarkan skema kolaborasi kurikulum antarperguruan tinggi sebagai solusi untuk mempertahankan sumber daya manusia unggul di daerah.

"Kerja sama kurikulum melalui double degree antara universitas lokal dengan universitas ‘sudah mapan’ dapat menjadi jalan keluar. Selain itu, perguruan tinggi di daerah harus mampu merancang proyek-proyek lokal yang unik untuk menarik dan mempertahankan talenta terbaik di wilayahnya masing-masing," jelasnya.

Sementara itu, inisiator Jogja Istimewa, Arief Budiman, menilai tantangan terbesar dalam eksekusi city branding di pemerintahan terletak pada sinkronisasi ide kreatif dengan proses birokrasi dan penganggaran.

Baca juga: Update Pembacokan Maut di Kridosono Jogja : Motif Pelaku Geng Vozter Buat Jaga Wilayah Ternyata Korban Salah Sasaran, 4 Orang DPO

Menurutnya, branding daerah tidak cukup hanya berhenti pada slogan atau identitas visual, tetapi harus diwujudkan melalui program konkret yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

"Branding itu adalah tata kelola potensi unggulan. Harus ada program nyata yang menyertai agar brand tersebut memiliki makna dan terbukti secara konkret," katanya.

Lanjut Arief menambahkan, peran Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) sangat penting untuk memastikan city branding mampu menciptakan nilai tambah yang berdampak pada peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).

Dalam kesempatan yang sama, Board of Creative Ngayogjazz, Ajie Wartono, mengungkapkan bahwa kekuatan utama event daerah terletak pada kemampuan menggali nilai sejarah dan kehidupan sosial masyarakat setempat.

Ia mencontohkan keberhasilan festival Ngayogjazz yang sejak 2007 rutin berpindah-pindah desa dan melibatkan warga secara langsung dalam pengelolaannya.

"Ngayogjazz itu memakai ruang hidup yang sudah ada aktivitas sosial kemasyarakatannya, bukan memakai ruang mati. Tantangannya adalah bagaimana kita mengelola ruang tersebut bersama warga. Kami memicu mereka dengan mendatangkan acara, dengan seluruhnya dikelola desa dan masuk ke kas desa," ungkap Ajie.

Baca juga: UGM Gandeng Kemenpora, Siapkan Kampus Jadi Pusat Sport Science Nasional

Menurutnya, banyak desa sebenarnya memiliki potensi besar, namun belum mampu mengemasnya menjadi identitas yang menarik bagi publik, khususnya generasi muda.

"Masih banyak desa-desa yang tidak sadar kalau mereka memiliki potensi. Oleh karena itu, perlu kita arahkan untuk membuat branding desa yang khas, misalnya Badui di Lebak, tagline kegiatannya bisa diambil dari hal di desa itu," pungkas Ajie.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU